Berita

Ilustrasi Surabaya lawan Covid-19/Net

Dahlan Iskan

Kembali Percaya

SELASA, 21 JULI 2020 | 04:55 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

PEMKOT Surabaya sudah bisa teriak: kami akan punya lab Covid-19 sendiri. Kami tidak menyerah. Kami akan keluar dari zona merah ini. Kalau kapasitas swab test di laboratorium milik sendiri itu sudah bisa ditingkatkan menjadi 4.000 sehari, siapa yang harus diprioritaskan untuk dites?

Tentu, keluarga dan teman dekat pasien yang sekarang dirawat karena Covid-19. Setelah itu para karyawan restoran, supermarket, minimarket, pemilik dan penjaga warung-warung, pedagang-pedang di pasar dan pegawai kantor-kantor yang bisnis mereka tetap jalan.

Tujuannya: agar ekonomi tetap bisa jalan. PHK bisa dicegah. Jangan ditafsirkan mereka sebagai sasaran korban. Misalnya sudah ada yang menghembuskan isu: tes Covid-19 itu tes kematian. Mereka pun lari dari kewajiban tes.


Kalau saja dua bulan lalu ada lab di Surabaya yang bisa mengerjakan 4.000 tes sehari, sekarang sudah lebih tenang. Tapi untuk apa disesali? Lebih baik move on kan?

Katakanlah seminggu lagi laboratorium baru milik Pemkot Surabaya sendiri itu mulai berfungsi. Kapasitas tes mulai meningkat. Dalam dua hari seluruh keluarga dan teman pasien sudah berhasil dites.

Maka dalam satu bulan ke depan peta jalan mengendalikan Covid-19 di Surabaya sudah terlihat. Kalau peta jalannya sudah ada maka rute penyelesaiannya menjadi jelas. Dan terarah. Tidak lagi serba gamang. Seperti melihat peta buta.

Memang masih ada satu pertanyaan mendasar lagi: bagi yang hasil tesnya positif bagaimana?

Anda sudah tahu jawabnya. Sudah hafal: karantina 14 hari.

Karantina di mana?

Jangan panik: di rumah sendiri saja.

Hanya bagi yang di rumah itu banyak penghuni lainnya sebaiknya mencari tempat karantina lain. Agar tidak menularkan Covid-19 ke seisi rumah. Tempat karantina lain itu bisa macam-macam. Bagi orang mampu bisa pindah ke hotel. Itulah perlunya ada hotel khusus dengan menjalankan protokol Covid-19.

Di Surabaya, sudah ada hotel yang seperti itu: Hotel Harris dan Hotel Pop di Gubeng. Atau, bagi yang rumahnya besar, pilihlah satu kamar untuk karantina. Misalnya kamar yang menghadap ke taman. Agar tidak bosan. Juga agar tiap hari bisa berjemur di taman itu.

Penghuni rumah yang lain tidak usah panik dan takut. Cukup jaga jarak dengan yang positif tersebut. Dan tidak usah mencuci alat-alat makannya. Kirimkan kepadanya makanan dalam bentuk bungkusan atau piring yang sekali pakai. Ajaklah yang lagi karantina itu berbicara tiap hari. Dari jarak yang cukup. Agar jiwa yang lagi karantina itu tetap sehat.

Bagi yang miskin dan di rumahnya banyak anggota keluarga mungkin bisa dicarikan rumah kosong di sekitarnya. Begitu banyak rumah yang disewakan. Pak RT dan Pak RW pasti tahu di mana ada rumah kosong atau rumah yang lagi disewakan.

Jadikan rumah itu tempat karantina gratis. Biaya dipukul ramai-ramai. Demi kesehatan bersama. Saya dan DI's Way mau bekerja sama dengan pak RT yang seperti itu. Kita bisa bersama-sama membayar sewa rumah itu. Dan menyediakan makanan bervitamin bagi yang karantina.

Saya sudah ajak diri saya --bersama pembaca DI's Way di Surabaya untuk ikut mengatasinya.

Bisa juga Pemkot memanfaatkan sekolah-sekolah yang lagi kosong untuk karantina mandiri seperti itu. Sekolah yang terdekat.

Kalau di Tiongkok, Pemda bisa menyita apartemen yang masing kosong untuk tempat karantina seperti itu. Mereka membuat Perda sebagai dasar hukumnya. Rumah kosong, rumah yang lagi disewakan, sekolah-sekolah, harus dimanfaatkan.

Pekerjaan para relawan pun menjadi lebih konkret. Relawan mana di RT mana dengan pekerjaan apa. Mahasiswa, anak-anak SMA, Pramuka, Karang Taruna, Bonek-Bonita pasti bisa mengatasi di sektor relawan itu.

Pertanyaan besarnya: bagaimana cara mengawasi agar yang positif nanti tidak keluyuran?

Tidak ada jalan lain: teknologi harus turun tangan. Yakni teknologi monitoring. Yang Apps-nya sudah tersedia. Sudah bisa diakses. Yang bisa memonitor si wajib karantina tadi meninggalkan rumah atau tidak.

Saya tidak perlu menyebut nama siapa yang menciptakan Apps itu --siapa tahu ada yang alergi terhadap nama itu. Tapi Alghozi pun sekarang masih di Surabaya. Siap berjibaku membantu secara gratis.

Tentu jangan juga terlalu menakutkan. Yang wajib karantina itu tetap boleh keluar rumah. Misalnya untuk olahraga. Asal jangan bertemu orang, jangan meludah sembarangan dan jangan menyentuh benda yang biasa dipegang orang lain, seperti kursi di pinggir jalan.

Tentu lebih baik lagi kalau yang wajib karantina itu dipasangi gelang pahlawan Covid-19. Mereka benar-benar pahlawan karena wani menyelamatkan diri dan orang lain dari tertular Covid-19.

Surabaya sudah menemukan peta jalan. Inilah salah satu cara membangun kepercayaan masyarakat. Angka penderita Covid-19 bisa naik drastis --untuk sementara-- tapi masyarakat menjadi tahu kita akan ke mana.

Surabaya sedang membangun kembali kepercayaan. Masih bisa. Kita adalah bangsa yang mudah percaya apa saja.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya