Berita

Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj/Net

Politik

Pengakuan Ketum PBNU Bikin Warga NU Kultural Kaget

SABTU, 28 DESEMBER 2019 | 23:58 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pengakuan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj yang menyebut warga Nahdliyin hanya dimanfaatkan suaranya oleh pemerintah saat Pilpres 2019 lalu ditinggal, membuat kaget warga NU (Nahdliyin) di akar rumput.

Pasalnya, NU bukanlah partai politik yang berkewajiban mendukung salah satu pasangan calon (paslon) pada Pemilu lalu.

Begitu kata pengamat politik dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta, Sabtu (28/12).


"Khittah NU itu tak berpolitik. Hanya mendidik umat. Pengakuan ketua PBNU tentu membuat jemaah NU di bawah, terutama NU kultural, kaget," ujar Adi.

Sebab, lanjut Adi, NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia hanya melakukan kerja-kerja yang berorientasi untuk mendidik umat. NU tidak pernah berafiliasi dengan partai hingga calon presiden manapun.

"Kerja-kerja NU lillahi ta'ala untuk perbaikan dan kemajuan umat. Di desa-desa, jemaah NU nggak ngerti apa-apa soal politik. Mereka hanya tahu bagaimana hidupnya terus berlanjut, bisa sekolahkan anak ke pesantren," demikian Adi yang juga Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini.

Sebelumnya, beredar di media sosial potongan video pernyataan Said Aqil saat berbicara dalam wisuda mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Parung, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Video berdurasi 32 menit 2 detik tersebut diunggah di channel Youtube, NU Channel, sehari setelah wisuda mahasiswa Unusia.

Di bagian akhir video, Said Aqil mengatakan,
"Ketika Pilpres suara kita dimanfaatkan. Tapi ketika selesai, kita ditinggal."

Pernyataan Said Aqil itu pun mendapat kritikan dari orang dekat almarhum Gus Dur, Rizal Ramli.

Ia bahkan menyebut pengurus formal NU (PBNU) telah membuat ormas Islam terbesar di dunia menjadi sempit. Kata Rizal, pemimpin formal NU menjadikan NU sebagai "kendaraan dinas" pemerintah.

"Pemimpin-pemimpin formal NU membuat NU menjadi kecil dengan menjadikannya sekadar kendaraan sewaan, bahkan bersedia pakai plat merah. Padahal akar NU adalah plat hitam, organisasi masyarakat yg berjuang untuk keadilan dan kemakmuran rakyat," ucap Rizal dalam cuitan di akun Twitter-nya. 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya