Berita

Ilustrasi Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Harian DI's Way

KAMIS, 02 JULI 2020 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SIAPA pemilik Harian DI's Way yang akan terbit 4 Juli 2020 nanti?

Ini dia: saham mayoritasnya dimiliki oleh karyawan Harian DI's Way! Sampai 98 persen. Baru sisanya, yang 2 persen, saya miliki --sebagai penggagas dan penyedia dana. Kok saham saya kecil banget?

Itu memang sekadar tanda mata. Untuk kenang-kenangan saja.


Kenapa begitu?

Kok mirip struktur kepemilikan saham di Huawei?

Begitulah.

Saya ini sudah tua.

Tahun depan sudah 70 tahun. Saya sudah mencoba menghitung keperluan makan saya selama 20 tahun ke depan: rasanya masih bisa makan.

Untuk apa lagi menumpuk saham?

Saya akan lebih bahagia kalau bisa melihat dunia jurnalistik bisa terhindar dari proses penuaan --apalagi kematian.

Tapi saya memang sudah lama mengamati perkembangan di Huawei. Banyak yang mengira Huawei itu BUMN Tiongkok. Atau, ada yang mengira Huawei itu milik pendirinya, Ren Zhengfei. Ayah dari Meng Wenzhao yang kini ditahan di Kanada atas permintaan Amerika Serikat itu.

Bukan.

Huawei itu bukan BUMN. Bukan pula milik pendirinya. Huawei itu milik karyawan Huawei.

Di Huawei Ren Zhengfei memang segala-galanya. Tapi sahamnya hanya 2 persen. Saya pun tidak menyangka Ren begitu hebatnya.

Begitu kecil sahamnya di perusahaan itu.

Tapi itulah salah satu kunci sukses Huawei.

Sejak mengetahui itu, saya meneguhkan niat dalam hati: suatu saat akan mendirikan perusahaan dengan saham terbesar milik karyawan.

Tak disangka saya mendapat berkah: tidak di Jawa Pos lagi.

Saya juga tidak menyangka: tiba-tiba ada Covid-19.

Saya tiba-tiba tidak berkutik. Hanya bisa tiduran di rumah. Sepanjang hari. Sepanjang minggu.

Badan saya memang terkurung. Tapi pikiran saya melayang ke mana-mana. Termasuk ke Huawei. Juga ke Ren Zhengfei.

Inilah saatnya melaksanakan niat lama: mengikuti jejak Huawei. Setidaknya dalam hal persahamannya.

Tunggu dulu.

Ada satu yang membuat saya pusing: bagaimana Ren, dengan hanya memegang saham 2 persen, bisa memiliki hak veto di Huawei.

Bagaimana meski hanya memegang saham 2 persen Ren tetap menjadi figur sentral di Huawei.

Itu yang saya inginkan: saya tidak memerlukan saham-saham itu. Saya memerlukan kendali itu.

Tapi di sistem hukum Indonesia hal seperti Huawei tidak mungkin bisa dilakukan. UU Perseroan Terbatas menegaskan: keputusan tertinggi ada di RUPS. Kalau tidak ketemu jalan musyawarah harus diadakan pemungutan suara: 1 saham, 1 suara.

Pasti yang hanya memegang saham 2 persen tergilas oleh yang mayoritas. Jangankan 2 persen. Yang 10 persen pun terlindas begitu saja. Pun yang sampai 40 persen. Tidak akan berkutik.

Begitulah hukum yang berlaku di perusahaan.

Adakah jalan keluar seperti yang saya inginkan?

Sepanjang lockdown tiga bulan terakhir saya terus mencari jalan keluar itu: bagaimana saya bisa seperti Ren Zhengfei.

Saya sudah mencoba berbagai simulasi. Belum juga ketemu. Tapi di dunia ini tidak ada yang tidak bisa. Akhirnya jalan itu saya temukan.

Cara itulah yang akan saya uraian di edisi pertama Harian DI's Way nanti.

Yang penting bisakah tanggal 4 Juli nanti Harian DI's Way benar-benar terbit. Sampai dua hari lalu kertas belum ada. Mesin belum ada. Wartawan belum punya.

Semua harus tersedia dalam lima hari ini.

Saya pernah mengalami nasib jelek: saat membuat koran di Manado. Spanduk sudah lama terpasang: akan terbit tanggal sekian.

Malam menjelang tanggal itu semua komputer macet. Tidak ada yang bisa mengatasi.

Lemes.

Padahal saya sudah dua harmal tidak tidur. Kencing ditahan. Makan asal ketelan. Untung umur saya saat itu masih memungkinkan: 36 tahun.

Akhirnya, koran tidak bisa terbit. Menunggu juru selamat dari perusahaan komputer yang harus didatangkan dari Surabaya.

Padahal tanggal terbit itu sudah dipilih yang terbaik. Gagal juga. Bahkan koran itu akhirnya mati. Saya harus bikin koran baru lagi di Manado. Sampai menjadi besar sekali. Sampai sekarang --meski bukan milik saya lagi.

Akankah gagal terbit itu terulang di Harian DI's Way? Di umur saya yang hampir 70 tahun?

Rasanya yang sekarang ini lebih menegangkan. Apalagi janji terbit tanggal 4 itu bukan angka yang baik --bagi yang mempercayainya. Tapi menurut hitungan saya tanggal 4 itu tidak masalah karena bulannya 7 dan tahunnya juga 4 (2020).

Mepetnya persiapkan Harian DI's ini rasanya seperti membuat saya kembali muda.

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Lepas Status WNI Kena Tarif Rp5 Juta, Ini Kata Ketua DPR

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:23

KPK Panggil Lima Pejabat BPK Sumsel

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:16

Saham BUMI Menguat 6 Persen pada Sesi I, Bukukan Transaksi Rp727,5 Miliar

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:15

Pengisian Jabatan di Kemenag Dituntut Adil dan sesuai Meritokrasi

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:08

Bisa Jadi Ada Aparat Lain Seperti Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:06

Sekolah Negeri Sepi Peminat Harus Jadi Perhatian

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:05

Mereduksi Bobot Kekuasaan Gibran Lewat Pergeseran Posisi Duduk Wapres

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:04

Sepak Bola Berbasis Bukti

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:50

DPR Minta Kesetaraan Penanganan Kasus Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:39

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Dilibatkan dalam Pemungutan Pajak Berpeluang Gerus Kepercayaan Publik

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:38

Selengkapnya