Berita

Para 'Ojol" di China, Banyak Mengantar Makanan Saat Wabah Covid-19/Net

Dunia

Begini Kondisi Pasukan 'Ojol' Pengantar Makanan Saat Epidemi Covid-19 Menerjang China

RABU, 08 APRIL 2020 | 07:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Membeli dan membayar makanan juga persediaan secara online sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang China jauh sebelum wabah Covid-19.

Sehingga ketika pemerintah harus menutup sebagian besar wilayah negara itu, masyarakat China banyak mengandalkan aplikasi layanan pesan antar makanan.

Layanan pesan-antar makanan memainkan peranan penting di negara itu saat harus menghadapi penutupan wilayah dan pembatasan gerak akibat epidemi Covid-19.


Supir-supir pengantar makanan ini ikut berkontribusi dalam memberikan kenyamanan di saat masyarakat  kesulitan ke luar rumah.

Hu Xingdou, seorang ekonom politik independen yang berbasis di Beijing mengatakan, antaran ke rumah sangat dibutuhkan dan memegang peranan penting saat wabah terjadi.

“Pengiriman ke rumah memainkan peran yang sangat penting di tengah wabah virus corona. Hingga taraf tertentu, itu mencegah orang kelaparan terutama dalam kasus-kasus ketika pemerintah daerah mengambil tindakan ekstrem untuk mengisolasi orang,” ujar Xingdou, melansir South Cina Morning Post (SCMP), Selasa (7/4).

Ketika penutupan wilayah berlangsung, orang-orang di Wuhan harus tetap berada di dalam rumah. Para penjaga nampak siaga di setiap pintu keluar untuk mengawasi.

Kontak manusia terbatas pada internet. Masyarakat akhirnya memesan secara online persediaan makanan kepada petani, pedagang kecil, atau supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Berkat kepadatan penduduk yang tinggi di daerah perkotaan, banyaknya sumber daya manusia, dan keterbukaan masyarakat terhadap dunia digital, membuat China dengan mudah membangun jaringan pengiriman online yang berkembang dengan baik.

Hal itu tentu juga berdampak baik bagi ribuan pasukan pengantar makanan online di China yang bisa raih pendapatan yang cukup lumayan.

Mark Greeven, profesor inovasi dan strategi di IMD Business School di Lausanne, Swiss, mengatakan China memiliki sistem teknologi digital yang sangat baik.

"Apakah itu pengiriman produk, paket udara, atau makanan segar atau bahkan obat atau bahan untuk penggunaan medis, China memiliki sistem yang dikembangkan dengan sangat baik. Jauh lebih berkembang daripada yang saya kira hampir semua tempat lain di dunia," ujar Greeven.

Jauh sebelum krisis, China mulai merangkul teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari baik dalam konsumsi, bisnis, pemerintah, dan smartcity, dengan penggunaan pembayaran pihak ketiga.

"Semua hal ini sudah ada sejak lama, dan krisis atas wabah virus corona telah menguji ketangkasan dan kemampuannya untuk menghadapi permintaan yang tinggi,” tutur Greeven.

Meituan Dianping, platform e-commerce terkemuka, mengatakan layanan ritel kelontongnya Meituan Instashopping melaporkan pertumbuhan penjualan 400 persen dari tahun lalu di Februari dari supermarket lokal.

Barang-barang paling populer yang dipesan antara 26 Januari dan 8 Februari adalah masker wajah, desinfektan, jeruk keprok, buah-buahan segar dan kentang.

Tang Yishen, kepala JD Fresh, anak perusahaan makanan segar, mengatakan, "Lonjakan permintaan online untuk barang-barang segar menunjukkan pandemi membantu penyedia e-commerce semakin menembus ke dalam kehidupan pelanggan. Ini juga membantu produsen pertanian di hulu untuk mengenal dan mempercayai kami.”

Layanan pengiriman makanan Ele.me mengatakan bahwa, antara 21 Januari dan 8 Februari, pengiriman makanan beku naik lebih dari 600 persen tahun ke tahun, diikuti oleh hampir 500 persen pertumbuhan dalam pengiriman produk perawatan hewan peliharaan.

Di Beijing, Meituan menggunakan kendaraan self-driving untuk mengirimkan makanan ke stasiun pickup tanpa kontak. Ia juga menawarkan kotak kardus untuk digunakan sebagai alas yang bertujuan mencegah penyebaran tetesan di antara kliennya saat mereka makan di tempat kerja mereka.

Di Shanghai, Ele.me mempekerjakan drone pengiriman untuk melayani orang-orang yang sedang menjalani karantina di wilayah yang paling terkena dampak.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya