Berita

Penggunaan istilah islamofobia dalam sejumlah isu perlu diperhatikan/Net

Dunia

Pengamat HI: Hati-hati Gunakan Istilah Islamofobia

SELASA, 24 NOVEMBER 2020 | 08:10 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Penggunaan istilah "islamofobia" terhadap isu-isu yang terjadi belakangan ini di Eropa perlu digunakan dengan hati-hati.

Bahkan pengamat ilmu hubungan internasional dari Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Yohanes Sulaiman menyebut, penggunaan istilah tersebut tidak tepat digunakan terhadap fenomena yang terjadi beberapa waktu terakhir.

Yohanes menuturkan, islamofobia adalah ketakutan yang tidak masuk akal, di mana satu kelompok atau negara mendukung aksi untuk menyerang agama Islam.


Dalam hal ini, menurut Yohanes, ismamofobia merupakan istilah yang sangat radikal dan ekstrem, sehingga dapat menutup kesempatan semua pihak untuk mengerti akar permasalahan.

"Saya tidak temukan itu di Prancis, Inggris, Amerika Serikat, atau Australia," kata Yohanes dalam RMOL World View bertajuk "Islamofobia, Masihkah Jadi Pekerjaan Rumah Dunia?" pada Senin (23/11).

Meski begitu, Yohanes tidak mengesampingkan adanya fenomena takut pada Islam di Eropa yang disebabkan oleh banyak faktor, seperti pengungsi dan teroris.

Di Hongaria, ia menyebut, Perdana Menteri Viktor Orban terbukti tidak menyukai Islam.

Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump melarang pengungsi atau warga dari negara mayoritas Muslim untuk masuk ke Amerika.

"Dia memang memainkan suku agama, tapi saya tidak melihat itu islamofobia," ucap Yohanes.

Jika merujuk pada isu yang terjadi di Prancis, Yohanes menjelaskan, islamofobia terjadi di sana. Pasalnya, Prancis banyak menerima pengungsi dari negara-negara mayoritas Muslim seperti Suriah.

"Menurut saya, bukan ide bagus untuk menetapkan ini sebagai islamofobia," tandasnya.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya