Berita

IATA revisi waktu pemulihan sektor penerbangan akibat Covid-19/net

Dunia

Penanganan Wabah Covid-19 Lambat, IATA Revisi Pemulihan Sektor Penerbangan Jadi 2024

SENIN, 17 AGUSTUS 2020 | 11:21 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Dunia penerbangan harus bersiap-siap menunggu lebih lama untuk bisa kembali ke kondisi normal, sebelum pandemik Covid-19 melanda. Lantaran Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut, lalu lintas global baru bisa pulih setidaknya pada 2024.

Lambatnya penanganan pandemik dan dampaknya sangat mempengaruhi sektor penerbangan. Padahal, dalam proyeksi IATA sebelumnya, kondisi normal dalam dunia penerbangan bisa dicapai pada 2023.

"Lambatnya penanganan menunjukkan kepada kami bahwa pemulihan akan memakan waktu setahun lebih lama dari yang kami perkirakan sebelumnya," ujar Direktur Jenderal IATA, Alexandre de Juniac dalam sebuah penyataan seperti yang dikutip Kyodo News, Minggu (16/8).


Selain merevisi target pemulihan, IATA juga mengubah kembali perkiraan jumlah penumpang global untuk 2020. Pada April, asosiasi tersebut memperkirakan jumlah penumpang global akan turun 46 persen untuk 2020, namun perkiraan tersebut kini jatuh ke angka 55 persen.

Jika dilihat dari total jarak yang diterbangkan penumpang, terjadi penurunan hingga 91 persen pada Mei dan 86,5 persen pada Juni. Anjloknya total jarak penerbangan dikarenakan banyaknya negara yang memberlakukan pembatasan perjalanan untuk mengekang penyebaran virus corona.

Dari faktor muatan juga terjadi penurunan mencapai 57,6 persen untuk Juni, terendah sepanjang masa.

Alhasil, data dari IATA menunjukkan, penurunan permintaan membuat industri penerbangan kehilangan 84,3 miliar dolar AS untuk 2020 dengan perkiraan pendapatan turun sebesar 50 persen. Angka tersebut diambil dari 290 maskapai penerbangana atau sekitar 82 persen lalu lintas udara global.

Proyeksi yang lebih suram dari IATA menunjukkan betapa buruknya kondisi penerbangan saat ini. Mulai dari pemotongan perjalanan bisnis, lemahnya kepercayaan konsumen, hingga terpenting adalah lambatnya penanganan wabah di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS).

"Harapan terbaru dari rebound ke tingkat pra-pandemi bisa turun lebih jauh jika kita mengalami kemunduran dalam menahan virus atau menemukan vaksin," pungkas IATA.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya