Berita

Dubes AS Untuk China Terry Branstad/Net

Dunia

Dubes AS Untuk China Akui Banyak Warga Amerika Terselamatkan Nyawanya Karena Bantuan Medis Dari Shanghai

JUMAT, 07 AGUSTUS 2020 | 15:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pertemuan antara Duta Besar AS untuk China, Terry Branstad, dan Walikota Shanghai Gong Zheng di tengah memburuknya hubungan bilateral antara kedua negara telah  memicu spekulasi hubungan yang menenangkan antara Washington dan Beijing.

Pertemuan itu terjadi sehari setelah Menlu China Wang Yi mengedepankan empat prinsip kerangka kerja hubungan China-AS, termasuk menghindari garis merah dan konfrontasi, serta menjaga saluran tetap terbuka untuk dialog jujur.

Branstard melakukan kunjungan ke Kota Shanghai pada Kamis (6/8) untuk bertemu dengan Walikota Gong. Dalam pertemuan itu Gong menegaskan kembali ambisi kota Shanghai untuk terus membuka diri, dia mengatakan bahwa Shanghai tetap menjadi jembatan penting hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS, dan sering mengadakan pertukaran dengan San Francisco dan kota kembar lainnya.


Baru-baru ini San Fransisco ditarik ke dalam pergulatan bilateral setelah munculnya spekulasi yang menyebutkan bahwa AS akan mempertimbangkan untuk menutup konsulat China di kota itu pasca penutupan di Houston beberapa pekan lalu.

“Dalam menghadapi pandemik Covid-19, perbekalan medis dari China ke AS telah menyelamatkan banyak nyawa, dan banyak barang yang datang dari Shanghai,” kata Branstad, mengungkapkan rasa terima kasihnya, seperti dikutip dari GT, Jumat (7/8).

Branstard juga memberikan pengakuan atas kemajuan Shanghai dalam beberapa tahun terakhir, utusan AS itu juga berharap dapat mempromosikan pertukaran dan kerja sama bilateral, dan mengatasi pengaruh yang dibawa oleh Covid-19. Ia pun berharap China International Import Expo (CIIE) ke-3 bisa terselenggara dengan baik sesuai jadwal.

Pertemuan tersebut telah menarik perhatian luas karena terjadi pada saat yang sensitif ketika perselisihan antara kedua negara meningkat , dari mulai perdagangan hingga diplomasi, dan bahkan pendidikan.

Pakar China percaya bahwa sedikit demi sedikit, negosiasi di tingkat regional akan mendorong komunikasi tingkat yang lebih tinggi, dan mencairkan es yang mengancam hubungan bilateral.

Li Haidong, seorang profesor di Institut Hubungan Internasional Universitas Urusan Luar Negeri China mengatakan, pertemuan ini menunjukkan bahwa meskipun ada gesekan, China dan AS secara aktif mengeksplorasi saluran komunikasi yang lebih positif, misalnya, dengan memperluas pertukaran di tingkat regional.

Li yakin bahwa pemilihan umum AS yang akan berlangsung kurang dari tiga bulan lagi, akan membuat pemerintahan Trump yang mengadopsi taktik "menyalahkan China", akan semakin meningkatkan kebijakan antagonisnya terhadap Tiongkok.

“Ketika negosiasi antara pemerintah pusat dihentikan, komunikasi tingkat regional, atau pembicaraan di tingkat mana pun akan mendorong pembicaraan tingkat tinggi,” kata Li.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara bersama Kantor Berita Xinhua pada Rabu (5/8) Dewan Negara dan Menlu Wang Yi memberikan sinyal yang positif atas hubungan AS-China.

“Kami siap untuk memulai kembali mekanisme dialog dengan AS di tingkat mana pun, di area mana pun dan kapan pun. Semua masalah dapat diajukan untuk dibahas,” kata mereka.

Penutupan tiba-tiba konsulat China oleh AS di Houston pada akhir Juli menandai pertikaian terbaru antara Beijing dan Washington.

Konsulat China di San Francisco terseret ke dalam pusaran, karena FBI menuduh bahwa seorang peneliti biologi China yang disebut berhubungan dengan militer China dengan tuduhan penipuan visa telah menghindari penangkapan dengan berlindung di konsulat. Langkah tersebut  itulah yang akhirnya mendorong banyak orang  berspekulasi apakah AS berencana menutup konsulat China di San Francisco.

Komunikasi regional mungkin akan menjadi tren untuk pengembangan hubungan China-AS di masa depan jika hubungan bilateral terus diperketat, kata Li.

Para pengamat mengatakan, memilih Shanghai sebagai tempat pertemuan juga menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi merupakan 'batu penyeimbang' bagi kerja sama bilateral kedua negara.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya