Berita

Pertemuan empat pemimpin negara di Paris/BBC

Dunia

Rusia Dan Ukraina Satu Suara Terapkan Gencatan Senjata Di Wilayah Konflik

SELASA, 10 DESEMBER 2019 | 06:58 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Dua negara tetangga, Rusia dan Ukraina menemukan kata sepakat untuk menerapkan gencatan senjata yang lengkap dan komprehensif di wilayah Ukraina timur pada akhir 2019 ini.

Kesepakatan itu dibuat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertatap muka untuk pertama kalinya di Istana Elysee Paris Perancis awal pekan ini (Senin, 9/12). Negosiasi yang digelar keduanya ditengahi oleh pemimpin Perancis dan Jerman.

Dalam sebuah pernyataan tertulis, kedua negara sepakat untuk membebaskan dan menukar semua tahanan terkait konflik pada akhir tahun ini.


Kedua pihak juga berjanji untuk melepaskan pasukan militer di tiga wilayah tambahan Ukraina pada akhir Maret 2020, tanpa menyebutkan wilayah mana yang akan terpengaruh.

Pada konferensi pers setelah pembicaraan tersebut, Putin memuji pembicaraan itu sebagai langkah penting menuju de-eskalasi konflik.

Sementara itu, Zelensky mengatakan, meski kesepakatan dibuat, masih ada sejumlah ketidaksepakatan dalam bidang lain. Dia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan membuat konsesi teritorial dengan imbalan perdamaian.

Selain itu, Rusia dan Ukraina juga tetap tidak menemukan kata sepakat mengenai masalah lain seperti penarikan mundur pasukan Rusia, dan pemilihan umum di wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki oleh pemberontak separatis.

Hal itupun diakui oleh Presiden Perancis Emmanue Macron yang menegahi pembicaraan.

"Kami melihat perbedaan hari ini," kata Macron.

"Kami tidak menemukan solusi ajaib, tetapi kami telah maju di atasnya," tambahnya seperti dimuat BBC.

Diketahui bahwa konflik lima setengah tahun antara pasukan pemerintah Ukraina dan pemberontak yang didukung Rusia telah menewaskan 13.000 jiwa di wilayah Ukraina timur.

Konflik bermula dari separatis pro-Rusia menguasai sebagian besar wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur pada April 2014, tepat setelah aneksasi Rusia atas semenanjung Krimea.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Harga Minyak Dunia Menetap di Level 84 Dolar AS

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:17

Kejaksaan Agung Casablanca Bebaskan A.M. demi Jaga Objektivitas Proses Hukum

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:16

Usulan Nasdem Naikkan Ambang Batas Diduga untuk Jegal PSI

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:14

Komisi XII DPR: Kelangkaan BBM di Sumut Bukan Persoalan Biasa

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:58

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Dolar AS Melemah ke Rp17.943

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:45

Pertarungan Bisnis Adidas-Nike dan Pundi Pundi FIFA di Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:44

Pulau Baai Butuh Solusi Permanen, Bukan Pengerukan Berulang

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:39

Emas Antam Anjlok Rp27.000, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:31

Bobby Adhityo Dicecar KPK soal Pengaturan Temuan Audit BPK

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:26

Terungkap, 307 Ribu QR Code BBM Subsidi Bermasalah Diblokir

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:17

Selengkapnya