Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Semrawut Asuransi Jiwasraya, Membuat Jiwa Tak Berdaya

JUMAT, 03 JANUARI 2020 | 03:40 WIB

JIWA merasa resah? Takut kehidupan masa depan tak indah? Lebih tenang rasanya jika telah ada jaminan? Maka, menjadi pilihan jika masyarakat bertumpu pada asuransi jiwa. Untuk menjamin kehidupan yang pasti di masa depan.

Namun, apalah daya impian hanya sekadar di angan. Masalah demi masalah datang bertubi. Uang pun kemungkinan kecil bisa di genggaman. Badan asuransi jiwa tertua di Indonesia saat ini sedang bermasalah. Bahkan sedang merugi triliun-an rupiah.

Disebutkan di laman detik.com Asuransi Jiwasraya tekor Rp 32 triliun. Defisit terbesar ke-2 setelah masalah Badan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Salah satu masalah yang membuat defisit ini karena adanya bisnis asuransi yang justru memberatkan tubuh Persero sendiri. Menurut Direktur Utama Jiwasraya (JS) Hexana Tri Sasongko, skema ponzi telah memaksa asuransi untuk memakai premi para anggota untuk membayar klaim jatuh tempo.


Dua bisnis yang menjatuhkan ini adalah penawaran fixed return, pada nasabah hingga 14 persen. Selain itu adalah produk JS Saving Plan dengan garansi imbal hasil lebih tinggi. Produk macam inilah yang memaksa perusahaan pelat merah untuk bermain di dunia saham. Sayangnya permainan sahamnya tidak memilih yang mudah dijual lagi (liquid aset). Padahal setiap hari ada saja produk yang jatuh tempo.

Alhasil banyak nasabah yang mulai tidak percaya pada JS. Sehingga mereka banyak yang menarik uangnya kembali. Padahal uang mereka masih ada di putaran saham. Inilah yang membuat JS kolaps.

Menurut Said Didu, Mantan Sekretaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini, dikutip oleh CNBC Indonesia (19/12/19) ada dugaan korupsi dalam masalah ini. Faktanya defisit yang dialami cukup besar. Tidak mungkin hanya karena bisnis semata. Sehingga butuh penyelesaian tuntas dari segala lini.

Kondisi ini bertambah buruk tatkala BUMN sering kali menjadi tumpuan sponsorship demi beragam proyek individu. Seperti JS yang mensponsori kedatangan team sepak boal Manchester City. Tentu saja kegiatan sponsorship ini akan menguras keuangan JS. Sudah keuangan bermasalah, ditambah menjadi sponsor. Alamat keuangan menjadi tekor.

Bukan yang pertama

Masalah kebangkrutan BUMN ini bukanlah kali pertama. Sebelum Jiwasraya ada beberapa BUMN yang telah kolaps lebih dahulu. Sebut saja perusahaan Krakatau Steel atau Pertamina yang juga sedang bermasalah. Semua bermasalah karena kesalahan pengelolaan dan paksaan keadaan. Ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi BUMN tersebut.

Mau tidak mau cengkraman kapitalisme telah melumpuhkan kinerja perusahaan milik negara itu. Mulai dari BUMN yang berbentuk korporasi, adanya lingkaran kekuasaan yang memanfaatkan BUMN demi kepentingan individu, baik untuk memperkaya diri atau kebutuhan akan kursi politik hingga proses mencari untung dengan cara riba telah menjatuhkan BUMN diambang kebangkrutan.

Menyadarkan rakyat


BUMN harusnya bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Memenuhi kebutuhan rakyat itu yang terpenting. Bukan sekadar mencari keuntungan. Inilah yang menyebabkan BUMN menjadi korporasi, beroperasi demi mencari untung. Tapi ujung-ujungnya malah buntung.

Adanya lingkaran kekuasaan, yang memanfaatkan BUMN menjadi sapi perah. Menambah daftar panjang negara korporatokrasi. Yaitu penguasa yang sekaligus pengusaha. Mereka memimpin hanya untuk mencari keuntungan. Bukan mensejahterakan rakyat.

Dari sinilah semestinya kita sadar bahwa sistem ekonomi kapitalisme telah gagal menjadi tumpuan hidup manusia. Masalah ekonomi muncul di mana-mana. Kehancuran badan usaha ala kapitalis telah merambah berbagai bidang. Maka, tak sepantasnya kita masih berharap pada sistem ini. Tidak ada kebaikan bahkan manfaat yang bisa kita petik.

Oleh karena itu sistem yang hanya dipertahankan oleh orang-orang yang rakus kekuasaan ini tidak akan bertahan lama. Apalagi jika didapat dari persekongkolan dengan para kapitalis. Yang hanya pemenuhan kepentingan saja. Tak akan mementingkan urusan rakyatnya. Masikah berharap dengan sistem seperti ini?

Henyk Nur Widaryanti S

Penulis adalah Pengajar di Universitas Soerjo Ngawi

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya