Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

SENIN, 11 MEI 2026 | 07:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sektor properti residensial Indonesia memasuki fase perlambatan signifikan pada awal 2026. Berdasarkan data terbaru, indeks harga properti pada kuartal I-2026 hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Dikutip dari Trading Economics, Senin 11 Mei 2026, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV-2025 yang mencapai 0,83 persen. Tidak hanya itu, angka ini juga menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak pengumpulan data dimulai pada 2003.

Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor real estat tengah menghadapi tekanan akibat dinamika ekonomi makro yang kurang kondusif.


Perlambatan harga dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor sosial dan ekonomi. Menurunnya daya beli masyarakat, disertai meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor industri, membuat calon pembeli cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Di sisi lain, perbankan juga semakin selektif dalam menyalurkan kredit karena meningkatnya risiko konsumen. Dampaknya, moderasi harga terjadi di hampir seluruh segmen pasar.

Segmen rumah menengah, yang selama ini menjadi penopang utama pasar, hanya tumbuh 0,88 persen. Sementara itu, segmen rumah kecil mencatat pertumbuhan 0,61 persen dan rumah mewah menjadi yang paling rendah dengan kenaikan hanya 0,50 persen.

Secara geografis, perlambatan pasar terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dari 18 kota besar yang dipantau, mayoritas mengalami penurunan laju pertumbuhan harga yang cukup tajam.

Banjarmasin tercatat sebagai wilayah dengan koreksi terdalam. Sementara itu, Surabaya mengalami kontraksi harga sebesar 0,27 persen, yang mengindikasikan mulai melemahnya aktivitas ekonomi di kota-kota besar berbasis industri.

Meski kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi pengembang dan investor, situasi pada 2026 juga membuka peluang bagi pembeli yang memiliki likuiditas kuat.

Dengan pertumbuhan harga yang berada di titik terendah dalam 23 tahun terakhir, pasar properti kini mulai bergerak menuju “buyer’s market” atau pasar yang lebih menguntungkan pembeli.

Untuk menghadapi situasi tersebut, para pengembang diperkirakan akan lebih fokus pada efisiensi biaya konstruksi serta penyediaan fasilitas yang lebih esensial guna menjaga minat pasar di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya