Berita

Anggota Komisi I DPR RI Syaifullah Tamliha/Net

Politik

Jika Terjadi Perang Konvensional, Laut Natuna Utara Dibutuhkan AS Untuk Lindungi Sekutunya

SENIN, 19 OKTOBER 2020 | 07:51 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Posisi Indonesia sangat strategis dalam peta global, sehingga banyak negara yang ingin menjalin kerja sama. Tak terkecuali dua negara besar, China dan Amerika Serikat.

Begitu kata anggota Komisi I DPR RI Syaifullah Tamliha menanggapi kunjungan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke Amerika Serikat akhir pekan ini.

“Posisi geografis Indonesia yang sangat strategis tentu saja membuat negara manapun ingin bekerjasama dengan kita, termasuk Amerika dan China,” ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (19/10).


Legislator dari PPP ini mencontohkan strategisnya wilayah Indonesia dalam konflik Laut China Selatan. Di mana China terus mengklaim sembilan garis putus yang menjadi penanda perairan tradisionalnya di wilayah tersebut. Padahal klaim itu menabrak sejumlah teritori negara di Asia Tenggara.

Posisi Laut Natuna Utara pun menjadi bagian penting bagi Amerika Serikat untuk melindungi sekutunya dari ancaman China.

“Amerika tentu saja berkepentingan melindungi sekutunya yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan, yaitu Filipina,” bebernya.

“Sementara, jika terjadi perang konvensional antara Amerika dan Sekutunya melawan China, maka wilayah perairan Indonesia, terutama perairan Natuna sangat dibutuhkan untuk menyerang China,” imbuhnya.

Meski ada ketegangan dari dua kubu tersebut, Indonesia tidak mungkin berpihak. Ini lantaran Indonesia menganut sistem politik luar negeri bebas aktif.

“Jadi erjasama dengan negara manapun asalkan menguntungkan bagi Indonesia tentunya kita sambut dengan baik, tak terkecuali dengan Amerika dan China,” tandasnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya