Berita

Rizal Ramli dan Gus Dur/Net

Publika

Saat Gus Dur Memilih Sosok Yang Mewarisi Keberanian Bung Karno

SENIN, 30 DESEMBER 2019 | 08:16 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SUATU hari di tahun ’40 para kiai terkemuka Nahdlatul Ulama berkumpul di Surabaya melakukan semacam forecasting terhadap gejolak zaman yang waktu itu sedang dilanda oleh kemelut Perang Dunia.

Waktu itu Dai Nippon merajai Perang Asia Timur Raya. Jepang merangsek Asia dan menunjukkan gejala tak lama lagi bakal menduduki Indonesia.

Dalam forecasting itu terbetik satu pembicaraan penting, yakni siapa figur yang pantas didukung oleh Nahdlatul Ulama untuk menjadi pimpinan nasional apabila gejolak perang berimplikasi terhadap kedudukan Indonesia yang ingin segera menjadi negeri yang merdeka dan memiliki pemimpin nasional yang berdaulat.


Para kiai terpandang dan kharismatik tersebut kemudian melakukan semacam “konvensi”, yang dipimpin oleh Kiai Mahfudz Shiddiq, seorang alumni Mekkah terkemuka, ahli debat, dan jago pidato yang pernah menjadi Ketua Oelama Nahdlatul Oelama, dan sempat ditahan di penjara kolonial bersama kakeknya Gus Dur, KH Hasyim Asyari, antara lain lantaran deklarasi Resolusi Jihad.

Para kiai terhormat tersebut memilih nama-nama calon pemimpin nasional yang berasal dari kalangan pergerakan.

Dari sebelas kiai dalam “konvensi” itu, 10 orang memilih Sukarno dan 1 memilih Hatta. Waktu itu Sukarno masih dalam pembuangan di Bengkulu. Sedang Hatta tak kalah perannya dalam dinamika pergulatan politik dan intelektual menuju kemerdekaan republik.

Kenapa Sukarno yang sekuler yang terpilih? Ini antara lain lantaran para kiai terpukau oleh Sukarno yang dapat menemukan titik temu antara Nasionalisme dan Islam, yang menunjukkan adanya kesamaan pola pikir NU yang punya metodelogi yang nyaris sama ialah gemar menyatukan dua hal yang tampaknya berbeda (pluralistik).

Sukarno yang nasionalis dan NU yang agamis ibarat ikan dengan air atau sebaliknya. Bahkan banyak yang mengatakan NU ibarat semangka. Kulitnya hijau tetapi dalamnya merah (nasionalis).

Sukarno tanpa NO (Nahdlatul Oelama) akan sulit menjalankan program politiknya. Bung Karno tanpa NO (Nahdlatul Oelama) mudah sekali guyah dan jatuh, karena kaum nasionalis dan NU ialah tiang-tiang penyangga yang menguatkan.

Waktu Gus Dur naik jadi presiden ia bergandengan dengan simbol nasionalis, Megawati Sukarnoputri sebagai wakilnya.

Di tingkat operasional dan konsepsi perekonomian kabinet; Gus Dur memilih satu nama yang mewarisi sifat keberanian Sukarno dan yang memiliki kesamaan jalan sejarah dengan Sukarno, sama-sama berasal dari kalangan pergerakan, kuliah di ITB, pernah sama meringkuk di penjara Sukamiskin karena melawan otoritarianisme, anti neoliberalisme yang merupakan pintu masuk neokolonialisme & neoimperialisme.

Seorang yang sama-sama berminat terhadap seni, filsafat, sejarah, dan kebudayaan, yang dipercayakan oleh Gus Dur untuk menjadi RI 3, (orang nomor tiga di pemerintahannya setelah RI 1 dan RI 2), sebagai Menko Perekonomian, yang tak lain adalah Dr Rizal Ramli.

Rizal Ramli sendiri yang sejak lama memiliki hubungan batin yang sedemikian erat dengan kaum Nahdliyin mengalami suatu kesamaan riwayat kepedihan hidup sebagaimana pernah pula dialami oleh Gus Dur di masa kanak-kanak.

Rizal yang menjadi yatim piatu sejak berusia delapan tahun mengubah berbagai kepedihan dan kesulitan hidup menjadi tantangan dan peluang untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Ia tumbuh menjadi pribadi yang optimistis meski diasuh oleh sang nenek yang buta huruf, di sebuah kota kecil, Bogor, jauh dari tanah kelahirannya, Minangkabau.

Waktu kuliah di ITB tahun ‘70-an ia tak punya cukup uang, sehingga menyambi bekerja dengan jadi mandor kuli percetakan di kawasan Kebayoran. Masih tak mencukupi Rizal bersama teman menjadi penerjemah sambil mengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah anak-anak orang asing yg bekerja di Bandung.

Dari belajar ilmu fisika di ITB Rizal melanjutkan studi beasiswa di Jepang, dan kemudian ilmu ekonomi di Boston, Amerika. Ia hingga kini satu-satunya doktor bidang ekonomi yang konsisten menyuarakan keberpihakan dan membuktikan tindakannya berpihak kepada rakyat kecil, seperti kepada petani, nelayan, dan kaum Marhaen lainnya, serta para wong cilik, yang umumnya merupakan Nahdliyin kultural.

Di dalam maupun di luar kekuasaan Rizal Ramli tidak berubah. Mendiang ayahnya, Ramli, memberinya nama Rizal Ramli. Rizal dalam bahasa Arab berarti laki-laki. Akar kata dari Arrijal, Rajul.

Nama ini memiliki banyak arti yang baik yang juga mengandung kata sifat: keberanian, kepahlawanan, kejantanan, konsistensi, dan pengorbanan.

Di dalam khazanah Islam yang mulia terdapat pula sebutan yang luhur yang dinamakan ‘’Rijalud Dakwah’’ atau Lelaki Dakwah. Adalah lelaki yang senantiasa siap sedia untuk berjuang dan berkorban di jalan Illahi untuk perubahan yang lebih baik di dalam masyarakat.

Penulis adalah wartawan senior

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya