Berita

Dokter Tirta/Net

Politik

Dokter Tirta Minta Influencer Yang Diundang Istana Buka Rahasia Dan Semua Zona Merah Di-Swab Test Gratis

Yang Positif Dikarantina Dan Dikasih Makan, Yang Negatif Diedukasi Protokol Kesehatan
MINGGU, 27 SEPTEMBER 2020 | 13:27 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Seorang influencer, Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal dengan panggilan Dokter Tirta mengeluarkan unek-uneknya atas penanganan Covid-19 di negeri ini.

Dalam sebuah video yang direkamnya sendiri, Dokter Tirta mulanya mempertanyakan apa yang dibahas para influencer saat diundang ke Istana Negara beberapa waktu lalu.

Dia lalu menyindir mengenai masalah pariwisata yang tetap lesu, sementara banyak orang menderita tidak bisa makan karena corona. Entah ada hubungannya atau tidak, Dokter Tirta tampak ketus saat membahas jumlah wisatawan yang rendah.


Ucapan Dokter Tirta lantas meloncat mengenai dirinya pernah ditawari untuk ikut proyek rapid test.

Hingga kemudian dalam video berdurasi 7.12 menit itu Dokter Tirta fokus pada pembahasan masalah penanganan Covid-19 di Indonesia.

Dia mengajak agar pemerintah menerapkan swab test sebagai standar pengetesan corona di negeri ini. Kemudian, dia menyarankan agar diadakan swab test secara massal dan gratis di zona merah.

Baginya, swab test gratis di zona merah adalah solusi jitu agar Indonesia bisa keluar dari wabah corona.

“Dari situ akan ketahuan yang positif siapa, itu dikarantina lalu dikasih makan sama negara. Yang tidak kena diedukasi protokol kesehatan. Selesai (masalah),” tekannya dalam video yang ditonton redaksi, Minggu (27/9).

Jika saat tes usap seseorang dinyatakan positif, Dokter Tirta meminta agar yang bersangkiyan ditanggung negara dan diberi jaminan untuk hidup keluarganya. Artinya ada bantuan langsung dari pemerintah untuk keluarga, sehingga tidak terjadi kelaparan.

Sementara untuk yang negatif, harus diberi edukasi mengenai protokol kesehatan.

“Yang sekarang kita semuanya protokol, swabnya mahal, kalau positif baru diganti. Padahal solusinya itu. tapi mahal,” sindirnya.

Dia lantas merasa kesal lantaran tes ini tidak dilakukan sejak awal pandemi pada Maret lalu, tepatnya saat kasus masih di kisaran 200-an.

“Sekarang seperti menegakkan benang basah,” tutupnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya