Berita

Wawancara Dr. Li Meng Yan dengan Fox News/Net

Dunia

Dr. Li Meng Yan Bongkar Habis Asal Usul Virus Corona, Ternyata Dari Laboratorium Militer China

SENIN, 03 AGUSTUS 2020 | 11:54 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Seorang ilmuwan virologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong, Dr. Li Meng Yan membongkar habis asal usul virus corona baru atau SARS-CoV-2 yang saat ini menginfeksi seluruh penjuru dunia.

Sebelumnya, Li sudah mengungkap klaimnya bahwa China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyembunyikan soal virus corona jauh sebelum konfirmasi pada 31 Desember 2019.

Klaimnya tersebut diangkat secara eksklusif oleh media Fox News pada Juli. Namun, dalam sebuah wawancara lain dengan media yang sama, ia mengumumkan penemuannya mengenai asal usul virus tersebut.


Kepada Bill Hemmer yang menjadi pembawa acara Fox News, Li mengatakan virus corona berasal dari laboratorium milik Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China.

Video wawancaranya dengan Hemmer tersebut diunggah oleh New Zealand Herald dan beberapa media lainnya pada Senin (3/8).

Di sana, Yan yang sudah melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) sejak April mengaku khawatir akan "menghilang" ditangkap oleh pasukan China karena penemuannya tersebut. Namun, sang whisleblower mengatakan, temuannya itu mungkin bisa menyelamatkan nyawa manusia di seluruh dunia.

"Ini adalah pandemik besar yang kita lihat di dunia. Ini lebih dari apapun yang kita ketahui dalam sejarah umat manusia. Jadi, waktunya sangat, sangat penting. Jika kita bisa menghentikannya lebih awal, kita bisa menyelamatkan nyawa," ujar perempuan berkacamata tersebut.

Setelah itu, ia menceritakan bagaimana akhirnya ia menyimpulkan bahwa virus corona berasal dari laboratorium militer.

Li menjelaskan, ia bekerja di laboratorium tingkat keamanan patogen-3 atau disebut juga P3 lab di Hong Kong. Di sana, ia memiliki dua atasan, yaitu Professor Malik Peiris dan Profesor Leo Poon.

Sejak akhir Desember 2019, Prof. Leo Poon menugaskannya untuk melakukan penyelidikan rahasia mengenai pneumonia baru yang terjadi di Wuhan. Pada saat itu belum ada berita resmi dari China daratan mengenai penyakit tersebut.

Setelahnya, ia mendapatkan informasi, pemerintah China sudah mengetahui ada 40 kasus pneumonia baru di Wuhan dan sudah terjadi transmisi antarmanusia. Tetapi tidak ada informasi publik terkait penyakit tersebut.

Selain itu, ia juga meyakini bahwa pasar makanan basah Wuhan hanya dijadikan sebagai umpan dan bukan sumber virus.

"Pada saat itu, saya dengan jelas menilai bahwa virus tersebut berasal dari laboratorium militer Partai Komunis China," ungkap Li.

"Pasar basah Wuhan hanya digunakan sebagai umpan," sambungnya.

Sementara itu, sebuah dokumen intelijen yang disusun oleh badan intelijen Five Eyes yang bocor pada Mei menyatakan, pihak berwenang China menyangkal virus corona menyebar antara manusia-ke-manusia sampai 20 Januari.

Bahkan pada 14 Januari, WHO menyebut, tidak ada bukti virus corona dapat menyebar antarmanusia.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya