Berita

Rumah yang jadi tempat perampokan sadis di Pulomas/Net

Publika

The Untold Stories, Mengenang 4 Tahun Kasus Perampokan Pulomas

MINGGU, 27 DESEMBER 2020 | 09:30 WIB | OLEH: MEGA SIMARMATA

EMPAT tahun yang lalu pada tanggal ini, tepatnya pada hari Selasa 27 Desember 2016, sebanyak 11 orang korban perampokan yang disekap dalam sebuah kamar mandi sempit tanpa ventilasi udara berhasil di evakuasi.

Perampokan itu dikenal dengan nama Perampokan Pulomas.

Empat orang perampok menyantroni rumah Ir Doddy Triono pada hari Senin 26 Desember 2016 jam 15.00 sore.


Keempat perampok itu adalah Ramlan Butar Butar alias Kapten, Yus Pane, Erwin Situmorang dan Alfin Sinaga.

Seluruh penghuni rumah yang berjumlah 11 orang dikurung dalam kamar mandi berukuran 1 meter X 1 meter tanpa ventilasi udara. Kamar mandi itu dikunci dari luar oleh perampok tersebut. Lalu lampu dimatikan, sehingga mesin hexos untuk pertukaran udara dalam kamar mandi tersebut ikut mati.

Setelah selama 17 jam tersekap, akhirnya ke 11 orang korban berhasil dievakuasi dari dalam kamar mandi.

Itupun harus mencari dulu mesin gergaji listrik untuk mendobrak pintu kamar mandi karena pintu tidak bisa dibuka akibat terganjal 6 jasad yang tewas didalam kamar mandi.

Tiga polisi yang berperan sangat besar dalam pengungkapan dan penangkapan para pelaku perampokan Pulomas tahun 2016 tersebut, yaitu Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Rudi Heriyanto Adi Nugroho, Kapolred Jakarta Timur Kombes Muhammad Agung Budijono dan Kapolres Depok Kombes Herry Heriawan (Herimen).

Dari ketiga sosok polisi yang begitu besar jasanya dalam pengungkapan kasus perampokan Pulomas, Kombes Agung Budijono yang saat itu menjabat sebagai Kapolres Jakarta Timur sangat dihargai dan dikenang sebagai sosok yang begitu baik hati oleh Pihak Keluarga Korban.

Khususnya Keluarga Almarhum Ir Doddy Triono.

Saat perampokan itu terjadi, 3 orang sekaligus tewas dari keluarga ini yaitu Ir Doddy Triono dan 2 anak perempuannya Diona Arika dan Gemma.

Sedangkan 1 lagi anak perempuan Doddy Triono bernama Zanette Kalila (Anet), berhasil bertahan hidup.

Zanette adalah tuna rungu karena bawaan dari lahir. Tapi anak ini berhasil bertahan hidup karena ia nekat meminum air kloset. Sebab kamar mandi tempat mereka disekap gelap gulita dan panas luar biasa tak ada ventilasi udara.

Begitu seluruh korban berhasil dievakuasi, Anet dilarikan ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan.

Tapi setelah Anet berada di rumah sakit, ia teringat pada kucing kesayangan keluarga mereka yang bernama Memong.

Setelah terjadi perampokan di rumah Doddy Triono, kucing Persia ini tidak keliatan.

Akhirnya Shapirra (ibu dari Diona, Anet dan Gemma), menelpon Kapolres Jakarta Timur Kombes Muhammad Agung Budijono untuk meminta tolong agar polisi membantu mencarikan kucing tersebut.

Kombes Agung Budijono bersama anak buahnya langsung melaksanakan permintaan Shapirra.

Kucing itu dicari di semua sudut rumah TKP. Dan ternyata sembunyi di bawah kursi sofa.

Oleh karena pemiliknya masih dirawat di rumah sakit, polisi menitipkan kucing itu di sebuah rumah dekat TKP dan memberi sejumlah uang kepada penjaga rumah itu agar kucing itu diberi makan.

Tak berhenti sampai di situ, ternyata Kombes Agung Budijono selaku Kapolres Jakarta Timur dihubungi lagi oleh Shapirra, ibu dari ketiga korban.

Shapirra mengabarkan pada Kombes Agung bahwa ia sekeluarga, terutama Anet (korban yang berhasil bertahan hidup) ingin bertemu dengan para perampok.

Kombes Agung mengabulkan permintaan itu dan saat keluarga korban tiba di Mapolres Jakarta Timur, polisi mendampingi.

Anet menangis meraung-raung dan histeris begitu melihat para perampok yang sudah membunuh ayah, kakak dan adiknya.

Lalu Anet mengatakan pada Kombes Agung Budijono, "Boleh aku pukul Om?”.

Anet ingin memukul perampok-perampok itu.

Kombes Agung menjawab, “jangan Anet, Anet jangan pukul mereka. Nanti biar Om yang pukul mereka ya".

Tangisan Anet makin mengeras dan ia berteriak makin kencang.

"Kenapa kamu bunuh papaku? Apa kamu tidak diajari orang tua kamu untuk berbuat baik?" kata Anet dengan sangat lugu.

Yus Pane, salah seorang perampol, bersujud di kaki Anet meminta maaf.

Ternyata, tak cuma keluarga Doddy Triono yang datang ke Mapolres Jakarta Timur.

Kombes Agung Budijono juga mengizinkan Egha, pacar Almarhum Diona, dan sahabat sahabat Diona lainnya, untuk bertemu dengan Yus Pane.

Dari ke 4 perampok, Yus Pane adalah perampok yang menjambak rambut Almarhum Diona, menendangi dan memukuli kepala Diona memakai gagang pistol sampai berkali-kali. Kemudian menyeret Diona dari lantai 3 rumahnya (karena kamar Diona ada di lantai 3), ia diseret ke lantai dasar olen Yus Pane untuk dimasukkan juga ke dalam kamar mandi.

Kombes Agung selaku Kapolres Jakarta Timur mengizinkan pacar dan sahabat-sahabat Diona datang menemui pembunuh Diona.

Egha, pacar Diona, menangis sambil berteriak marah dan memukul keras ke wajah Yus Pane.

"Kenapa lu bunuh cewek gue?” teriak Egha dengan sangat marah.

Begitu juga sahabat-sahabat Diona lainnya yang kala itu datang ke Mapolres Jakarta Timur, mereka memaki maki Yus Pane yang begitu keji memperlakukan Diona hingga tewas.

Tanpa terasa, saat ini sudah 4 tahun berlalu.

Kombes Rudi Heriyanto Adi Nugroho selaku Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya yang memimpin penanganan kasus perampokan Pulomas, di bulan Desember 2020 ini baru saja dipromosi menjadi Kapolda Banten.

Sedangkan Kombes Agung Budijono yang kala itu menjadi Kapolres Jakarta Timur, saat ini menjabat sebagai Wakapolda Kalimantan Selatan.

Lalu, Kombes Herry Heriawan (Herimen) yang saat itu menjabat sebagai Kapolres Depok, saat ini menjabat sebagai Direktur Sidik Densus 88 Anti Teror.

Mengenang 4 tahun tragedi perampokan Pulomas, menyisakan sebuah rasa yang tak terhapus hingga saat ini di relung hati.

Dan rasa yang tak terhapus itu bernama pilu yang teramat pilu.

Penulis adalah wartawan senior


Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya