Berita

PDI Perjuangan/Net

Publika

PDIP Di Persimpangan Jalan

KAMIS, 16 JULI 2020 | 10:18 WIB

INI sekedar iseng dan analisa "gampangan" saja soal PDIP sebagai "the rulling party".

Sebutan "the rulling party" juga agak setengah hati karena fakta politiknya antara Jokowi sebagai Presiden dengan PDIP itu nampaknya belum merupakan satu kesatuan yang utuh.

Megawati perlu membuat pernyataan untuk meyakinkan diri dan orang lain bahwa Jokowi adalah "petugas partai".


Bahwa Jokowi menjadi Presiden itu mendapat dukungan penuh dari PDIP tidaklah diragukan, akan tetapi dalam hal status Jokowi sebagai "kader" PDIP tentu banyak yang meragukan. Lebih kental pada kesamaan kepentingan yang bersimbiosis mutualisme.

Dalam perjalanannya, kepentingan masing-masing menjadi takaran dari kontribusi dan peran. Kadang-kadang mesti terlebih dahulu dinegoisasi atau mungkin "diintimidasi".

Berbeda dengan pada saat Soeharto berkuasa, "the rulling party" adalah Golkar. Soeharto menjadi pengendali dan penentu Golkar. Kepentingan keduanya bersatu. Golkar sulit untuk digoyang karena hal itu sama saja dengan menggoyang Presiden. Demikian juga sebaliknya.

Kini PDIP berada di simpang jalan. Salah satunya karena "terkunci" oleh persoalan pengajuan RUU HIP.

Saat PDIP mati-matian berjuang menghadapi gempuran publik, Jokowi sebagai "petugas partai" tetap saja santai dan meliuk-liuk berkelit. "Ini (RUU HIP) 100 persen adalah inisiatif dari DPR, jadi Pemerintah tidak ikut campur sama sekali", kilahnya.

Secara normatif "tidak ikut campur" mungkin benar, tetapi sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di DPR itu berhimpun partai-partai koalisi yang mendukung Presiden. Presiden layak untuk mampu "mengkoordinasikan" partai-partai koalisi pendukung.

Jadi benarkah "sama sekali" tidak ikut campur? Bukankah RUU tersebut ada relevansinya dengan BPIP yang tak lain adalah badan buatan Presiden sendiri?

Pernyataan normatif berdampak politis khususnya bagi PDIP partai terbesar pendukung Presiden. Partai berlambang kepala banteng ini diduga menghadapi situasi berat. Tertekan akibat usulan RUU HIP yang dikaitkan dengan isu komunisme.

Persoalan isu Orde Lama, Soekarnoisme, serta Komunisme bermula pada Visi Misi dan AD/ART Partai sebagai platform perjuangan Partai.

Reaksi yang datang secara masif adalah suatu hal yang wajar, tak ada asap jika tak ada api. Jadi bukan gorengan.

Persimpangan jalan pertama adalah antara melakukan klarifikasi atau mengubah AD/ART Partai? Hal ini agar tidak ditafsirkan bahwa misi partai tidak lain adalah untuk menggoyang atau bahkan, mengganti Pancasila.

Persimpangan jalan kedua yakni antara "the rulling party" dalam arti riel atau bersifat semu (quasi) ? Jika hanya pro-forma yakni PDIP itu sebenarnya tidak berkuasa maka PDIP dapat mengambil porsi berseberangan dengan Presiden. Artinya Jokowi bisa saja dimakzulkan.

PDIP dapat menyiapkan kadernya untuk Wapres  sebagai pasangan Maruf Amin yang naik menjadi Presiden. Keuntungan politisnya PDIP menjadi motor penyalur aspirasi rakyat yang memang dirasakan sudah tidak mempercayai Jokowi lagi.

Keuntungan lain adalah Kiai Maruf yang "uzur" sehingga meskipun berstatus sebagai Wapres akan tetapi nantinya PDIP akan menjadi penentu kebijakan.

Menjadikan Wapres dari kader PDIP tentu mudah saja berdasarkan lobi-lobi sebagai partai pemilik suara terbanyak. Memakzulkan Jokowi dapat menjadi bagian dari pemulihan nama baik PDIP setelah diporakporandakan oleh RUU HIP.

Apakah Jokowi akan diam saja menghadapi rencana pemakzulan?  Belum tentu. Siapa tahu pemerintah mengajukan permohonan pembubaran PDIP ke MK atas dasar ideologi atau asas partai yang bertentangan dengan UUD 1945.

Nah karena politik itu dinamis dan segalanya serba mungkin, maka biarlah apa yang nanti rakyat akan lakukan untuk mewujudkan kekuatan atau kedaulatannya sendiri. Jokowi turun atau PDIP bubar. Atau mungkin terjadi hal yang spektakuler yaitu menimpa kedua-duanya Jokowi turun dan PDIP bubar.

Kita semua tidak tahu karena panggung politik itu sering membuat kejutan.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya