Berita

Sejumlah orang berjalan di tengah taman di cuuaca dingin dengan tetap mengenakan masker di Korea Selatan/Net

Dunia

Pakar Kesehatan Ragukan Target Herd Immunity Covid-19 Korsel

SELASA, 19 JANUARI 2021 | 23:36 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Korea Selatan merupakan negara yang banyak dipuji secara internasional karena dinilai cukup cekatan dalam menangani pandemi Covid-19.

Meski begitu, sejumlah pakar medis di negeri ginseng menilai bahwa pemerintah Korea Selatan tidak mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuannya yakni herd immunity, alias kekebalan kawanan terhadap virus corona melalui vaksinasi massal yang dicanangkan hingga setidaknya bulan November tahun ini.

Pasalnya, sejumlah ahli menilai bahwa pemerintah Korea Selatan gagal mengamankan cukup vaksin dan juga lamban melatih staf untuk penyimpanan, distribusi dan inokulasi.


Bahkan, mereka juga menilai bahwa garis waktu pemerintah yang menyerukan vaksinasi sejumlah kelompok prioritas pada Februari mendatang dan target 32 hingga 36 juta orang divaksinasi pada September mendatang tidak mungkin berhasil pada kecepatan saat ini.

Salah satu ahli yang menyuarakan keraguan itu adalah mantan direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) Jun Byung-yool. Dia mengatakan bahwa untuk mencapai target tersebut, pemerintah Korea Selatan membutuhkan 4.000 dokter untuk menemui setidaknya 400 ribu orang setiap hari.

"Pemerintah telah memerintahkan setiap pemerintah daerah untuk mengamankan tenaga mereka sendiri, tetapi daerah pedesaan akan sangat kekurangan tenaga medis dan infrastruktur untuk melakukan vaksinasi," kata Jun.

"Secara realistis tidak mungkin memvaksinasi 400 ribu orang sehari," sambungnya, seperti dikabarkan Channel News Asia pada Selasa (19/1).

Pakar lainnya, yakni Choi Jae-wook dari Asosiasi Medis Korea mengatakan dia skeptis bahwa kekebalan kawanan akan tercapai pada November nanti karena jadwal kedatangan vaksin yang tidak jelas dan karena sekitar 250 klinik kesehatan masyarakat di seluruh negeri tidak akan cukup untuk memberikan suntikan vaksin.

"Pemerintah hanya mengeluarkan jadwal kedatangan triwulanan yang ambigu. Vaksin yang membutuhkan cold chain storage memerlukan cara penanganan yang spesifik, tapi persiapannya tidak bisa dilakukan," kata Choi.

Selain itu, seorang profesor penyakit menular di Gachon University Gil Medical Center Eom Joong-sik menyebut bahwa memvaksinasi lansia dengan kondisi kesehatan tertentu akan jadi masalah lainnya karena perlu ada tindakan khusus yang diambil.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in sendiri pada awal pekan ini berupaya untuk meyakinkan publik mengenai target pemerintah tersebut.

"Saya pikir kami akan mencapai kekebalan kawanan penuh paling lambat November," kata Moon dalam sebuah konferensi pers.

Sejauh ini, Korea Selatan sendiri diketahui telah mengamankan 106 juta dosis vaksin Covid-19 untuk memungkinkan cakupan 56 juta orang. Jumlah ini lebih banyak daripada populasi Korea Selatan itu sendiri yakni sekitar 52 juta orang.

Korea Selatan mengamankan vaksin dari empat produsen berbeda, yakni AstraZeneca, Pfizer, Johnson & Johnson's Janssen, Moderna dan skema pembagian vaksin WHO COVAX.

Sementara itu, otoritas kesehatan Korea Selatan mengakui bahwa memang ada rintangan besar dalam hal vaksinasi dan kekebalan kawanan. Namun mereka yakin bahwa jadwal yang mereka buat telah didasarkan pada kebutuhan untuk belajar dari program vaksin di negara lain.

"Perkiraan ukuran pusat vaksinasi dan tenaga kerja dapat bervariasi tergantung pada ukuran populasi kota, kabupaten atau distrik," kata direktur KDCA Jeong Eun-kyeong.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

PKB Merawat NU Tanpa Campuri Urusan Internal

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:01

Polisi: 21 Karung Cacahan Uang di TPS Liar Terbitan BI

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:56

Seskab: RI Belum Bayar Iuran Board of Peace, Sifatnya Tidak Wajib

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:51

Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Sejalan Capaian Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:46

Amdatara Gelar Rakernas Perkuat Industri Air Minum Berkelanjutan

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:30

Mahfud Sebut Sejarah Polri Dipisah dari Kementerian Hankam karena Dikooptasi

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:14

AHY Optimistis Ekonomi Indonesia Naik Kelas

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:13

Gaya Komunikasi Yons Ebit Bisa Rusak Reputasi DPN Tani Merdeka

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:08

Juda Agung Ngaku Mundur dari BI karena Ditunjuk Prabowo Jadi Wamenkeu

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:05

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

Kamis, 05 Februari 2026 | 17:04

Selengkapnya