Liberty Vittert, Ahli Statistik Amerika dan Pengamat Politik AS/Net
Virus corona menjadi momok tersendiri bagi jutaan orang di berbagai belahan dunia. Liberty Vittert, ahli statistik Amerika yang juga pengamat politik, mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan, bahwa virus corona telah merenggut privacy semua orang.
"Wabah virus corona membuat saya takut. Bukan takut terhadap virusnya, justru efek yang ditimbulkannya," ujar Vittert dalam laman Fox News.
Menurutnya, wabah virus corona membuat orang di seluruh dunia kehilangan kebebasannya. Kehidupan normal terhenti. Masyarakat diminta menjaga jarak satu sama lain untuk menghentikan penyebaran teror mikroskopis ini.
Vittert menegaskan ia telah mengira bahwa ia, dan jutaan masyarakat Amerika, akan menemui perubahan dahsyat. Di mana negara mulai memberlakukan pembatasan perjalanan, lalu toko, restoran, bar, dan pabrik terpaksa tutup. Demikian juga pekerja kantor melakukan tugasnya dari rumah, jutaan anak akan belajar dai rumah, dan masyarakat diminta untuk tinggal di rumah sebanyak mungkin dan hanya pergi ketika benar-benar diperlukan.
"Jika seorang penulis naskah imajinatif membuat film dengan plot ini hanya beberapa minggu yang lalu, dia mungkin diberitahu oleh studio film bahwa idenya terlalu liar dan sulit dipercaya bahkan untuk sebuah film fantasi," ungkap Profesor Praktik Ilmu Data di Oliin Business School yang juga penulis buku.
Virus corona adalah ancaman kesehatan yang serius - tidak ada yang bisa membantahnya. Sejauh ini, lebih dari 400.000 orang di seluruh dunia terserang virus corona, dengan angka kematian lebih dari 18.000 orang.
Sementara di Amerika Di AS, angka kasus meningkat pesat dan mengerikan, hingga mencapai 53.000 dan angka kematian tercatat lebih dari 700 orang.
Semua berduka atas musibah, mencoba berperang dengan musuh yang tak terlihat, bahkan semua orang belum pernah mendengar nama covid-19 ini sebelumnya.
Vittert menegaskan, ketika dalam upaya penyebarannya pemerintah terpaksa mengambil langkah serius dan meresahkan dengan membuat sebuah teknologi.
Fox News dan organisasi berita lainnya telah melaporkan bahwa perusahaan teknologi besar bekerja dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan Gedung Putih untuk memeriksa kemungkinan kasus penggunaan data untuk mengawasi dan melacak penyebaran virus corona. Apa maksudnya?
Vittert dengan tercengang menjelaskan, pemerintah melakukan pengawasan, termasuk pelacakan geolokasi!
"Teknologi itu memungkin segala informasi bisa dipancarkan oleh ponsel Anda, sehingga pihak berwenang dapat melacak pergerakan Anda di mana pun, selama beberapa minggu terakhir. Ponsel itu akan menjadi borgol di pergelangan kaki kita. Mereka melaporkan setiap langkah kita!"
Ketika seseorang terinfeksi virus corona, maka riwayat perjalanannya dicari, orang-orang yang pernah bertemu dengannya juga dicari. Ini juga berarti melibatkan penelusuruan data informasi dan akun media sosial, belum lagi isi pesan teks dan data nomor-nomor yang belakangan kontak dengannya.
"Bagaimana dengan penegakan hukum? Pernah ada pelanggaran yang dilakukan FBI yang membuat ribuan pencarian tidak sah warga negara Amerika antara 2017 dan 2018 dari data Badan Keamanan Nasional. Bukankah hal itu juga bisa terjadi saat ini?"
Pemerintah Israel juga telah menyetujui peraturan darurat yang memungkinkan jenis teknologi pemantauan ini.
"Apa yang lebih menakutkan? Anda bahkan tidak perlu didiagnosis dengan coronavirus agar tindakan ini dapat diterapkan, Anda hanya perlu 'dicurigai'," ujar Vittert.
Pemerintah Rusia juga telah menggunakan kamera pengawas, teknologi pengenalan wajah untuk memastikan bahwa orang yang terinfeksi tidak meninggalkan rumah atau hotel mereka. Lalu China menggunakan SenseTime (sebuah perusahaan intelijen buatan) untuk mengidentifikasi orang-orang dengan suhu tinggi atau mereka yang tidak memakai masker wajah.
"Semua mengintai kita, karena wabah virus ini," lanjut Vittert. "Jika saya tahu bahwa pemerintah akan mendapatkan akses penuh ke ponsel dan riwayat data saya, apakah berarti saya telah diuji virus corona? Saya bertaruh, banyak orang yang akan memilih untuk tidak dites virus corona."