Berita

Pegiat Indonesia Berkebun, Winartania/Repro

Nusantara

Biar Nggak Bosan Di Rumah, Kenapa Nggak Coba Urban Farming?

SENIN, 04 MEI 2020 | 12:12 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Aktivitas masyarakat Indonesia saat ini hampir seluruhnya dilakukan di rumah. Mulai dari belajar, bekerja, hingga beribadah. Semua merupakan upaya untuk menghentikan pandemik virus corona baru atau Covid-19.

Hingga Minggu kemarin (3/5), jumlah kasus positif sudah tembus angka 11.192 orang, meninggal dunia 845 orang, dan sembuh 1.876 orang.

Melihat data tersebut, sudah barang tentu persentase penularan di dalam negeri masih cukup tinggi. Oleh karenanya, masyarakat terus diajak untuk peduli terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak tertular, yakni dengan cara tetap di rumah.


Namun, dampak yang dirasakan masyarakat adalah meras jenuh karena sudah hampir 2 bulan terus berada di rumah.

Sebagian masyarakat memang berhasil menemukan kegiatan yang menarik untuk dilakukan bersama-sama keluarga.

Tapi, sebagian lagi tidak bisa menemukan kegiatan menarik atau hal baru bagi dirinya maupun keluarganya. Hanya berputar-putar pada rutinitas yang sama.

Oleh karena itu, dalam jumpa pers pagi ini, Senin (4/5), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menghadirkan pegiat sosial kemasyarakatan, yang bergerak di bidang pertanian modern, atau urban farming.

Pegiat Indonesia Berkebun, Winartania menjelaskan, pihaknya sudah menaungi 48 kota dan kampus di seluruh wilayah di Indonesia. Ia berharap, di masa pandemik corona ini makin banyak anggotanya.

"Kebetulan kita sebelum ada social distancing sudah mulai berkebun, setelah social distancing banyak yang bertanya bagaimana berkebun di rumah," ucap Winartania dalam jumpa pers virtual di Gedung graha BNPB, Senin (4/5).

Saat ini, Winartania mengaku banyak masyarakat yang mulai tertarik menanam di rumah. Ia pun memberikan tips-tips yang biasa dia bagikan di akun Instagramnya, @idberkebun.

"Tanamlah tanaman simpel tapi bisa mencukupi kebutuhan di rumah. Yang banyak dikunsumsi warga. Misalnya bayam, kangkung, dan itu tanamnya enggak terlalu susah. Kita bisa tanam yang mudah, kalau berlebih kita bisa jual," beber Winartania.

Untuk media tanamnya, disarankan menggunakan hidroponik, jika lahan terbatas. Lanjut Winartania, penanaman dengan metode hidroponik bisa menggunakan pipa, sehingga bisa diset luasan lahannya melebar ke atas, atau menggunakan sistem vertikal.

"Ini enggak perlu lahan yang luas, tapi bisa ke atas. Atau bisa di dinding. Tapi itu perlu mengetahui gerak matahari. Karena seperti sayuran butuh 6 jam matahari. Bagusnya (matahari) pagi," sebut Winartania.

Namun, untuk masyarakat yang senang menanam di media tanah, karena halamannya luas, maka diperlukan pupuk untuk menanam sayur-sayuran. Winartania pun membagikan cara membuat pupuk kompos sendiri.

"Kalau misalnya sekarang mau mulai berkebun, pupuk itu tersedia di dapur kita, dari sampah organik menjadi kompos. Gimana caranya? Kalau saya dengan lubang biopori, sampah organik bisa masuk ke situ, jadi langsung menutrisi tanah. Atau kalau mau pakai komposter yang Tong itu juga bisa," dia menambahkan.

Bagi masyarakat yang mau mulai belajar bercocok tanam, Indonesia Berkebun punya siaran langsung cara menanam sayuran setiap harinya, yakni dimulai pukul 09.00 WIB.

"Akun instagramnya @idberkebun. Ada tema berkebun di atap, tema berkebun secara aquaponic, itu ada," pungkas Winartania.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya