Sejumlah pihak mempertanyakan angka kasus virus corona yang begitu rendah di India sehingga menjadikan India sebagai negara yang bisa mengalahkan wabah virus corona.
Sebuah pembicaraan tentang "India memiliki tingkat kematian yang rendah karena angka kasus di kota-kota besar di India lebih rendah dibandingkan dengan angka kasus di pusat penyebaran virus corona', menjadi sorotan.
Hampir dua bulan setelah kasus pertama tercatat, jumlah kasus infeksi Covid-19 di negara terpadat kedua di dunia ini melewati angka 27.000 dengan jumlah kematian sebanyak 800, seperti dikutip dari BBC, Senin (27/4)
Beberapa wilayah di India telah mencatat penurunan dramatis dalam angka kematian setelah pemberlakuan penguncian nasional.
Banyak profesional kesehatan masyarakat dan dokter mengatakan penetapan aturan itulah yang berhasil mencegah infeksi dan kematian.
Sementara yang lain meyakini tingkat populasi India yang sebagian adalah anak muda, membuat angka kasus di India menjadi rendah. Sebagaimana diketahui anak muda memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat dibanding usia lanjut.
Yang lainnya berpendapat, kemungkinan cuaca panas di India bisa mengurangi penularan.
Jadi, apakah India merupakan pengecualian dalam hal kematian akibat virus corona?
Dokter dan onkologi India-Amerika Siddhartha Mukherjee tidak dapat memastikan hal itu. Ia mengatakan kepada wartawan Barkha Dutt baru-baru ini.
"Sejujurnya, saya tidak tahu dan dunia tidak tahu jawabannya," katanya.
"Itu adalah sebuah misteri, saya katakan dan bagian dari misteri adalah kita tidak melakukan pengujian yang cukup. Jika kita menguji lebih dari itu kita akan tahu jawabannya."
Dia menyinggung kedua tes diagnostik yang menentukan mereka yang saat ini terinfeksi dan tes antibodi untuk mengetahui apakah seseorang sebelumnya terinfeksi dan pulih.
Pertanyaan lain adalah apakah ada angka yang 'hilang' dari angka kematian Covid-19 yang sesungguhnya.
Mempelajari data kematian di 12 negara, The New York Times menemukan bahwa pada bulan Maret setidaknya ada 36.000 orang meninggal selama pandemi virus corona, jumlah yang berbeda daripada jumlah kematian resmi . Ini termasuk kematian akibat penularan serta dari kemungkinan penyebab lainnya.
Dan analisis Financial Times dari keseluruhan kematian selama pandemi di 14 negara menemukan bahwa angka kematian akibat coronavirus mungkin hampir 60 persen lebih tinggi daripada yang dilaporkan dalam hitungan resmi.
Dan tidak satu pun dari dua studi tersebut yang menyebut India di dalamnya.
Dokter Prabhat Jha dari University of Toronto, yang memimpin Million Death Study memberikan sarannya, "Agar data ini benar, angka kematian yang belum terhitung harus dipertimbangkan."
"Sebagian besar kematian terjadi di rumah, perlu sistem penghitungan yang lain," kata Dr. Jha.
Sekitar 80 persen kematian di India masih terjadi di rumah. Ini termasuk kematian akibat infeksi seperti malaria dan pneumonia.
Sementara, kematian ibu melahirkan dan kematian akibat serangan jantung mendadak dan kecelakaan lebih sering dilaporkan dari rumah sakit.
Menghitung angka kematian di rumah sakit saja tidak akan cukup untuk mendapatkan jumlah kematian Covid-19 yang akurat.
Mencoba mendapatkan hitungan dari pemakaman di krematori dan tempat pemakaman sama sulitnya. Banyak orang India yang mati dikremasi di tempat terbuka di petak besar pedesaan. Layanan pemakaman hanya melayani sebagian kecil populasi.
K Srinath Reddy, presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India, mengatakan kematian anak-anak di rumah sakit dalam beberapa tahun terakhir telah dilaporkan secara rutin. Ia juga percaya lonjakan tajam dalam kematian di rumah dalam waktu yang lama juga tidak akan terjadi tanpa disadari.
Dengan tidak adanya sistem pengawasan kesehatan masyarakat yang kuat, para ahli mengatakan ponsel dapat digunakan untuk mencari tahu apakah ada lonjakan yang tidak biasa dalam kematian terkait influenza yang dapat dikaitkan dengan Covid-19.
Lebih dari 850 juta orang India menggunakan ponsel dan mereka dapat dibujuk untuk melaporkan kematian yang tidak biasa di desa mereka dengan nomor bebas pulsa. Pihak berwenang kemudian bisa menindaklanjuti kematian dengan mengunjungi keluarga dan melakukan "otopsi verbal".
Menghitung kematian selalu menjadi ilmu eksak di India.
Sekitar 10 juta orang meninggal di India setiap tahun, namun hanya 22 persen kematian di India yang bersertifikat medis.
Lalu ada pertanyaan tentang bagaimana mendefinisikan kematian Covid-19.
Beberapa dokter India melaporkan bahwa banyak orang meninggal karena gejala Covid-19 tanpa dites atau dirawat serta dokter yang sering salah mendiagnosis penyebab kematian.
"Ketika ada orang yang menderita demam dan masalah pernapasan sebelum meninggal, Anda mungkin mencurigai Covid-19. Tetapi mungkin itu sesuatu yang lain," kata Jean-Louis Vincent, seorang profesor Pengobatan Perawatan Intensif di Rumah Sakit Universitas Erasme Belgia.
"Kematian sering didahului oleh infeksi, tapi tidak selalu. Jika Anda tidak melakukan tes, Anda dapat mengaitkan banyak kematian dengan Covid-19. Atau malah menolak perannya sama sekali. Itulah sebabnya tingkat kematian dari flu Spanyol 1918 sangat bervariasi."
India mungkin kehilangan beberapa angka kematian dan tidak mendiagnosis setiap pasien dengan benar untuk Covid-19. Tetapi angka kematian di India masih tergolong rendah.
Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa negara itu telah berhasil melawan wabah.