Berita

Jaya Suprana/Ist

Jaya Suprana

Habis Gelap Terbitlah Terang

SELASA, 16 JUNI 2020 | 19:35 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEJAK mulai mengenal apa yang disebut sebagai sejarah, umat manusia mulai gemar membagi masa menjadi sebelum dan sesudah.

Sebelum Dan Sesudah

Maka sejarah oleh kaum Nasrani dibagi menjadi Sebelum Masehi dan Setelah Masehi. Ketibaan armada Columbus di kawasan benua Amerika membagi sejarah Amerika menjadi Sebelum Columbus dan Setelah Columbus. Sejarah dunia juga dibagi menjadi Sebelum Perang Dunia II dan setelah Perang Dunia II. Masyarakat Jerman membagi sejarah negeri mereka menjadi Sebelum Hitler dan Setelah Hitler.


Sama halnya Jerman membagi sejarah mereka dengan Sebelum Persatuan dan Setelah Persatuan antara Jerman Barat dengan Jerman Timur. Tanpa disadari rakyat Amerika Serikat membagi masa sebagai Sebelum Trump dan Sesudah Trump, sebab Donald Trump memang sangat mempengaruhi corak mau pun citra kehidupan masyarakat Amerika Serikat ke arah lebih baik mau pun lebih buruk.

Sebagian masyarakat Hongkong bernostalgia ke masa Sebelum Dikembalikan (oleh Ingris ke China) yang dinilai lebih demokratis ketimbang masa Setelah Dikembalikan sampai tidak sedikit yang turun ke jalan meski tentu saja tidak dihiraukan oleh pemerintah Republik Rakyat China.

Indonesia

Tidak semua warga Indonesia setuju dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sebab merasa lebih nyaman di bawah penjajahan. Maka setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, ada warga yang tetap berada di Indonesia namun ada pula yang memilih pindah menjadi warga negara Belanda.

Paras peradaban bangsa Indonesia juga mengalami perubahan akibat Tragedi G-30-S yang melengserkan Bung Karno mau pun huru-hara Mei 1998 yang melengserkan Pak Harto. Maka sejarah Indonesia setelah kemerdekaan terbagi menjadi Sebelum dan Sesudah G-30-S di samping juga Sebelum dan Sesudah Mei 1998.

Corona

Wajah peradaban umat manusia termasuk bangsa Indonesia juga dapat dipastikan berubah oleh Pageblug Corona yang berdampak secara global maupun lokal terhadap kehidupan politik, sosial, budaya dan ekonomi. Sama halnya dengan peristiwa prahara apapun, tidak semua dampak bersifat negatif apalagi destruktif.

Misalnya dampak positif pageblug Corona terjadi dalam bentuk umat manusia memperoleh kesempatan untuk merenungi makna kehidupan yang sebenarnya, setelah cukup lama dibius oleh gemerlap konsumtifisme, kapitalisme, liberalisme yang secara eksesif menempatkan angkara murka nafsu keduniawian di atas segala-galanya, termasuk kemanusiaan yang seyogianya adalah mahkota peradaban.

Pada hakikatnya Pageblug Corona siap didayagunakan oleh manusia untuk mewujudkan cita-cita Kartini, yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang. Meski akibat tidak ada yang bisa dipastikan pada dunia yang berputar ini, maka bisa juga Habis Terang Datanglah Gelap.

Pancasila

Insya Allah, berkat Pageblug Corona maka secara spiritual umat manusia termasuk bangsa Indonesia akan tersadar untuk segera menghentikan sikap dan perilaku memberhalakan kebencian yang jelas lebih banyak mudarat  dibandingkan dengan sikap dan perilaku menjunjung tinggi welas asih dan kasih sayang demi mampu mengejawantahkan segenap makna adiluhur yang terkandung di dalam Pancasila, bukan sekadar untuk dihafal sebagai slogan politik, apalagi sekadar untuk kepentingan mempertahankan atau merebut tahta kekuasaan.

Namun secara rame ing gawe sepi ing pamrih, Pancasila wajib diwujudkan menjadi kenyataan yang nyata bermanfaat, bukan untuk sebagian namun seluruh rakyat Indonesia yang hidup bersama di negeri gemah ripah loh jinawi tata tenteram kerta rahardja. Mengenai apakah Indonesia pada masa Setelah Corona akan menjadi lebih terang atau lebih gelap ketimbang Sebelum Corona, sepenuhnya tergantung pada bagaimana bangsa Indonesia membentuk masa depan dirinya sendiri. MERDEKA!

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Ambang Batas Parlemen Moderat Cukup 2,5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 20:04

Eks Kepala PPATK: Demutualisasi BEI Kebutuhan Mendesak, Faktor Pertemanan Permudah Penyimpangan

Senin, 02 Februari 2026 | 19:50

Ribuan Warga Kawanua Rayakan Natal dan Tahun Baru dengan Nuansa Budaya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Catat! Ini 9 Sasaran Operasi Keselamatan Jaya 2026 dan Besaran Dendanya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Prabowo Terima Dirut Garuda dan Petinggi Embraer di Istana, Bahas Apa?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:41

Menkeu Purbaya Singgung Saham Gorengan Saat IHSG Anjlok, Apa Itu?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:29

Alur Setoran Kades dan Camat ke Sudewo Ditelisik KPK

Senin, 02 Februari 2026 | 19:23

Horor Sejarah Era Jim Crow

Senin, 02 Februari 2026 | 19:14

10 Surat Tanah yang Tidak Berlaku Lagi mulai Februari 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 19:12

5 Takjil Khas Daerah Indonesia Paling Legendaris

Senin, 02 Februari 2026 | 18:53

Selengkapnya