Berita

Peti jenazah Qassem Soleimani/Net

Muhammad Najib

Meningkatnya Eskalasi Dan Ancaman Perang Terbuka Antara Amerika Dan Iran

SENIN, 06 JANUARI 2020 | 09:55 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SEBELUM dimakamkan di kota kelahirannya Kerman yang direncanakan pada Selasa (7/1), jenazah Almarhum Mayor Gendral Qassem Soleimani yang diiringi oleh puluhan ribu massa yang berduka, dibawa menyinggahi kota-kota suci Syiah di Irak, mulai dari Karbala sampai ke Najaf sebagai bagian dari prosesi berkabung, sekaligus memberikan kesempatan  bagi masyarakat setempat untuk memberikan penghormatan terakhirnya.

Kemarin Ahad (5/1) peti yang menyimpan jenazah almarhum yang disebut-sebut sebagai orang kuat kedua Iran sesudah Ayatollah Ali Khamenei, sudah memasuki kota Ahvaz di Iran. Di negaranya lebih banyak lagi massa yang bergabung dalam iring-iringan memenuhi jalan yang dilaluinya, sehingga menyerupai lautan manusia.

Hari ini Senin (6/1) diharapkan peti jenazah almarhum akan tiba di kota Mashad, salah satu kota suci bagi penganut Syiah, karena di tempat ini Imam Reza yang merupakan salah satu dari Imam penganut Syi'ah dimakamkan. Dari Mashad peti jenazah akan diteruskan ke ibukota Teheran.

Bersamaan dengan itu, eskalasi politik dan militer di kawasan Timur Tengah meningkat dengan cepat. Di Irak Perdana Mentri Adil Abdul Hadi dalam pidatonya yang disiarkan secara live oleh TV Aljazeera, menyatakan bahwa kehadiran Qossem Soleimani di Bagdad sebagai tamu negara Irak, yang dijadwalkan akan bertemu dengan dirinya pada hari yang sama saat ia diserang pada Jumat (3/1) dinihari.

Ia mengingatkan bahwa tindakan tentara Amerika telah melampaui wewenangnya, sebagai pasukan asing di Irak yang dimaksudkan untuk melatih tentara Irak dalam rangka melindungi rakyat dan wilayah Irak dari kemungkinan serangan negara asing.

Ia menganggap tentara Amerika di Irak telah menginjak-injak kedaulatan Irak, dengan melakukan tindakan yang dikategorikannya sebagai "agresi". Apalagi semua tindakannya tersebut, tanpa seijin dan tanpa sepengetahuan pemerintah resmi di Bagdad.

Karena itu, ia meminta agar Parlemen Irak untuk segera bersidang untuk mengambil keputusan terkait pengusiran tentara Amerika, atau setidaknya membuat jadwal kapan tentara asing harus meninggalkan negrinya.

Pidatonya diakhiri dengan kalimat yang sangat tegas, dengan mengatakan bahwa masa depan hubungan Irak dengan Amerika ditentukan oleh penghormatan Amerika terhadap  kedaulatan negara Irak dan martabat bangsanya.

Pada saat bersamaan, serangan sporadis terhadap sejumlah pangkalan militer dan kedutaan Amerika di Bagdad mulai berlangsung, meskipun diberitakan sampai saat ini belum ada korban.

Di Lebanon Selatan di depan ribuan pendukungnya, Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah menyatakan bahwa pembunuhan Qassem Soleimani oleh Amerika merupakan tindakan kriminal. Karena itu, kawasan Timur Tengah saat ini memasuki fase baru yang lebih panas dari sebelumnya, baik secara politik maupun militer tentunya.

Di Washington DC Presiden Amerika Donald Trump menebar ancaman baru, dengan menyebutkan 52 daftar lokasi penting di Iran yang siap dihancurkan bila Teheran berani melakukan pembalasan. Pada saat bersamaan Amerika mengirim pasukan baru melalui Kuwait, untuk menambah ribuan tentaranya yang kini sudah tersebar di seluruh pangkalan militernya di negara-negara Teluk dan Afghanistan yang menjadi tetangga Iran.

Bagai gayung bersambut, dari Teheran Komandan Garda Republik Islam Iran , Gholamali Abuhamzeh menyebutkan sekurangnya ada 35 target vital Amerika di Timur Tengah, termasuk Tel Aviv bisa dijangkau kekuatan militer Iran.

Qatar dan Oman, dua negara Teluk yang memiliki hubungan baik dengan Iran maupun Amerika, bergegas mengirimkan utusan ke Teheran untuk meredam keadaan, agar perang terbuka antara Amerika dan Iran dapat dihindari. Uni Eropa juga sedang melakukan hal yang serupa dengan mengundang Menlu Iran Mohammad Javad Zarif untuk berkunjung ke Brussels, tempat kantor UE berada.

Kita tentu berharap, semoga misi mulia mereka berhasil. Karena jika gagal, maka bukan mustahil seluruh Timur Tengah akan terbakar, dan dunia akan terguncang hebat, baik karena tumpahan minyak yang tak terkendali ataupun oleh berhentinya aliran minyak dari kawasan ini. Wallahua'alam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Besar Kemungkinan Bahlil Diperintah Jokowi Larang Pengecer Jual LPG 3 Kg

Selasa, 04 Februari 2025 | 15:41

Viral, Kurs Dolar Anjlok ke Rp8.170, Prabowo Effect?

Sabtu, 01 Februari 2025 | 18:05

Jokowi Kena Karma Mengolok-olok SBY-Hambalang

Jumat, 07 Februari 2025 | 16:45

Alfiansyah Komeng Harus Dipecat

Jumat, 07 Februari 2025 | 18:05

Prabowo Harus Pecat Bahlil Imbas Bikin Gaduh LPG 3 Kg

Senin, 03 Februari 2025 | 15:45

Bahlil Gembosi Wibawa Prabowo Lewat Kebijakan LPG

Senin, 03 Februari 2025 | 13:49

Pengamat: Bahlil Sengaja Bikin Skenario agar Rakyat Benci Prabowo

Selasa, 04 Februari 2025 | 14:20

UPDATE

Tulisan 'Adili Jokowi' Curahan Ekspresi Bukan Vandalisme

Minggu, 09 Februari 2025 | 07:36

Prabowo Harus Mintai Pertanggungjawaban Jokowi terkait IKN

Minggu, 09 Februari 2025 | 07:26

Penerapan Dominus Litis Melemahkan Polri

Minggu, 09 Februari 2025 | 07:03

Rontok di Pengadilan, Kuasa Hukum Hasto Sebut KPK Hanya Daur Ulang Cerita Lama

Minggu, 09 Februari 2025 | 06:40

Senator Daud Yordan Siap Naik Ring Lagi

Minggu, 09 Februari 2025 | 06:17

Penasihat Hukum Sekjen PDIP Bongkar Kesewenang-wenangan Penyidik KPK

Minggu, 09 Februari 2025 | 05:53

Lewat Rumah Aspirasi, Legislator PSI Kota Tangerang Ajak Warga Sampaikan Unek-Unek

Minggu, 09 Februari 2025 | 05:36

Ekonomi Daerah Berpotensi Merosot akibat Sri Mulyani Pangkas Dana TKD

Minggu, 09 Februari 2025 | 05:15

Saat yang Tepat Bagi Prabowo Fokus MBG dan Setop IKN

Minggu, 09 Februari 2025 | 04:57

7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Menuju Indonesia Emas

Minggu, 09 Februari 2025 | 04:42

Selengkapnya