Berita

Demonstran digambarkan di dekat api unggun selama protes di dekat parlemen, setelah ledakan Selasa di daerah pelabuhan Beirut, Lebanon 7 Agustus 2020/Net

Dunia

Ledakan Beirut Ciptakan Protes Keras Aktivis Anti Pemerintah, Di Atas Duka Mereka Berunjuk Rasa

JUMAT, 07 AGUSTUS 2020 | 07:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Awan hitam yang membumbung tinggi pada Selasa akibat dua ledakan besar baru saja menghilang. Luka-luka dan air mata para korban masih begitu terasa, sama sekali belum pergi apalagi sembuh. Lebanon masih menangis. Namun, puluhan aktivis anti pemerintah telah menggaungkan kemarahannya.

Mereka melakukan aksi unjuk rasa terkait ledakan dahsyat di Ibukota Beirut. Aksi  itu berujung bentrokan dengan aparat keamanan pada Kamis malam (7/8) waktu setempat. Para pengunjuk rasa telah menyulut api. Mereka merusak toko-toko dan melemparkan batu ke pasukan keamanan, yang kemudian menanggapinya dengan gas air mata.

Pasukan keamanan Lebanon tidak mampu membubarkan pendemo. Mereka pun akhirnya menembakkan gas air mata untuk membubarkan puluhan demonstran anti-pemerintah yang marah oleh ledakan dahsyat yang secara luas dilihat sebagai ekspresi paling mengejutkan dari ketidakmampuan pemerintah mereka.


Bentrokan di pusat kota Beirut terjadi di jalan yang rusak menuju gedung parlemen, puing-puing dari ledakan hari Selasa masih mengotori seluruh area unjuk rasa, seperti dikutip dari AFP, Jumat (7/8).

Para pengunjuk rasa itu telah memicu kebakaran, merusak toko-toko dan melemparkan batu ke pasukan keamanan, seperti yang dilaporkan Kantor Berita Nasional Lebanon NNA.

Polisi kemudian menanggapi dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan kecil yang sedang emosi, melukai beberapa demonstran, kata NNA.

Ledakan hari Selasa di dekat Pelabuhan Beirut telah menewaskan hampir 150 orang, melukai sedikitnya 5.000 orang, dan menghancurkan seluruh distrik ibu kota.

Pihak berwenang Lebanon mengatakan itu dipicu oleh api yang menyulut 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan sembarangan di gudang di pelabuhan Beirut sejak 2013.

Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kargo yang sangat besar dari bahan yang sangat eksplosif bisa dibiarkan begitu lama tanpa jaminan.

Ledakan itu terjadi ketika Lebanon sedang tercekik  krisis ekonomi terburuknya sejak perang saudara 1975-1990.

Ini menambah keluhan gerakan protes yang muncul pada Oktober untuk menuntut penghapusan kelas politik yang dianggap tidak kompeten dan korup.

Aktivis telah menyerukan demonstrasi anti-pemerintah besar-besaran pada hari Sabtu - sebuah acara yang mereka beri judul "gantung mereka di tiang gantungan."

Bentrokan Kamis meletus saat duta besar Lebanon untuk Yordania mengundurkan diri, mengatakan 'kelalaian total' oleh otoritas negara itu menandakan perlunya perubahan kepemimpinan.

Ini adalah pengunduran diri kedua atas ledakan Selasa, setelah anggota parlemen Marwan Hamadeh juga mengundurkan diri pada Rabu (5/8).

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya