Berita

Pos pemeriksaan militer Myanmar di jalan menuju kompleks kongres di Naypyitaw pada 1 Februari 2021/Net

Dunia

Jepang: Kudeta Militer Myanmar Bisa Menambah Pengaruh China Di Kawasan

SELASA, 02 FEBRUARI 2021 | 17:57 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Negara-negara demokrasi harus membantu Myanmar untuk keluar dari ketegangan politik akibat kudeta yang dilakukan oleh militer. Jika tidak, Myanmar akan semakin jauh dari demokrasi dengan semakin dekat ke pelukan China.

Begitu yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Yasuhide Nakayama dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Selasa (2/2).

"Jika kita tidak melakukan pendekatan ini dengan baik, Myanmar dapat tumbuh lebih jauh dari negara-negara demokratis yang bebas secara politik dan bergabung dengan liga China," ujar Nakayama.


Sebagai salah satu negara yang memiliki hubungan dekat dengan Myanmar, Jepang telah menyerukan pembebasan pemimpin negara Aung San Suu Kyi dan pemulihan demokrasi.

Lebih lanjut, Nakayama mengatakan, setiap langkah untuk menangguhkan program kemitraan Jepang dengan militer Myanmar dapat mengakibatkan China memenangkan lebih banyak pengaruh, yang berpotensi merusak keamanan di kawasan.

"Jika kita berhenti, hubungan militer Myanmar dengan tentara China akan semakin kuat, dan mereka akan semakin jauh dari negara-negara bebas termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris. Saya pikir itu akan menimbulkan risiko bagi keamanan kawasan," jelas Nakayama.

Sejak 2014, kementerian pertahanan Kepang telah melatih perwira militer Myanmar. Kedua negara juga memiliki program pertukaran akademik, di mana delapan kadet dari militer Myanmar saat ini belajar di Akademi Pertahanan Nasional Jepang.

Sebagai bagian dari upaya untuk menahan pengaruh China yang tumbuh di Laut China Selatan dan Samudra Hindia, Jepang telah memfokuskan pada dukungan pembangunan kapasitas dengan negara-negara ASEAN sebagai bagian dari strategi keamanannya dalam beberapa tahun terakhir.

Pada Senin dini hari (1/2), militer Myanmar menahan Aung San Suu Kyi dan pejabat partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Militer kemudian mengumumkan pengambil alihan kekuasaan dan memberlakukan keadaan darurat selama satu tahun.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya