Berita

Pemandangan Lebanon dari udara sebelum ledakan di Pelabuhan Beirut/Net

Dunia

Selangkah Lebih Dekat Dengan Lebanon, Negara Arab Rasa Eropa

SABTU, 08 AGUSTUS 2020 | 01:44 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Selasa sore tanggal 4 Agustus 2020 menjadi mimpi buruk bagi warga di Beirut, Lebanon. Tidak ada yang menduga, petang hari di tanggal tersebut akan terjadi ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut.

Ledakan berasal dari sekitar 3.000 ton bahan kimia amonium nitrat yang disimpan di pinggir pelabuhan Beirut. Amonnium nitrat itu disita dari eks kapal Rhosus sejak tahun 2014 lalu.

Tidak main-main, ledakan tersebut bahkan diperkirakan memiliki kekuatan setara dengan gempa 3,5 skala richter dan terasa hingga Siprus, melintasi Mediterania.


Peristiwa tersebut membawa Lebanon menjadi sorotan dunia. Ungkapan simpati, belasungkawa dan solidaritas pun bermunculan. Banyak pengguna sosial media dari seluruh dunia menggunakan tagar #PrayForLebanon sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian.

Peristiwa itu juga mau tidak mau menjadikan Lebanon sebagai buah bibir di ranah internasional.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan duka mendalam bagi para korban yang terdampak oleh ledakan tersebut, tidak ada salahnya untuk mengenal lebih dekat Lebanon.

Negara ini ternyata menyimpan banyak cerita menarik untuk dibagikan, bukan hanya mengenai keindahan alamnya, tapi juga sejarah dan budayanya.  

Karenanya, agaknya tidak berlebihan jika diplomat top Amerika Serikat, John C. Whitehead membuat judul "Lebanon as Paradise Lost" untuk artikel terbarunya yang dimuat di situs resmi Brookings Institution pekan ini.

Dalam artikelnya, dia mengangkat guyonan lawas yang menyebut bahwa Tuhan menganugerahkan Lebanon dengan gunung-gunung yang indah, pantai yang menakjubkan, sumber daya air tawar, tanah yang subur dan dataran penuh dengan buah-buahan serta orang-orang yang kreatif dan menarik. Anugerah tersebut bak surga duniawi. Namun kemudian Tuhan menyadari bahwa surga harusnya dicadangkan untuk di akhirat. Karena itulah Tuhan menciptakan tetangga Lebanon yang tidak bersahabat.

Meski begitu, "surga yang hilang" itu agaknya masih tersisa di Lebanon hingga saat ini.

Perancisnya Timur Tengah

Meski terletak di kawasan Timur Tengah, Lebanon tidak sama dengan negara-negara Arab lainnya di kawasan tersebut. Negara ini menjunjung tinggi kebebasan. Di negara ini, kebebasan pers, kebebasan berbicara, kebebasan berekspresi hingga kebebasan beragama sangat dijaga, layaknya negara-negara di kawasan Eropa.

"Kalau kita jalan di London, mungkin dari 10 wanita, kita bisa lihat dua atau tiga di antaranya mengenakan jilbab. Tapi kalau di Lebanon, tidak," ujar Dutabesar RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari memberikan perumpamaan soal kebebasan di Lebanon, dalam Webinar RMOL World View bertajuk "Di Balik Ledakan Lebanon" yang digelar pada Jumat malam (7/8).

Bukan hanya soal kebebasan, jika menengok kembali ke pertengahan tahun 1970an, sebelum pecahnya perang saudara, kota Beirut bahkan pernah mendapat julukan "Parisnya Timur Tengah". Bukan tanpa alasan, melansir City Journal, Beirut pada masa itu masih menjaga dengan baik sejumlah arsitektur peninggalan mandat Prancis. Gaya berbusana penduduknya juga pada umumnya modis dan mengikuti tren pada masanya.

Sayangnya, hal tersebut dirusak dengan perang saudara yang terjadi sejak tahun 1975.

Bukan hanya itu, negara ini juga memiliki kedekatan yang intim dengan Prancis, melansir media Inggris Express, kedua negara menikmati hubungan yang baik karena ada pengaruh Prancis di Lebanon yang tertanam setelah berakhirnya Perang Dunia Pertama.

Pada akhir perang, Lebanon diduduki oleh pasukan Sekutu dan ditempatkan di bawah pemerintahan militer Prancis. Kemudian pada tahun 1920, Liga Bangsa-Bangsa atau League of Nations secara resmi memberikan mandat untuk Lebanon dan Suriah kepada Prancis.

Saat Prancis memegang mandat tersebut, Lebanon menjadi negara yang "hidup" dalam hal pergerakan ekonomi dan perdagangan. Dampaknya, kualitas hidup warga Lebanon pada saat itu meningkat secara signifikan.

Tapi kemudian pada tahun 1943, Prancis sepakat untuk mengalihkan kekuasaan kepada pemerintah Lebanon. Dengan kata lain, Prancis memberikan Lebanon kemerdekaan untuk memerintah sendiri.

Meski begitu, Prancis tidak lantas meninggalkan Lebanon begitu saja. Perancis kerap kali menjadi negara yang maju paling pertama untuk mengulurkan tangan pada Lebanon di masa sulit.

Selama Perang Saudara Lebanon, Prancis memberikan bantuan militer kepada negara tersebut dan memberikan suara secara konsisten untuk resolusi PBB yang akan menguntungkan negara tersebut.

Setelah perang saudara, Prancis terus mendukung Lebanon dan melakukan investasi langsung di negara itu.

Bahkan Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi pemimpin negara asing pertama yang datang ke Beirut tidak lama setelah ledakan dahsyat terjadi awal pekan lalu.

Kunjungannya pun disambut hangat oleh penduduk Lebanon. Dalam sejumlah pemberitaan dan video yang beredar, tidak sedikit warga Lebanon yang menyampaikan keluh kesahnya pasca ledakan itu kepada Macron.

"Selain itu, banyak juga warga dari kalangan menengah ke atas di Lebanon yang berbicara bahasa Perancis atau bahkan mengantongi dua kewarganegaraan, Lebanon dan Perancis," cerita Hajriyanto.

Menjunjung Tinggi Kebebasan

Terlepas dari beberapa bagian kelam di masa lalu, Lebanon berhasil bangkit menjadi negara yang modern yang konsisten memegang teguh kebebasan. Ideologi kebebasan ini agaknya tidak bisa dilepaskan dari warisan Prancis.

"Tidak seperti banyak negara lain di kawasan Timur Tengah, kekebasan di Lebanon di jaga dengan baik. Pers bebas berbicara, masyarakat bebas untuk berekspresi atau berbicara apapun, termasuk mengkritik pemerintah sekali pun," jelas Hajriyanto.

"Di Lebanon, tidak ada ceritanya pemerintah mengecam apalagi mengancam atau mengintimidasi pers," sambungnya.

Karena itu, bukan hal yang aneh jika media-media di Lebanon kerap memuat berita yang mengkritik keras pemerintah. Selain itu, tidak jarang juga karikatur mengkritik tokoh atau pemerintah dimuat di media.

Peliputan televisi pun tidak dibatasi. Televisi bebas menyiarkan secara langsung unjuk rasa atau pembahasan mengkritik kinerja pemerintah.

Bukan hanya dari sisi pers, masyarakat Lebanon juga diberi kebebasan untuk berekspresi dan berbicara. Karena itu, tidak heran jika hapir setiap hari ada aksi unjuk rasa di Lebanon.

"Karena begitu bebasnya, Lebanon tidak mengenal pembatasan jam dalam protes atau unjuk rasa," jelasnya.

"Di sini, tidak jarang terjadi aksi unjuk rasa bahkan hingga dini hari atau subuh," sambung Hajriyanto.

"Unjuk rasa berlangsung hampir setiap hari. Rasanya, satu-satunya yang bisa menghentikan aksi unjuk rasa hanyalah musim dingin. Karena musim dingin di Lebanon sangat menusuk," paparnya.

Melek Literasi

Prinsip-prinsip kebebasan yang dianut Lebanon kerap dituangkan dalam kitab atau buku-buku yang banyak dicetak di negara tersebut.

"Karena tradisi literal yang tinggi, orang-orang dari luar Lebanon banyak yang datang untuk mencetak buku yang tidak bisa mereka terbitkan di negara mereka karena kontroversial. Namun mereka aman untuk menerbitkan buku di Lebanon," ungkap Hajrianto.

Atas dasar itulah, tidak berlebihan jika Lebanon juga disebut sebagai kota buku bagi dunia Arab.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya