Berita

Petugas mengecek suhu di bandara/Net

Dunia

Menyoroti Kesiapan Afrika Hadapi Wabah Virus Corona

SENIN, 23 MARET 2020 | 22:57 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Negara-negara di benua Afrika cepat tanggap menghadapi wabah virus corona yang menjadi pandemi saat ini.

Awal tahun ini, ketika laporan pertama dari virus bernama resmi Covid-19 ini mulai keluar dari China, banyak pengamat kesehatan global yang cemas jika virus tersebut mulai menyebar di Afrika.

Pasalnya, pandemi yang meluas di Afrika dapat melumpuhkan sistem perawatan kesehatan yang rapuh di benua itu dan menghancurkan secara ekonomi. Terlebih, Afrika juga kemungkinan akan kesulitan mendapat donor asing, mengingat banyak negara donor saat ini juga sedang kewalahan dengan wabah virus corona di negara mereka sendiri.


Kecemasan itu menjadi kenyataan ketika selang dua bulan kemudian, virus itu pun menyebar hingga ke Afrika. Namun sejauh ini, data per akhir pekan kemarin, jumlah kasus infeksi virus corona di Afrika cenderung rendah.

Hingga Sabtu (21/3), lebih dari separuh negara di benua itu, tepatnya 36 dari 54 negara di Afrika telah mengkonfirmasi kasus infeksi. Di antara negara Afrika yang mengkonfirmasi kasus infeksi, Afrika Selatan menjadi negara dengan kasus tertinggi, tepatnya ada 150 kasus infeksi virus corona yang dikonfirmasi.

Meskipun demikian, banyak negara di Afrika merespons pandemi tersebut secara agresif walau jumlah kasus yang dilaporkan masih sedikit.

Di Nigeria, misalnya, kota terbesar di negara tersebut, Lagos, segera menutup sekolah tidak lama setelah delapan kasus infeksi virus corona dikonfirmasi secara nasional.

Di Afrika Selatan, pemerintahnya segera melarang pengunjung dari negara-negara berisiko tinggi, menutup sekolah dan dengan cepat membuka pusat pengujian drive-through di Johannesburg.

Sejauh ini, jumlah kasus infeksi virus corona di benua Afrika masih cenderung sedikit jika dibandingkan dengan benua lainnya, seperti Asia dan Eropa.

Kepala wilayah Afrika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Matshidiso Moeti mengatakan pada pekan lalu,  ebagian besar kasus infeksi virus corona di Afrika diimpor dari Eropa. Sejauh ini, memang ada transmisi virus di antara warga di Afrika, namun jumlahnya masih sedikit.

"Meskipun mungkin ada beberapa infeksi yang tidak terdeteksi, kami tidak berpikir ini jumlahnya sangat besar," kata Moeti.

Para peneliti banyak yang mempertanyakan apakah Afrika, entah bagaiman,a kurang rentan terhadap virus corona. Atau kah itu masih dalam fase awal epidemi.

Moeti sendiri berspekulasi bahwa jumlah kasus yang rendah di Afrika mungkin disebabkan karena Belahan Bumi Selatan baru saja keluar dari musim panas.

"Di negara-negara Amerika selatan, ada juga yang menyebar tetapi belum sama dengan yang kita lihat di Global Utara. Jadi kami berusaha memahami apakah ini bisa terkait dengan suhu atau cuaca," katanya dalam konferensi video, seperti dimuat npr.org.

"Kami memiliki musim flu yang berbeda di bagian selatan benua dan beberapa negara Afrika Timur. Dari kesimpulan ini, kami mungkin memprediksi, mungkin dalam beberapa bulan ketika musim dingin tiba di Selatan, untuk melihat peningkatan tingkat penularan virus ini," sambungnya.

Meski demikian, banyak pakar yang mempertanyakan soal kemungkinan jumlah kasus infeksi virus corona di Afrika yang dikonfirmasi sangat rendah terjadi karena virus tersebut tidak terdeteksi.

Pasalnya, pada awal Februari lalu saja, negara yang siap melakukan tes virus corona hanya Senegal dan Afrika Selatan.

WHO sendiri telah membantu 43 negara Afrika lainnya untuk membangun atau menambah laboratorium nasional mereka sehingga mereka juga dapat menguji virus ini.

Kapasitas keseluruhan laboratorium tersebut rendah, dan tes harus dilakukan di ibu kota. Tetapi mencapai level dasar kemampuan pengujian dalam negeri dapat menjadi sangat penting ketika perbatasan ditutup dan transportasi udara internasional terhenti.

Moeti sendiri mengakui bahwa mengelola wabah besar di Afrika kemungkinan sulit. Namun WHO memberikan dua rekomendasi utama yakni menjaga jarak dan mencuci tangan secara sosial.

"Terkadang keluarga tinggal di rumah-rumah di mana Anda tidak memiliki kamar tidur untuk setiap anggota keluarga," kata Moeti.

"Selain itu mereka mungkin berada di rumah-rumah yang tidak memiliki air yang mengalir sehingga kemungkinan mencuci tangan dengan cara yang disarankan dengan sabun merupakan tantangan dalam keadaan itu," tambahnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

UPDATE

OTT Tak Berarti Apa-apa Jika KPK Tak Bernyali Usut Jokowi

Minggu, 08 Februari 2026 | 06:17

Efektivitas Kredit Usaha Rakyat

Minggu, 08 Februari 2026 | 06:00

Jokowi Tak Pernah Berniat Mengabdi untuk Bangsa dan Negara

Minggu, 08 Februari 2026 | 05:51

Integrasi Transportasi Dikebut Menuju Jakarta Bebas Macet

Minggu, 08 Februari 2026 | 05:25

Lebih Dekat pada Dugaan Palsu daripada Asli

Minggu, 08 Februari 2026 | 05:18

PSI Diperkirakan Bertahan Jadi Partai Gurem

Minggu, 08 Februari 2026 | 05:10

Dari Wakil Tuhan ke Tikus Got Gorong-gorong

Minggu, 08 Februari 2026 | 04:24

Pertemuan Kapolri dan Presiden Tak Bahas Reshuffle

Minggu, 08 Februari 2026 | 04:21

Amien Rais Tantang Prabowo Copot Kapolri Listyo

Minggu, 08 Februari 2026 | 04:10

PDIP Rawat Warisan Ideologis Fatmawati

Minggu, 08 Februari 2026 | 04:07

Selengkapnya