Berita

Ilustrasi penanganan corona/Net

Publika

Akselerasi Disrupsi Budaya Pandemi Covid-19 Di Indonesia: Sebuah Upaya Memahami Hikmah Di Balik Musibah

KAMIS, 02 APRIL 2020 | 20:09 WIB

SUDAH hampir satu bulan wabah virus Corona merebak di tanah air dan Pemerintah memberlakukan physical dan social distancing yang mewajibkan hampir semua aktifitas kehidupan dilakukan dari rumah.

Virus yang dikenal dengan nama SARCOV-2 ini telah menginfeksi 853,864 orang di seluruh dunia, dengan angka kematian sebanyak 42,000 orang. Di Indonesia sampai saat ini terdapat 1,528 penderita dan 136 orang yang meninggal dunia dengan Pulau Jawa sebagai epicentrum dan sebaran hampir merata di seluruh wilayah Indonesia.

Berkaca pada hipotesis penularan penyakit Covid 19 yang diduga melalui droplet dan aerosol menyebabkan seluruh dunia memberlakukan aturan physical distancing, menggalakkan penggunaan masker bedah serta perilaku hidup bersih dan sehat. Pemerintah Republik Indonesia pun memberlakukan hal yang sama, terhitung sejak tanggal 16 Maret sampai saat ini semua sekolah dan perguruan tinggi diliburkan, termasuk aktifitas perkantoran.


Istilah bekerja dari rumah (working from home = WFH), mendadak naik daun dan menjadi begitu populer di Indonesia.

Pembelajaran Jarak Jauh dan Kerja Jarak Jauh

Dalam tiga minggu terakhir kita bisa melihat fenomena menarik di negara kita, terlihat jelas bagaimana semua jajaran dosen, guru, mahasiswa, pelajar dan tenaga administrasi pendidikan berusaha keras untuk menguasai teknologi pembelajaran dalam jaringan (daring).

Berbagai platform pembelajaran jarak jauh dicoba dan digunakan, mulai dari yang gratis sampai yang berbayar, seakan kita semua baru tersadar akan pentingnya teknologi informasi dalam dunia pendidikan.

Sebenarnya format massive open online course (MOOC) merupakan salah satu wahana yang sudah lama ditawarkan sebagai upaya peningkatan akses dan kualitas metode pembelajaran. Kurang lebih tiga tahun terakhir ini, era disrupsi teknologi telah mengingatkan kita akan pentingnya teknologi digital, virtual reality, augmented reality, deep learning, dan machine learning, termasuk artificial intelligence, sebagai bekal inovasi untuk meningkatkan kemaslahatan umat manusia.

Kita tentu ingat, bagaimana platform “ruang guru”, yang dipelopori oleh Belva Devara, melesat menjadi start up digital bidang pendidikan terbaik di Indonesia. Berbagai penghargaan internasional pun disabet oleh “ruang guru”, karena dianggap sukses memberikan solusi dalam meningkatkan akses pendidikan di Indonesia.

Sampai saat ini tercatat “ruang guru” sudah dimanfaatkan oleh 15 juta pengguna dan mengelola sekitar 300.000 guru dalam 100 bidang pelajaran.

Hikmah positif pandemi Covid 19 telah memaksa dan mempercepat kita untuk menguasai teknologi pembelajaran jarak jauh tanpa harus mengurangi kualitas materi yang diajarkan serta target pencapaian pembelajaran. Fenomena ini seakan-akan telah menjadikan setiap rumah kita menjadi “ruang guru” versi baru, lengkap dengan para orang tua yang mendadak menjadi asisten dosen atau asisten guru.

Interaksi sosial seperti ini mungkin sudah lama terlupakan karena kita terlena dengan kesibukan sehari-hari. Sebuah hikmah positif yang tanpa kita sadari diberikan Allah SWT pada makhluknya di dunia.

Di sisi lain, kita bisa melihat bagaimana para karyawan juga sibuk menyelesaikan pekerjaannya dari rumah, melakukan pertemuan dan koordinasi secara on line serta berupaya mengatur pekerjaan seefisien mungkin.

Mungkin juga tidak disadari sebelumnya, betapa seharusnya banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan lebih cepat serta koordinasi yang bisa dikerjakan tanpa memandang lokasi, waktu maupun jarak. Virus Corona secara tidak langsung telah mengajarkan pada kita bagaimana bekerja lebih efisien, cepat dan tepat sasaran.

Banyaknya karyawan yang bekerja dari rumah telah menyebabkan lalu lintas menjadi lancar, tingkat polusi pun berkurang karena tidak ada lagi kemacetan dan kepadatan di jalan raya. Bila kita mengukur tingkat polusi udara Jakarta, mungkin saat ini peringkat kota kita di dunia mendadak akan membaik terlepas situasi serupa yang mungkin juga terjadi di negara lain.

