Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Sepenggal Cerita Hari Valentine Di Kota Suci Di Irak, Cinta Dan Kekhawatiran Datang Bersamaan

MINGGU, 16 FEBRUARI 2020 | 21:26 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Hiruk-pikuk hari kasih sayang atau valetine yang umum dirayakan di Barat setiap tanggal 14 Februari rupanya juga ikut dirasakan oleh sebagian orang di Irak, termasuk di kota Najaf.

Salah seorang penjual bunga di kota itu, Hasanain al-Rufaye mengaku bahwa tokonya kewalahan melayani pesanan karangan bunga dan boneka serta balon pada Hari Valentine kemarin.

"Ini hari Valentine. Pada hari-hari normal, itu (pesanan) akan dapat sibuat 10 menit, tapi saat ini tidak mungkin," kata Rufaye kepada seorang pelanggan melalui sambungan telepon. Dia berbicara soal waktu tunggu untuk menyiapkan pesanan.


Meski kebanjiran pesanan di Hari Valentina, Rufaye mengaku bahwa dia masih menyimpan keresahan akan perayaan Hari Valentine di tempatnya.

"Masih ada beberapa kekhawatiran dan ketakutan," aku Rufaye kepada New York Times.

Dia mengenang pengalaman buruknya di Hari Valentine yang bisa sewaktu-waktu penuh dengan ketegangan. Pernah sewaktu-waktu tokonya diserbu oleh kerumunan orang yang marah karena dia menjual bunga untuk perayaan valentine.

Rufaye bahkan diteriaki "kafir" oleh kelompok massa itu dan dipukuli hingga pakaiannya robek. Tidak sampai di situ, massa juga merusak tokonya, membakar bunga, boneka dan balon yang dia jual.

"Itu adalah hari paling sulit dalam hidup saya," kenangnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, setiap Hari Valentine, Najaf yang terletak di selatan Irak itu kerap berubah menjadi "medan pertempuran". Bukan tanpa alasan, pasalnya di satu sisi banyak pendukung kebebasan pribadi serta mereka yang ikut bersuka-cita di Hari Valentine, namun di sisi lain, tidak sedikit kaum konservatif yang memandang perayaan Hari Valentine sebagai bentuk penistaan.

Mereka yang menentang keras perayaan Hari Valentine memandang bahwa perayaan asing semacam itu tidak memiliki tempat di Najaf, kota yang disucikan bagi Muslim Syiah.

Karena itulah, sebagian dari mereka tidak ragu melakukan razia atau aksi main hakim sendiri ketika Hari Valentine, sebagai bentuk penentangan. Bukan hanya itu, tahun-tahun sebelumnya, kelompok konservatif juga kerap menggelar acara berkabung agama di dekat toko-toko yang menjual hadiah-hadiah valentine. Hal ini dilakukan sebagian untuk melawan perayaan cinta.

Namun tahun ini, hal semacam itu dibatalkan oleh otoritas keamanan setempat dengan alasan keamanan.

Sang penjual bunga, Rufaye, mengaku bahwa dengan pengalaman pahit yang pernah dia alami, dia tetap menjalankan usahanya itu.

"Alhamdulillah, saya menjalankan agama saya. Saya salat dan berpuasa, tetapi saya bukan garis keras dalam hal agama," kata Rufaye.

"Saya suka hidup. Saya suka orang-orang menjadi optimis dan bahagia," sambungnya.

"Najaf adalah kota suci dan saya menentang orang-orang yang bernyanyi atau menari di jalan. Tetapi jika seseorang membeli hadiah untuk tunangannya, istri, ibu atau saudara perempuannya, lalu apa masalahnya?" ujarnya.

"Itu hanya boneka beruang atau bunga," tambah Rufaye.

Kota Najaf sendiri merupakan kota di mana nilai-nilai agama ditanamkan pada penduduknya sedini mungkin. Ini adalah kota suci dan tempat yang terhormat bagi kaum Syiah.

Maka dari itu, tidak heran jika di kota ini banyak ditemui peziarah yang datang atau perayaan Syiah.

Namun masalah "kesucian" Najaf telah memicu perdebatan sengit sejak beberapa tahun terakhir. Sekelompok orang pro-kebebasan telah menuntut undang-undang yang melarang perempuan untuk tidak mengenakan jilbab di depan umum atau toko-toko yang memajang pakaian wanita di jendela atau di jalan, dicabut. Mereka menilai bahwa hal itu bertentangan dengan moralitas publik.

Dewan Provinsi yang kini telah dibubarkan, sempat mengadakan pembicaraan antara pendukung usulan itu serta mereka yang menentang, termasuk ulama, pengacara dan aktivis.

Mantan Kepala Komite Hukum Dewan Provinsi yang ikut menangani perkara itu, Hussein al-Essawi menjelaskan bahwa pada akhirnya, Dewan tidak mendukung usulan itu, namun mengadopsi keputusan provinsi tahun lalu untuk menunda sejumlah RUU yang melarang mengadakan pesta dengan menari atau menari.

"Beberapa orang mengeksploitasi kesucian kota dan status Najaf untuk mencoba membatasi kebebasan," kata Essawi.

"Agama berarti toleransi, itu berarti budaya, kebebasan dan demokrasi. Banyak ulama menentang kebebasan yang menyesakkan," jelas Essawi.

"Najaf adalah kota suci, dengan atau tanpa hukum," tambahnya.

Di sisi lain, bekas anggota Dewan Provinsi, Hasan Hamza berpendapat sebaliknya. Dia berpendapat bahwa aturan hukum semacam itu diperlukan di Najaf untuk menghindari perilaku ofensif, termasuk perempuan berpakaian tidak sopan atau beberapa kafe yang mempekerjakan perempuan untuk menarik pelanggan laki-laki.

"Kami mempertimbangkan hak asasi manusia, modernitas dan demokrasi," katanya.

Dia juga menilai bahwa perayaan asing, termasuk valentine, harusnya diadakan di tempat-tempat pribadi seperti hotel dan rumah, bukan di jalan.

"Ini mengacak-acak bulu-bulu orang lain di masyarakat," tambahnya.

Komentar senada juga dilontarkan oleh salah satu penyelenggara kegiatan berkabung jelang Hari Valentine di Najaf, Emad Rasoul. Dia mengatakan bahwa selain alasan agama dan memperingati pejuang yang tewas dalam pertempuran melawan militan Negara Islam, mereka juga ingin mengirim pesan kepada kaum muda bahwa Hari Valentine bukan merupakan bagian dari budaya mereka.

"Ini bukan perayaan kita untuk merayakan. Perayaan ini bertentangan dengan konstanta agama dan sosial kita," ujarnya.

"Tujuannya bukan untuk mengubah Najaf menjadi kota yang tertutup atau tidak beradab, tetapi ada oportunis yang ingin menodai citra Najaf dan sekte-sekutunya," klaimnya.

"Mereka ingin merusak kota dengan ide-ide seperti Valentine. Tidak ada yang namanya Valentine di Najaf," tegas Rasoul.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya