Berita

Muhyiddin Junaidi/Net

Politik

Ada Konspirasi Di Balik Covid-19, Ini Kata MUI

KAMIS, 07 MEI 2020 | 22:23 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan China terus menegang hingga saat ini, dan berdampak pada negara-negara yang menjadi mitra strategis kedua negara superpower tersebut.

Bahkan, perang dagang tersebut disebut-sebut berbuntut hingga perang biologis atau bio war.  

Termasuk soal virus corona baru atau Covid-19 yang telah menjadi pandemik ini disebut-sebut masih bagian dari konspirasi politik dan keamanan AS dan China.


Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Muhyiddin Junaidi saat mengisi diskusi daring bertajuk "Pandemi Covid-19 dan Konspirasi Internasional", mengamini bahwa masih terbuka kemungkinan jika wabah Covid-19 ini masih bagian dari konspirasi politik AS-China.

Hal ini diperkuat dengan sejumlah pernyataan para ahli dan pakar virologi yang menyebut ada keanehan pada Covid-19.

"Kita tahu, kita percaya, bahwa Covid-19 makhluk Allah. Tapi para pakar yang saya baca, baik itu dari Jepang, Rusia dan dari beberapa negara maju lainnya mengatakan ada keanehan dalam Covid-19 ini," ujar Muhyiddin Junaidi, Kamis (7/5).  

Dia menambahkan, keanehan itu sedang diselidiki di Lab P4 yang berada di Institute Virologi Wuhan, China.

Diketahui, Lab P4 ini merupakan satu-satunya laboratorium di Asia yang khusus mempelajari dan meneliti virus paling berbahaya di Dunia. Bahkan Lab itu sering dikenal sebagai "Kapal Induk untuk Riset Super Virus".

"Lab Wuhan P4 semua data-data sekarang ini sedang di kolektif dan hal terlengkap. Maka kalau sudah ditemukan ini akan lebih ngeri lagi," tuturnya.

Muhyiddin yang juga master pengajar bahasa Inggris dari Universitas South Pacific, Fiji itu mempercayai apa yang telah diungkapkan oleh sejumlah pakar dan ahli virologi terkait kejanggalan Covid-19 itu.
Sebab, pakar dan ahli lantaran mereka dianggap menguasai di bidang yang digelutinya tersebut.

Kata Muhyiddin, salah satu pakar virologi menyebut Covid-19 kerap berubah-ubah karakteristik antar negara satu dengan yang lainnya. Sesuai iklim dan suhu di negara-negara yang terserang wabah Covid-19.

"Saya percaya yang ditulis oleh para pakar, yaitu ada nanti kebenarannya. Karena apa karena ternyata Covid-19 ini terus mengalami perubahan. Ke Eropa, Asia, bentuknya (Covid-19) juga berubah," katanya.

"Jadi ini memang bukan sembarang rekayasa, bukan sembarang penyakit. Ini penyakit yang menurut para ahli, kalau ahli Virologi dari Rusia mengatakan 'hanya orang gila yang menambah kekuatan daya ledak Covid-19 yang pada awalnya biasa-biasa menjadi super biasa'. Hanya orang gila yang melakukan itu," imbuhnya menegaskan.

Lebih lanjut, dia menyarankan agar Pemerintah Indonesia tidak terlibat konflik perang dagang antara AS dan China tersebut.

Sebaiknya, Indonesia menjadi negara yang independen tidak berpihak kepada kedua negara superpower tersebut. Meskipun, Indonesia dekat dengan China secara bilateral.

Hal ini antara lain bertujuan supaya tidak ada dampak serius terhadap masyarakat Indonesia akibat ketegangan AS versus China itu.  

"Nah kalau menurut saya kita harus berada di wasathiyah (pertengahan). Kita harus membangun namanya proxy aliansi negara-negara Islam dan negara berkembang," demikian Muhyiddin Junaidi.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya