Berita

Anggota Komisi I DPR RI, Willy Aditya/Net

Politik

Gatot Sebut Komunis Bangkit Kembali Pada 2008, Willy Aditya: Tak Perlu Diungkit Lewat Narasi Yang Membodohi Nalar

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2020 | 11:14 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Pernyataan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang menyebut komunis telah muncul sejak 2008 silam, menuai kritik dari sejumlah kalangan. Pasalnya, Gatot dinilai hanya cuap-cuap semata tanpa bisa membuktikan secara nyata.

Dikatakan anggota Komisi I DPR RI, Willy Aditya, status PKI dan komunis masih menjadi paham terlarang di Indonesia. Sama seperti beberapa paham lain yang bertentangan dengan Pancasila yang telah ditetapkan oleh produk keputusan negara terkait pelarangannya.

“Jadi hal semacam itu tidak perlu lagi diungkit lewat narasi yang irasional dan membodohi nalar publik. Sudahilah praktik semacam itu,” ucap Willy kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (25/9).


Politikus Partai Nasdem ini meminta Gatot untuk lebih membangun nilai dan pendidikan politik yang mampu mencerdaskan bangsa. Politik yang berorientasi pada kebaikan bersama. Karena hal-hal itulah, kata Willy, politik kemudian ada dalam kehidupan umat manusia.

Willy pun mengajak Gatot untuk berpikir bahwa politik bukanlah sesuatu wadah untuk dapat berkuasa. Politik merupakan ruang bagi seluruh warga Indonesia untuk mengabdi kepada sesuatu yang lebih mulia dibandingkan kepentingan sendiri.

“Politik itu bukan soal kekuasaan semata. Kalau hanya kekuasaan, tanpa politik pun itu bisa diselenggarakan dan diadakan. Politik itu lebih dari soal soal kontestasi kekuasaan,” ujarnya.

“Karena itulah negara ini disebut republik; berasal dr kata res publica (bersifat umum), bukan res privata (bersifat pribadi). Jadi negara ini bukan urusan pribadi dan ditujukan bagi kepentingan pribadi ataupun golongan. Melainkan urusan bersama dan ditujukan bagi kepentingan dan kebaikan bersama pula. Dalam bahasa Bung Karno dulu: semua untuk semua,” tegasnya.

Willy juga meminta Gatot memiliki kesadaran dalam berpolitik. Tidak mengedepankan ambisi untuk merebut kekuasaan. Dengan kesadaran semacam ini, politik menjadi tinggi derajatnya, demikian juga dengan para pelakunya.

"Sebaliknya, kalau politik dimaknai hanya soal kekuasaan saja dan cara yang digunakan adalah cara politik sengkuni, ya jangan heran kalau politik akan selalu dimaknai negatif dan derajatnya tidak jauh seperti solokan: kotor,” demikian Willy Aditya.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya