Berita

Sekjen Kornas Jokowi Akrom Saleh Akieb/Net

Politik

Indonesia Terancam Krisis Multidimensi, Kornas Jokowi Desak Presiden Segera Reshuffle Kabinet

SENIN, 14 DESEMBER 2020 | 08:02 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Desakan agar Presiden Joko Widodo segera melakukan reshuffle kabinetnya terus bermunculan dari masyarakat. Bahkan, desakan ini juga datang dari relawan pendukungnya sendiri.

Seperti Komite Rakyat Nasional (Kornas) Jokowi, yang menilai kinerja jajaran Kabinet Indonesia Maju terkesan lamban. Terutama dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Padahal, menurut perkiraan Badan Pusat Statistik (BPS), ada 29 juta orang telah jadi pengangguran akibat dampak dari Covid-19 yang belum terkendalikan hingga saat ini.


"Melihat kondisi kekinian dan melihat situasi nasional kian hari tak menentu, krisis multidimensi tak dapat lagi dihindarkan. Untuk itu meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk segera mengambil langkah-langkah nyata," tegas Sekretaris Jenderal Kornas Jokowi, Akhrom Saleh Akieb, Minggu (13/12).

Akhrom meminta Presiden Jokowi untuk memimpin langsung mengatasi krisis multidimensi, sehingga kebijakan atau keputusan terarah satu komando, yakni hanya ada di tangan Presiden selaku kepala negara.

"Presiden harus meninjau kembali Kabinet Indonesia Maju yang kinerjanya jauh panggang daripada api. Terlebih lagi kabinet Indonesia Maju bukannya membantu presiden melainkan hanya menyusahkan saja," ucapnya, dikutip Kantor Berita RMOLBanten.

Desakan untuk reshuffle makin kuat akibat aksi korupsi yang menjerat Menteri KKP Edhy Prabowo dan Mensos Juliari Peter Batubara.

"Mereka terkesan hanya mementingkan diri pribadi, golongan, dan kelompok saja, bukan memikirkan kepentingan bangsa dan negara," ujarnya.

Kejadian tersebut, kata Akhrom, telah menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan, khususnya kepada Presiden Jokowi.

Karena itulah, Kornas Jokowi meminta kepada Presiden untuk segera mengambil langkah perombakan kabinet kepada menteri-menteri yang kinerjanya tidak memuaskan.

"Karena reshuffle kabinet suatu keniscayaan dalam menghadapi kondisi objektif negara dan pemerintah pada saat ini," tuntasnya.


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya