Berita

Presiden Finlandia, Sauli Niinisto/Net

Dunia

Finlandia Soroti Kasus Penggunaan Novichok Yang Diduga Untuk Racuni Alexei Navalny

JUMAT, 04 SEPTEMBER 2020 | 06:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Finlandia mengecam penggunaan zat kimia Novichok yang diduga digunakan untuk meracuni tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Penggunaan senjata kimia untuk membungkam lawan politik adalah tindakan yang tidak manusiawi.

Presiden Finlandia, Sauli Niinisto, mengaku terkejut atas hasil tim penyelidikan Jerman itu.
"Kabar yang datang dari pemerintah Jerman tentang Alexei Navalny mengkhawatirkan," kata Sauli Niinisto, yang dikutip dari situs resmi kantor Kepresidenan Finlandia, Kamis (3/9), dan dilaporkan oleh media lokal Helsinki. 

Niinisto  mendukung penuh hasil penyelidikan lanjutan untuk mendapatkan kejelasan yang lebih mendetail dan akurat. Ia juga menjadi salah satu pemimpin Uni Eropa pertama yang membuat pernyataan publik tentang keracunan aktivis oposisi Rusia Alexei Navalny.

Niinisto  mendukung penuh hasil penyelidikan lanjutan untuk mendapatkan kejelasan yang lebih mendetail dan akurat. Ia juga menjadi salah satu pemimpin Uni Eropa pertama yang membuat pernyataan publik tentang keracunan aktivis oposisi Rusia Alexei Navalny.

"Penggunaan senjata kimia sangat mengejutkan. Penting bagi seluruh komunitas internasional untuk mendapatkan kejelasan sepenuhnya tentang apa yang terjadi," katanya.

Pernyataan Niinisto mendapat dukungan dari Carl Build, mantan perdana menteri Swedia yang juga Ketua Bersama Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa saat ini.
Carl Build memuji komentar Niinisto karena mungkin menjadi pemimpin Eropa pertama yang bereaksi terhadap berita tentang peracunan Navalny.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Finlandia  Pekka Haavisto (Green) juga mengutuk penggunaan senjata kimia.

“Mereka yang bertanggung jawab perlu dibawa ke pengadilan. Kami menyambut baik keterlibatan Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia. Kerja sama Rusia dibutuhkan,” tulis Haavisto, dikutip dari News Now Finland.

Jurubicara pemerintah Jerman, Steffen Seibert mengatakan, hasil pengujian laboratorium militer Jerman telah menemukan bukti bahwa Alexei Navalny diracun dengan Novichok, zat kimia untuk racun saraf yang populer pada era Soviet.

Racun tersebut diklaim lebih kuat dari senjata kimia lain, bahkan bisa menembus masker gas dan pakaian pelindung.

Alexei Navalny adalah tokoh oposisi Rusia yang kerap mengkritik pemerintahan Presiden Vladimir Putin. Ia diterbangkan ke Berlin untuk perawatan setelah jatuh sakit selama penerbangan di wilayah Siberia Rusia pada 20 Agustus. Rumah Sakit Charite Berlin, yang merawat Alexei Navalny, mengatakan hingga saat ini dia masih dalam kondisi serius dalam perawatan intensif.

Pesawat yang ia tumpangi bahkan harus melakukan pendaratan darurat di kota Omsk dimana Navalny segera di bawa ke rumah sakit Siberia.

Para koleganya menilai Navalny telah diracun oleh pihak tertentu. Kira Yarmysh kepada stasiun radio Echo Moskvy menyebut racun itu dimasukan ke dalam teh yang diminum Navalny di kafe bandara.

Selama penerbangan, Navalny mulai berkeringat dan memintanya untuk berbicara dengannya agar dia bisa ‘fokus pada suara’.

Dia kemudian pergi ke kamar mandi dan kehilangan kesadaran, dan telah koma dan menggunakan ventilator dalam kondisi yang parah sejak itu.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Intelijen AS: Iran Bakal Perpanjang Perang untuk Goyang Trump di Pemilu Sela

Minggu, 06 September 2026 | 16:27

Pengunjung Lampung Financial Festival 2026 Antusias Jajal Layanan Digital BNI

Minggu, 06 September 2026 | 16:06

Erupsi Anak Krakatau, 12 Penerbangan Malaysia Airlines ke Jakarta Dibatalkan

Minggu, 06 September 2026 | 15:51

Debu Vulkanik Tebal Selimuti Bandar Lampung

Minggu, 06 September 2026 | 15:36

Trump Ancam Serang Gunung Pickaxe Iran dalam Waktu Dekat

Minggu, 06 September 2026 | 15:25

Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran Berpeluang Ditolak MK

Minggu, 06 September 2026 | 14:49

Denmark Tegaskan Dukungan Terhadap Otonomi Sahara Maroko

Minggu, 06 September 2026 | 14:18

BNPB Gencarkan OMC Redam Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau di Jakarta

Minggu, 06 September 2026 | 14:12

Pemantauan Kualitas Udara Diperketat Antisipasi Dampak Sebaran Abu Vulkanik

Minggu, 06 September 2026 | 14:06

Produk Impor Masuk RI Wajib Halal

Minggu, 06 September 2026 | 14:01

Selengkapnya