Berita

Fahira Idris/RMOL

Politik

Jika Institusi Negara Diam, Warga Dunia Yang Harus Kecam China Soal Uighur

SENIN, 23 DESEMBER 2019 | 11:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Walau gelombang protes terhadap perlakuan represif dan kebijakan tidak manusiawi yang dialami etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya di wilayah Xinjiang semakin besar dan meluas, tetapi Pemeritah China terus menutup telinganya.

Sebagai negara berpaham komunis, memang tidak ada ruang bagi rakyat China untuk mengkritik kebijakan pemerintahnya.

Hal yang sama dilakukan China kepada warga dunia yang mengkritik mereka soal Uighur. Sikap acuh, arogansi, tidak mau mendengar apalagi menanggapi protes keras dunia juga dikarenakan China merasa sudah menjadi negara adidaya.


Anggota DPD RI Fahira Idris mengungkapkan, karena merasa adidaya dan banyak negara dunia sudah "tunduk" baik karena utang maupun investasi, China sama sekali tidak peduli terhadap protes warga dunia.

Perlakuan represif dan kebijakan tidak manusiawi yang dialami etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya di wilayah Xinjiang mereka anggap urusan domestik dan kebijakan yang wajar sehingga negara lain tidak boleh ikut campur.

"Bahkan mereka menyebar ancaman balik ke banyak negara dan warga dunia yang berani protes. Ini bentuk arogansi yang luar biasa dan arogansi seperti ini harus dihentikan. Warga dunia harus terus bersuara, harus terus protes dan harus terus mengecam. Kekuatan bersuara ini lebih dahsyat dari kekuatan ekonomi yang dimiliki China," kata Fahira, Senin (23/12).

Menurunya, banyak kajian ilmiah dari berbagai lembaga dunia yang menyatakan bahwa tidak lama lagi ekonomi China akan menyalip Amerika. Salah satu bukti nyata kekuatan ekonomi China adalah negara berpenduduk 1,3 miliar ini menjadi kreditor resmi terbesar melampaui IMF atau Bank Dunia karena mampu memberi pinjaman (utang) ke ratusan negara.

Sementara dari sisi investasi, bank-bank China mendanai proyek-proyek infrastruktur besar di 78 negara di seluruh dunia. Tidak heran banyak negara yang juga menutup mata dan telinganya atas apa yang terjadi di Xinjiang termasuk negara-negara berpenduduk muslim.

Tujuan penguasaan ekonomi dunia ini, lanjut Fahira, adalah agar banyak negara berpihak kepada China saat mereka memutuskan kepentingan nasionalnya terkait dengan isu-isu kebijakan salah satunya soalnya Uighur.

"Jika institusi negara sudah tidak bisa diharapkan, maka warga dunia lah yang harus mengambil peran untuk terus mengecam sembari mendesak PBB dan negara-negara yang sudah punya sikap tegas terkait Uighur untuk memberi sanksi kepada China," pungkas Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR ini.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Dapur Emak-emak Dipastikan Terdampak Perang Timur Tengah

Kamis, 05 Maret 2026 | 05:39

Kematian Siswa di Bengkulu Utara Tidak Terkait MBG

Kamis, 05 Maret 2026 | 05:15

Pelaku Penculikan Satu Keluarga di Jombang Berhasil Diringkus Polisi

Kamis, 05 Maret 2026 | 04:59

Perdagangan, Kapal dan Selat Hormuz

Kamis, 05 Maret 2026 | 04:39

Komnas Haji Desak KY Ikut Pantau Sidang Praperadilan Gus Yaqut

Kamis, 05 Maret 2026 | 04:15

DPRD Kota Bogor Terima Curhatan soal Syarat Pengurus RT/RW

Kamis, 05 Maret 2026 | 03:59

Kesalahan Oknum Polisi Jangan jadi Alat Menyerang Institusi

Kamis, 05 Maret 2026 | 03:40

Pelaku Pembunuhan Bocah di KBB Dijerat 20 Tahun Penjara

Kamis, 05 Maret 2026 | 03:21

Rocky Gerung: Damai Adanya di Surga, Perang Pasti akan Berlanjut

Kamis, 05 Maret 2026 | 02:55

DPRD Kota Bogor Godok Aturan Baru Penyelenggaraan Kesehatan

Kamis, 05 Maret 2026 | 02:33

Selengkapnya