Berita

Pengumuman penutupan fasilitas publik saat Flu Spanyol 1918/Net

Dunia

Jangan Hanya Belajar Dari Flu Spanyol 1918

SELASA, 24 MARET 2020 | 00:12 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Hari ini, kita, seluruh umat manusia di dunia tengah di hadapkan oleh suatu krisis yang mengancam kehidupan.

Bukan lagi soal perang dagang. Atau soal Iran dan Amerika Serikat (AS) yang saling serang.

Kali ini, kita menghadapi musuh yang merusak sistem. Sistem pernapasan yang menjalar ke sistem tanggap darurat hingga tampaknya ke sistem kenegaraan.


Luar biasa? Tentu.

Jangan pernah anggap remeh suatu patogen yang bisa menginfeksi manusia yang bernama virus corona itu.

Atau, sesuai pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus itu sekarang sudah memiliki nama resmi, Coronavirus Disease (Covid-19).

Jangan karena tidak bisa dipandang oleh mata telanjang lalu kita jadi tenang.

Bukankah lebih berbahaya jika kita memiliki musuh yang tidak dikenali dan tidak terlihat?

Jangankan untuk menghindar, ketika diserang pun mungkin kita tidak sadar.

Meski bagi umat manusia yang hidup di zaman ini, corona adalah pandemik pertama yang dialami. Namun, tidak bagi planet yang kita tinggali bernama Bumi.

Mungkin, sudah ada belasan bahkan puluhan, atau mungkin ratusan pandemik yang sudah dirasakan oleh Bumi.

Yang tampaknya masih bisa ketahui dengan segala keterbatasan informasi pada saat itu adalah Flu Spanyol 1918.

Sekali lagi, jangan pernah meremehkan suatu penyakit. Namanya memang flu, gejalanya pun seperti orang terkena influenza pada umumnya.

Namun pada saat itu, dengan kondisi yang tidak memungkinkan pasca Perang Dunia I. Dengan keterbatasan kemampuan negara-negara, pandemik yang berlangsung dari Januari 1918 hingga Desember 1920 itu dikatakan telah menginfeksi 500 juta orang, atau sekitar seperempat dari populasi umat manusia di Bumi.

Dari angka tersebut, korban meninggal dunia diperkirakan mencapai 50 juta. Beberapa sumber bahkan menyebutkan di atas 100 juta.

Tidak tahu pasti. Semua negara sibuk untuk mengatasi pandemik pasca perang hingga tidak ada waktu untuk menghitung.

Ya, penyakit ini memang menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak ada ampun.

Alhasil, selain dijuluki sebagai Flu Spanyol, penyakit yang juga berasal dari H1N1 ini juga disebut "The Mother of Pandemic".

Seperti halnya virus corona, asal muasal dari Flu Spanyol juga terus dipertanyakan.

Bukan berarti karena namanya Flu Spanyol berarti berasal dari Spanyol.

Dan bukan berarti Virus China berasal dari China.

Beberapa penelitian menyebutkan, Flu Spanyol pertama kali diidentifikasi di sebuah kamp militer di Inggris.

Beberapa lainnya melaporkan Flu Spanyol berasal dari Amerika Serikat.

Adalah Sejarawan Santiago Mata yang mengungkapkan pandemik tersebut kemungkinan berasal dari Kansas. Menurutnya, pandemik Flu Spanyol sudah terlebih dulu terjadi pada 1917 di setidaknya 14 kamp militer AS.

Namun, penelitian lainnya menunjukkan, Flu Spanyol juga kemungkinan berasal dari China. Di mana tingkat kematian di China pada saat pandemik terbilang rendah yang dianggap warga China sebenarnya telah kebal.

Selain itu, obat tradisional China juga terbukti ampuh mengobati pasien.

Sekarang, asal muasal virus corona juga masih diperdebatkan. Mulai dari pasar makanan laut Wuhan, kebocoran laboratorium biologi China, hingga dibawa oleh tentara AS.

Seakan sangat merujuk pada Flu Spanyol 1918, penanganan pandemik corona juga mengadopsi beberapa langkah yang dilakukan oleh negara-negara pada saat itu.

Misalnya saja lockdown atau penguncian terhadap suatu wilayah yang terinfeksi.

Pada 7 November 1918, selebaran pengumuman muncul di Kelowna, Kanada.

Dalam pengumuman tersebut. Walikota Kelowna, D.W. Sutherland memberitahukan kepada publik terkait dengan pembatasan pergerakan warga.

"Dengan ini, untuk mencegah penyebaran Influenza Spanyol, semua sekolah, publik maupun swasta, gereja, Moving Picture Halls, Pool Room, dan tempat-tempat hiburan lainnya, serta pertemuan Lodge harus ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut," demikian pengumuman tersebut.

"Semua pertemuan publik yang terdiri dari sepuluh atau lebih dilarang," lanjut pengumuman yang dibuat pada 19 Oktober 1918 itu.

Agaknya, itu mirip dengan apa yang dilakukan oleh hampir semua negara terdampak saat ini.

Mulai dari China, Italia, AS, Jerman, Inggris, Malaysia, bahkan hingga Indonesia (di beberapa kota).

Tetapi dengan pengalaman Flu Spanyol yang memakan jutaan jiwa, bukankah seharusnya kita belajar untuk bergerak lebih cepat?

Pada saat Flu Spanyol, butuh waktu tiga pekan untuk bisa mengumumkan kepada publik seperti pemberitahuan dari Walikota Kelowna tadi.

Namun saat ini, semua serba bisa instans. Informasi mudah didapatkan.

Sehingga, alih-alih hanya mengadopsi, bukankah kita harus mengevaluasi dan menerapkan langkah-langkah baru yang lebih menjanjikan?

Sudah saatnya umat manusia belajar untuk mengatasi pandemik. Karena jika tidak, ketika generasi setelah kita mengalami hal yang serupa, mereka harus ikut merasakan ketakutan dan kehilangan banyak orang terkasih seperti saat ini.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya