Berita

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Jaksa Agung Bill Barr/Net

Dunia

Langka, Trump Kritik Dua Ajudannya Yang Paling Setia

JUMAT, 09 OKTOBER 2020 | 08:55 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Suatu situasi langka terjadi. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyuarakan kritik terhadap dua pembantunya yang paling setia, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Jaksa Agung Bill Barr.

Dalam wawancara telepon dengan Fox Business pada Kamis (8/10), Trump marah dengan Pompeo dan Barr yang dianggapnya tidak bisa menangani masalah ketika ia didiagnosis Covid-19.

Trump mengatakan Pompeo harus menemukan cara untuk merilis email dari Hillary Clinton, kandidat presiden dari Partai Demokrat pada 2016 yang mengaku aktivis Republik telah menyerang penggunaan server pribadinya saat menjadi menteri luar negeri.


"Mereka ada di Departemen Luar Negeri tetapi Mike Pompeo tidak bisa mengeluarkan mereka, yang sebenarnya sangat menyedihkan," kata Trump, seperti dimuat AFP.

"Saya tidak senang tentang dia karena alasan itu. Dia yang menjalankan Departemen Luar Negeri, rilis mereka," tambahnya.

Pompeo sendiri sampai sekarang menjadi salah satu dari sedikit ajudan yang tidak pernah melawan Trump.

Ironisnya, Pompeo menjadi terkenal secara politik karena nadanya yang berapi-api dalam menanyai Clinton ketika dia adalah seorang anggota kongres yang menyelidiki serangan mematikan terhadap misi AS di Benghazi, Libya.

Selain itu, Trump juga telah mendesak Barr untuk menuntut anggota pemerintahan Barack Obama karena menyelidiki hubungan kampanyenya dengan Rusia.

"Sejujurnya, Bill Barr akan turun sebagai jaksa agung terhebat dalam sejarah negara atau dia akan turun sebagai situasi yang sangat menyedihkan," kata Trump.

"Maksud saya, saya akan jujur ​​kepada Anda, dia mendapatkan semua informasi yang dia butuhkan," sambungnya.

Selama ini, Trump telah mendorong teori konspirasi bahwa pemerintahan Obama bekerja untuk menggagalkannya melalui tindakan termasuk penyelidikan "hoax" mengenai campur tangan Rusia.

Investigasi oleh mantan direktur FBI Robert Mueller menemukan bahwa Rusia berusaha untuk meningkatkan kampanye Trump.

Mueller memberikan bukti signifikan bahwa rekan-rekan Trump berkoordinasi, bekerja sama, mendorong, atau memberikan dukungan atas campur tangan Rusia.

Penasihat keamanan nasional pertama Trump, Michael Flynn, mengakui bahwa dia berbohong kepada FBI tentang percakapan dengan dutabesar Rusia.

Barr, meski tidak melihat alasan untuk mendakwa pejabat Obama atas penyelidikan Rusia, telah menjadi pembela vokal Trump.

Barr adalah tokoh kunci dalam pembubaran paksa pengunjuk rasa anti-rasisme pada 1 Juni di luar Gedung Putih sebelum Trump berpose di luar gereja terdekat.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya