Berita

Personil pencegahan epidemi melakukan pemeriksaan di Guangzhou pada Selasa 6 April/Net

Dunia

Kasus Virus Corona Menyerang ‘Little Africa’ Di Guangzhou, Lima Warga Nigeria Dinyatakan Positif

RABU, 08 APRIL 2020 | 06:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pihak berwenang di kota Guangzhou, China selatan, menyoroti kemungkinan penularan virus corona di distrik 'Little Africa' setelah lima warga Nigeria yang berkunjung ke restoran di pusat kota dinyatakan positif Covid-19.

Kasus baru itu menjadikan Jalan Kuangquan di distrik Yuexiu, tempat 'Little Africa' diberlakukan kontrol yang ketat untuk semua orang yang keluar masuk wilayah itu.

Guangzhou adalah pusat perdagangan utama dan industri garmen yang menarik banyak pedagang dari seluruh dunia, termasuk Afrika.


Jalan Kuangquan yang dekat dengan sejumlah pasar internasional, kembali beroperasi sejak awal Maret setelah dulu termasuk wilayah yang ditutup saat pandemi Covid-19 mewabah di China.

Namun, pada Selasa (7/4), mulai diberlakukan kembali penjagaan ketat di pintu masuk. Sebelumnya, pada Sabtu lalu, dilakukan pemeriksaan suhu bagi pengunjung yang masuk ke jalan itu.

Pejabat Guangzhou melaporkan bahwa kota itu  memiliki 111 kasus impor Covid-19 termasuk setidaknya 16 pasien dari berbagai negara di Afrika, pada Selasa (7/4).

Pejabat kesehatan China telah memperingatkan negara itu untuk berjaga-jaga terhadap kasus impor dari negara-negara seperti Inggris dan Italia tetapi juga dari daerah dengan sistem kesehatan yang kurang berkembang.

Wakil Direktur Komisi Kesehatan Guangzhou, Ouyang Ziwen, mengatakan,  lima orang Nigeria yang dites positif sebelumnya sering mengunjungi restoran Emma Food di Jalan Kuangquan, yang sejak itu ditutup untuk pemeriksaan, melansir SCMP, Selasa (7/4).

Kelima orang Nigeria yang terdeteksi positif virus corona itu pun kemudian diisolasi.

Sejak ditemukannya kasus baru dari impor Covid-19, semua toko kembali ditutup dan beberapa ruas jalan mulai dilakukan pembatasan.

"Toko ditutup sejak 4 April dan saya telah mendengar bahwa penutupan akan berlangsung selama 14 hari," kata petugas kebersihan.

Warga mengeluh akan adanya pembatasan ini tetapi mereka harus mengikuti aturan pemerintah. Orang-orang Afrika yang biasanya terlihat beraktivitas di Jalan Kuangquan di distrik Yuexiu untuk melakukan bisnis, kini tidak terlihat lagi.

Yang menyedihkan adalah orang-orang Afrika yang tetap nekad datang untuk mencari peruntungan di Guangzhou dan tidak mengetahui akan adanya pembatasan ini. Bukannya bisnis yang mereka dapatkan, tetapi mereka malah menghabiskan uang untuk menyewa hotel untuk karantina.

Seorang warga Nigeria, Henry Odini, tiba di Guangzhou, dua pekan lalu dan terpaksa harus menyelesaikan karantina selama 14 hari di sebuah hotel.

“Ini pertama kalinya saya datang ke China (Guangzhou). Banyak teman dan kerabat telah menghasilkan banyak uang, jadi saya telah merencanakan untuk datang dan membeli pakaian, sepatu dan kemudian menjualnya di Nigeria. Sekarang satu-satunya hal yang saya inginkan adalah pulang tetapi tidak ada penerbangan,” ujar Henry dengan sedih.

Sosiolog di Universitas Sun Yat-sen Guangzhou, Liang Yucheng, mengatakan, ia optimis bahwa situasi akan membaik bagi masyarakat Afrika di kota itu.

“Saya pikir megacity seperti Guangzhou memiliki kapasitas untuk menangani sebanyak 100 kasus setiap hari. Pihak berwenang dapat mengendalikan situasi melalui penyelidikan epidemiologis yang komprehensif. Jadi masyarakat jangan panik,” kata Liang  yang prihatin dengan kondisi warga asing seperti Odini yang malah terdampar di kota itu.

Guangzhou mencatat, sekitar 11.000 orang Afrika tinggal dan bekerja di kota itu sejak 2017.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya