Berita

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi/Net

Dunia

Tolak Snapback Sanksi Iran Oleh AS, Menlu Retno: Indonesia Menjunjung Tinggi Inklusifitas, Transparansi Dan Imparsialitas

KAMIS, 27 AGUSTUS 2020 | 12:06 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Indonesia sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB telah memutuskan untuk tidak menindaklanjuti permintaan Amerika Serikat (AS) untuk menghidupkan kembali sanksi embargo senjata terhadap Iran melalui mekanisme snapback pada Selasa (25/8).

Berbicara dalam konferensi pers virtual Kementerian Luar Negeri pada Kamis (27/8), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengurai alasan Indonesia mengambil keputusan tersebut.

Ia menjelaskan, Indonesia sebagai Presiden DK PBB mendapatkan surat resmi dari Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo pada 20 Agustus 2020 untuk meminta dimulainya proses mekanisme snapback.


"Setelah menerima surat Menlu AS, Presiden DK juga menerima surat terpisah dari 13 negara anggota DK PBB lainnya, termasuk Indonesia, yang intinya tidak sejalan dengan pandangan AS," jelas Retno.

Kemudian sebagai Presiden DK PBB, kata Retno, Indonesia melakukan konsultasi bilateral secara inklusif dengan semua anggota sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku. Itu dilakukan Indonesia untuk mendapatkan pandangan masing-masing anggota terkait langkah yang dapat dilakukan Presiden DK PBB.

Setelah itu, bertepatan pada pertemuan virtual terbuka DK PBB mengenai isu Timur Tengah yang diadakan pada Selasa, beberapa negara secara langsung menanyakan hasil konsultasi tersebut.

"Menjawab pertanyaan tersebut, Indonesia selaku Presiden DK menyampaikan hasil konsultasinya yang menunjukkan bahwa tidak ada konsensus mengenai permintaan snapback mechanism," jelas Retno.

"Selama menjalankan tugasnya sebagai Presiden DK PBB, ingin saya tekankan, Indonesia selalu menjunjung tinggi prinsip inklusifitas, transparansi, dan imparsialitas," imbuhnya.

Indonesia sendiri menjalankan mandat sebagai Presiden DK PBB untuk kedua kalinya. Sebelumnya, Indonesia sudah menjalankan tugas yang sama pada Mei 2019.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya