Berita

Pengamat Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga/RMOL

Politik

Pemerintah Disarankan Tunggu Hasil BPOM Dan MUI Sebelum Vaksinasi Covid-19

KAMIS, 07 JANUARI 2021 | 18:31 WIB | LAPORAN: DARMANSYAH

Ketidakpastian informasi vaksin virus corona baru (Covid-19) membuat sebagian masyarakat khawatir untuk divaksin. Memang sudah banyak informasi terkait vaksin Covid-19 yang disampaikan pemerintah.

Bahkan Presiden Joko Widodo sudah berulangkali menyampaikan vaksinasi Covid-19 aman dilakukan. Untuk itu, presiden menjanjikan akan menjadi orang pertama yang divaksin.

Kemudian akan diikuti para petinggi negeri. Bahkan disampaikan juga ancaman denda Rp 5 juta bagi masyarakat yang tidak mau divaksin.


Menanggapi hal itu, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga mengatakan bahwa semua informasi vaksin Covid-19 tersebut belum cukup untuk meyakinkan sebagian masyarakat untuk divaksin.

"Bahkan ada yang menyatakan lebih baik membayar denda daripada divaksin," kata Jamiluddin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (7/1).

Jamiluddin mengatakan, penolakan vaksin itu terjadi karena informasi yang dibutuhkan masyarakat terkait vaksinisasi belum mereka peroleh.

Sementara pemerintah terus menerus mengkampanyekan vaksin tersebut.

Padahal menurut Jamiluddin, yang dibutuhkan masyarakat yang menolak vaksin hanya dua hal.

Pertama, ada izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 produksi Sinovac. Namun hingga saat ini BPOM belum mengeluarkan izin tersebut.

Kedua, sertifikat halal dari MUI atau pihak yang diberi otoritas. Lagi-lagi hal ini belum ada.

"Jadi, seintensif apapun kampanye vaksinisasi Covid-19 yang dilakukan pemerintah akan sulit diterima sebagian masyarakat bila belum ada informasi tentang EUA dari BPOM dan surat keterangan halal dari MUI," ujar Jamiluddin.

Sebab, lanjut Jamiluddin, dua informasi tersebut yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu, pemerintah sebaiknya menunggu dua informasi tersebut baru dilakukan vaksinasi.

"Dengan begitu, masyarakat secara sukarela mau melaksanakan vaksinasi," ucap Jamiluddin.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya