Berita

Presiden Erdogan/Net

Dunia

Erdogan: Retorika Anti-Muslim Dijadikan Alat Dari Politisi Barat Untuk Tutupi Kegagalan Mereka

RABU, 21 OKTOBER 2020 | 06:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggaungkan kembali kritiknya terhadap rencana Presiden Prancis Emmanuel Macron yang telah membuat undang-undang yang dikatakannya untuk membendung separatisme Islam. Pernyataan itu disampaikan Erdogan dalam sebuah pidato yang direkam untuk KTT Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada Selasa (20/10).

Dalam pidatonya, Erdogan mengkritik inisiatif Macron untuk mereformasi Islam, dengan mengatakan bahwa dia menggunakan krisis yang menjadi tanggung jawab negaranya sebagai alasan untuk menyerang agama tersebut.

“Tujuan utama dari inisiatif yang dipimpin oleh Macron adalah untuk menyelesaikan masalah lama dengan Islam dan Muslim,” kata Erdogan, seperti dikutip dari Daily Sabah, Selasa (20/10).


"Mereka yang terusik dengan kebangkitan Islam, menunjukkan krisis yang mereka ciptakan sendiri sebagai alasan untuk menyerang agama kami. Retorika anti-Muslim, Islam saat ini adalah alat yang paling berguna dari politisi Barat untuk menutupi kegagalan mereka sendiri," lanjutnya.

Pekan lalu, Macron berpendapat bahwa 'separatisme Islam' bermasalah, dan menambahkan bahwa: "Masalahnya adalah ideologi yang mengklaim hukumnya sendiri harus lebih unggul dari yang ada di Republik."

Pada 2 Oktober, Macron meluncurkan undang-undang baru, yang isinya antara lain akan memperpanjang larangan lambang agama, juga kebebasan bagi wanita Muslim yang mengenakan jilbab atau kerudung. Negara bagian juga akan memiliki kekuasaan untuk mengambil langkah di mana otoritas lokal membuat konsesi yang tidak dapat diterima bagi Muslim, katanya, mengutip 'menu religius' di kantin sekolah atau dibuatkan akses terpisah antara murid laki dan murid perempuan di kolam renang.

RUU tersebut juga mengusulkan pembatasan homeschooling untuk menghindari anak-anak 'diindoktrinasi' di sekolah yang diduga menyimpang dari kurikulum nasional.

RUU tersebut diharapkan akan dikirim ke parlemen awal bulan ini.

Pidato Macron tersebut dikecam secara luas oleh Muslim Prancis karena khawatir RUU itu, yang akan diajukan ke parlemen pada bulan Desember, dapat memicu penyalahgunaan hak-hak mereka.

Dalam RUU tesebut juga disebutkan bahwa beberapa organisasi non pemerintah (LSM) atau organisasi yang 'bertindak melawan hukum dan nilai-nilai negara' mungkin akan ditutup atau menghadapi audit keuangan yang ketat.

Ini telah memicu kritik, dengan beberapa perwakilan komunitas Muslim menggambarkan langkah tersebut sebagai Islamofobia dan diskriminatif.

Menyinggung istilah populer baru-baru ini seperti 'Islam Prancis, Islam Eropa, dan Islam Austria', Erdogan mengatakan bahwa istilah tersebut adalah contoh terbaru dari upaya serangan terhadap Islam dan Muslim.

"Ada upaya untuk menciptakan profil warga Muslim agar tidak bersuara, tetap diam terhadap kekejaman, penakut, dan sederhana," ungkap Erdogan.

Prancis memiliki umat Muslim terbesar di Eropa, diperkirakan jumlahnya mencapai 5 juta atau lebih dari populasi total 67 juta jiwa.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Korea Selatan Diisukan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Jumat, 04 September 2026 | 14:18

Purbaya Pamer Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen Tanpa Naikkan Tarif

Jumat, 04 September 2026 | 13:59

Target Lifting 2027 Diproyeksi Tercapai, Sumur Rakyat Jadi Penopang

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Prabowo Tawarkan 138 Blok Energi Indonesia kepada Investor Rusia

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Gus Kikin Mulai Susun Kepengurusan PBNU di Hari Perdana Ngantor

Jumat, 04 September 2026 | 13:31

Label “No Pork, No Lard” Tak Otomatis Berarti Halal

Jumat, 04 September 2026 | 13:20

Kenaikan Tarif Masuk Ragunan Masih Ramah di Kantong

Jumat, 04 September 2026 | 13:12

Legislator Soroti Anggaran Pemulihan Kantor DPRD NTB-Sulsel Pasca Demo Agustus 2025

Jumat, 04 September 2026 | 13:08

Pembangunan Dapur MBG Pakai APBN Jangan Jadi Beban Negara

Jumat, 04 September 2026 | 13:06

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga Eceran Tertinggi Beras

Jumat, 04 September 2026 | 13:01

Selengkapnya