Telemedicine dan Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Saat pandemi Covid 19 ini, sebagian besar rumah sakit menutup layanan rawat jalan dan pembedahan berencana sebagai upaya menurunkan risiko penularan. Sudah barang tentu hal ini menimbulkan masalah bagi pasien yang membutuhkan konsultasi dengan dokter mengenai penyakitnya.

Teknologi telemedicine saat ini sudah dikenal dan banyak dilakukan di berbagai negara untuk membantu mengatasi masalah jarak dan waktu dalam konsultasi antara pasien dengan dokter, ataupun antara fasilitas pelayanan kesehatan satu sama lainnya. Saat pandemi Covid-19 ini, berbagai organisasi profesi di dunia seperti American College Obstetric Gynecology (ACOG) mengeluarkan rekomendasi pengutamaan penggunaan telemedicine untuk setiap pasien yang ingin berkonsultasi dengan dokternya masing-masing.

National Health Services (NHS) Inggris sejak lama memiliki aplikasi berbasis telemedicine “Now GP” yang sudah melayani lebih dari 1 juta pasien. Indonesia sebagai raksasa teknologi digital Asia, pada tahun 2018 memiliki pengguna aktif smart phone lebih dari 100 juta penduduk. Kita merupakan negara terbesar ke-empat pengguna aktif smartphone di dunia, setelah China, India dan Amerika.

Peluang ini harus bisa kita manfaatkan dengan menjembatani kebutuhan pasien akan pelayanan kesehatan melalui teknologi telemedicine.

Sebagai negara dengan jumlah pulau lebih dari 17 ribu, dan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, sebenarnya penggunaan telemedicine di Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Walaupun Kementerian Kesehatan baru mengatur layanan telemedicine antar fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 20 tahun 2019, tetapi inilah saatnya kita mengakselerasi implementasi telemedicine antara dokter dan pasien yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama di era pandemi seperti sekarang.

Banyaknya startup digital dalam pelayanan kesehatan perlu didukung dan dilindungi oleh pemerintah melalui peraturan yang menyatakan tentang hak dan kewajiban dokter, pasien maupun provider dalam sebuah layanan telemedicine.
Penggunaan kanal telemedicine resmi dalam pelayanan kesehatan Indonesia diyakini merupakan salah satu jalan keluar yang ampuh untuk menutupi defisit program jaminan kesehatan nasional.
Inovasi Produk Kesehatan dalam Pandemi

Hikmah Pandemi Covid-19 ini juga telah memaksa kita untuk berpikir memenuhi kebutuhan alat medis dan obat-obatan secara mandiri. Selama ini tidak kurang dari 90% baik kebutuhan obat maupun alat medik kita datangkan dengan proses impor, sangat kontradiktif dengan nilai ekspor kita yang masih kecil.

Saat ini kita semua memutar otak bagaimana dalam waktu singkat bisa memenuhi kebutuhan alat pelindung diri, baik baju bedah, baju hazmat, masker, sarung tangan dan pelindung muka. Tidak kurang dari puluhan bahkan ratusan industri garment bahkan para pengrajin yang ada di negara kita turut berupaya memenuhi kebutuhan alat pelindung diri berupa baju atau masker.

Pemerintah pun turut berkontribusi dengan menggelontorkan dana sebesar 75 trilyun khusus bidang kesehatan. Stimulus ini diharapkan turut memacu inovasi produk kesehatan yang sangat dibutuhkan, sebutlah misalnya masker N95 dan ventilator, alat bantu napas yang diperlukan oleh penderita penyakti Covid-19 derajat berat.

Pandemi Covid-19 telah menyadarkan manusia dari keangkuhan dan kecerobohannya. Program pembatasan sosial berskala besar telah mengajarkan kita akan pentingnya arti promotif dan preventif dalam kesehatan. Momentum ini sekaligus kita manfaatkan untuk mendorong peran serta masyarakat dalam menjaga kesehatan.

Bahwa perilaku hidup bersih dan sehat sebenarnya adalah sebuah keniscayaan dalam aspek kesehatan suatu bangsa. Alhamdulillah selama masa pembatasan sosial berskala besar ini kita bisa melihat bagaimana bangsa Indonesia berlomba-lomba dalam mengamalkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Di samping itu sebagai bangsa yang besar tentu kita yakin bahwa budaya gotong royong merupakan nilai utama yang akan membawa bangsa kita keluar dari musibah ini sekaligus membangun ketahanan serta kemandirian yang kuat di bidang kesehatan.

Budi Wiweko
Gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Ketua Komisi 2 Senat Akademik Universitas Indonesia

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya