Berita

Pemilik NEXTA Stepan Svetlov /Net

Dunia

Diduga Ada Di Balik Kerusuhan Belarusia, Pemilik NEXTA Stepan Svetlov Bakal Terancam 15 Tahun Penjara

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 | 15:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Protes besar-besaran yang menggema belakangan ini di Belarus tak lepas dari peran seorang blogger muda bernama Stepan Svetlov yang telah mendirikan NEXTA Live, sebuah saluran Telegram dengan 2,1 juta pelanggan yang membantu memobilisasi pengunjuk rasa dan berbagi konten foto dan video dari demonstrasi.

Svetlov adalah blogger berusia 22 tahun berwajah segar yang menggunakan keyboardnya untuk menjalankan pusat komunikasi utama bagi pengunjuk rasa di Belarus saat mereka melakukan aksi menentang rezim Presiden Alexandr Lukashenko, yang sering dijuluki diktator terakhir Eropa. Ia adalah anak dari seorang jurnalis di saluran Belarusia Belsat yang berbasis dan didukung oleh pemerintah Polandia.

“Ini dimulai sebagai proyek sekolah,” kata Svetlov kepada AFP dalam sebuah wawancara di ibu kota Polandia, Warsawa, tempat dia tinggal di pengasingan di bawah perlindungan polisi setelah menerima ancaman pembunuhan.


Svetlov awalnya mendirikan NEXTA Live pada tahun 2015 sebagai saluran YouTube untuk berbagi video musik lucu dan satir tentang Belarusia dan Presiden Lukashenko yang telah memerintah sejak 1994. NEXTA yang artinya 'seseorang' dalam bahasa Belarusia, mulai merilis berita video mingguan pada tahun 2017 dan mendapatkan puluhan ribu penayangan saat itu.

Peralihan dari Youtube ke Telegram terjadi pada 2018 ketika polisi menggerebek rumah Svetlov di Belarus. Dia beralih ke Telegram dengan alasan aplikasi perpesanan tersebut memiliki enkripsi dan anonimitas yang kuat.

"Itu adalah tanda pertama bahwa pihak berwenang menghargai pekerjaan saya. Seperti tanda penghormatan," kata seorang Svetlov dengan percaya diri, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (29/8).

Belarus tengah menyelidiki dugaan keterlibatan NEXTA dalam mengatur kerusuhan massal yang terjadi akhir-akhir ini. Jika terbukti bersalah, Svetlov terancam kurungan penjara selama 15 tahun. Tuduhan tersebut dibantah oleh Svetlov dan mengatakan kekerasan itu dilakukan oleh aparat, bukan pengunjuk rasa.

"Tentu saja itu tidak benar. Kami hanya menginginkan protes damai. Yang mulai memukuli, menembak, menggunakan meriam air adalah pihak berwenang,” sangkalnya.

Tapi Svetlov mengakui bahwa NEXTA memang memiliki peran dalam mengkoordinasikan protes saat ini. Dia mengatakan: "tak seorang pun kecuali kami dapat melakukan ini karena mereka akan segera ditahan dan ditangkap".

“Meski kami berada 500 kilometer dari perbatasan, kami tidak berhenti menjadi warga Belarusia yang ingin berperan, berkontribusi sendiri dalam membawa perubahan. Nexta dan saluran Telegram lainnya memainkan peran yang sangat penting dalam menyatukan orang. Orang dapat melihat bahwa mereka tidak sendiri," katanya.

Pada puncak protes setelah pemilihan 9 Agustus yang disengketakan, Svetlov mengatakan NEXTA menerima sekitar 200 pesan dalam satu menit. Volume informasi yang berjumlah sekitar 100 ribu pesan dalam sehari membuat tim yang terdiri dari empat orang yang bekerja di NEXTA harus fokus pada konten foto dan video, yang menurut Svetlov lebih mudah diverifikasi.

Saluran tersebut menggunakan bentuk verifikasi lain seperti meminta gambar dokumen ID atau menggunakan beberapa sumber yang tidak terhubung tetapi Svetlov mengatakan bahwa tepercaya, sumber biasa adalah yang terbaik.

Seorang analis dari Radio Free Europe / Radio Liberty, Valery Karbalevich mengatakan bahwa NEXTA telah memainkan peran penting dalam logistik protes seperti memberikan waktu dan tempat pertemuan.

"Semua blogger yang dulu populer di Belarus telah dipenjara untuk sementara waktu dan hanya saluran Telegram yang beroperasi dari luar negeri yang dapat mengkoordinasikan demonstrasi," katanya.

Analis independen Vladimir Matskevich setuju dengan pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa NEXTA Live memiliki pengaruh dan penonton terbesar dalam kaitannya dengan gelombang protes yang sedang berlangsung.

Kini, saluran tersebut tengah merencanakan perluasan besar-besaran.

"Kami membutuhkan setidaknya delapan orang untuk menangani jumlah informasi yang kami terima," kata Svetlov, yang menguraikan rencana untuk studio pengeditan video dan lebih banyak konten tentang acara di Rusia dan Ukraina.

"Kami ingin memperluas pemirsa yang berbahasa Rusia secara lebih menyeluruh," katanya, menunjuk pada survei pelanggan saluran yang menunjukkan 40 persen dari mereka berasal dari negara-negara di luar Belarusia - terutama di Rusia dan Ukraina.

Dengan semakin berkembangnya NEXTA, mereka tentu memerlukan dana yang cukup besar dan itulah yang sedang mereka upayakan saat ini. Svetlov mengatakan bahwa sebelum protes, saluran tersebut dibiayai hanya melalui pendapatan iklan tetapi ini tidak akan cukup untuk perluasan.

Ketika diminta meramalkan tentang masa depan Belarusia, dia berharap tanah airnya akan menjadi negara Eropa demokratis yang normal.

“Protes akan berlanjut sampai rakyat menang,” katanya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Intelijen AS: Iran Bakal Perpanjang Perang untuk Goyang Trump di Pemilu Sela

Minggu, 06 September 2026 | 16:27

Pengunjung Lampung Financial Festival 2026 Antusias Jajal Layanan Digital BNI

Minggu, 06 September 2026 | 16:06

Erupsi Anak Krakatau, 12 Penerbangan Malaysia Airlines ke Jakarta Dibatalkan

Minggu, 06 September 2026 | 15:51

Debu Vulkanik Tebal Selimuti Bandar Lampung

Minggu, 06 September 2026 | 15:36

Trump Ancam Serang Gunung Pickaxe Iran dalam Waktu Dekat

Minggu, 06 September 2026 | 15:25

Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran Berpeluang Ditolak MK

Minggu, 06 September 2026 | 14:49

Denmark Tegaskan Dukungan Terhadap Otonomi Sahara Maroko

Minggu, 06 September 2026 | 14:18

BNPB Gencarkan OMC Redam Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau di Jakarta

Minggu, 06 September 2026 | 14:12

Pemantauan Kualitas Udara Diperketat Antisipasi Dampak Sebaran Abu Vulkanik

Minggu, 06 September 2026 | 14:06

Produk Impor Masuk RI Wajib Halal

Minggu, 06 September 2026 | 14:01

Selengkapnya