Berita

Wisma atlet yang dijadikan rumah sakit darurat untuk pasien corona/Net

Dunia

Studi Di London: Hanya Dua Persen Kasus Corona Yang Dilaporkan Di Indonesia

KAMIS, 26 MARET 2020 | 09:22 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sebuah studi dari Centre for Mathematical Modelling of Infectious Disease yang berbasis di London mengungkapkan, hanya dua persen dari kasus corona yang dikonfirmasi di Indonesia.

Menurut suatu model matematika, tidak mungkin bagi Indonesia memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi dengan jumlah kasus yang relatif rendah.

Pada Rabu (25/3), Kementerian Kesehatan melaporkan jumlah kasus corona di Indonesia mencapai 790 orang dengan 58 orang meninggal dunia.


Angka kematian tersebut adalah yang tertinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya yang terlebih dulu terinfeksi.

Dengan begitu, sebuah studi yang dimuat oleh Reuters mengungkapkan, kasus corona di Indonesia mencapai 34.300, melebihi Iran.

Sementara model studi lainnya mengungkapkan, terburuk, pada akhir April, sebanyak lima juta jiwa di Jakarta akan terinfeksi virus corona.

"Kami telah kehilangan kendali, itu telah menyebar di mana-mana," ujar seorang Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Ascobat Gani.

“Mungkin kita akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir kits berada dalam kisaran itu," lanjutnya.

Prediksi tersebut dimungkinan dengan faktor sistem kesehatan Indonesia yang sangat buruk jika dibandingkan dengan negara lain, termasuk Italia yang menjadi pusat penyebaran virus corona di Eropa.

Dengan status negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, menurut data Kemenkes, Indonesia hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit.

Itu artinya hanya ada 12 tempat tidur untuk 10.000 orang. Sementara untuk Korea Selatan, menurut WHO, memiliki 115 tempat tidur untuk 10.00 orang.

Pada 2017, WHO juga melaporkan, Indonesia hanya memiliki 4 dokter untuk 10.000 orang. Sementara Italia memiliki 10 kali lebih banyak dan Korea Selatan memiliki 6 kali lebih banyak.

Kendati begitu, Jurubicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, jika langkah-langkah social distancing dilakukan secara tepat, maka seharusnya tidak ada kebutuhan sebanyak itu untuk mengatasi virus.

Namun yang terjadi di lapangan, masih banyak warga Indonesia yang tidak mengindahkan aturan tersebut.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Prabowo Bidik Produksi Sedan Listrik Nasional Mulai 2028

Kamis, 09 April 2026 | 16:15

Program Magang Nasional Tidak Tersentuh Efisiensi

Kamis, 09 April 2026 | 15:56

BGN Siap-siap Dicecar DPR soal Pengadaan Motor Listrik MBG

Kamis, 09 April 2026 | 15:41

Gedung Kementerian PU Mendadak Digeledah Kejati DKI

Kamis, 09 April 2026 | 15:33

Gibran Dukung Hakim Ad Hoc di Persidangan Andrie Yunus

Kamis, 09 April 2026 | 15:21

Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:19

Prabowo Dorong VKTR Jadi National Champion Industri Otomotif RI

Kamis, 09 April 2026 | 15:08

Jalan Merangkak Demokrasi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:01

Gibran Ajak Deddy Sitorus Sama-sama Berkantor di IKN

Kamis, 09 April 2026 | 14:37

Susun RUU Ketenagakerjaan, Kemnaker Serap Aspirasi 800 Serikat Buruh

Kamis, 09 April 2026 | 14:30

Selengkapnya