Berita

Yudi Utomo ketika menjelaskan baterai nuklir temuannya kepada mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan di UGM, Jogjakarta, bulan Desember 2019./UGM

Nusantara

Ahli Nuklir Indonesia: Jenis Kontaminasi Radioaktif Di Tangerang Seperti Di Chernobyl Dan Fukushima

SABTU, 15 FEBRUARI 2020 | 01:22 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Jenis radioaktif yang bocor di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan, Banten, sama dengan dari radioaktif yang bocor di Chernobyl, Rusia, tahun 1986 dan Fukushima, Jepang, tahun 2011.

Karena itu penangannya atau dekontaminasi terhadap radioaktif itu harus dilakukan dengan cara yang sama. Tanah yang terkontaminasi diambil dan disimpan dalam karung selama 30 tahun.

Demikian dikatakan ahli nuklir Indonesia dari Universitas Gadjah Mada, Yudi Utomo Imardjoko, dalam keterangan yang disampaikan kepada redaksi Kantor Berita Politik RMOL, Jumat malam (14/2).


“Sumber radioaktif tersebut namanya Caesium137. Umur radiasi 30 tahun. Memancarkan sinar gamma. Sinar gamma mudah menembus tanah dan larut dalam air tanah. Kalau kena manusia atau makhluk hidup, ikut air atau tertelan bisa mematikan,” katanya menerangkan.

“Jadi harus secepatnya didekontaminasi,” sambung mantan Dirut BatanTek, sebuah BUMN yang memproduksi radio isotop untuk keperluan medis.

Cara mendekontaminasi tanah yang tercemar oleh zat radioaktif itu adalah dengan mengamankannya dan menggantikannya dengan tanah yang belum tercemar.

“Lalu tanah yg tercemar dimasukkan dalam karung disimpan selama 30 tahun,” kata Yudi lagi yang baru-baru ini berhasil menciptakan baterai nuklir yang dapat bertahan antara 40 hingga 80 tahun.

Menurut Yudi lagi, metode dekontaminasi ini sepintas terlihat merepotkan, karena kontaminasinya sama dengan yang di Chernobyl dan Fukushima.

Kenaikan paparan radiasi di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan, ditemukan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada tanggal 7 dan 8 Februari lalu.

Menurut Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten Indra Gunawan, setelah mengangkat serpihan sumber radioaktif dan melakukan pemetaan ulang, laju paparan mengalami radioaktif penurunan.

“Namun masih di atas nilai normal," ujarnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya