Berita

Protes di Kolombia/Net

Dunia

Penjarahan Warnai Gelombang Protes Anti-Pemerintah Di Kolombia

MINGGU, 24 NOVEMBER 2019 | 07:55 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ribuan pengunjuk rasa dibubarkan oleh gas air mata di tengah unjuk rasa yang terjadi di ibukota Kolombia, Bogota pada akhir pekan ini (Sabtu, 23/11). Ini adalah hari ketiga berturut-turut pengunjuk rasa turun ke jalanan untuk menyuarakan protes terhadap pemerintah.

Para pengunjuk rasa menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah. Mereka geram dengan sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Ivan Duque, termasuk rencana ekonomi, lemahnya pemberantasan korupsi serta pembunuhan aktivis hak asasi manusia yang masih terus terjadi.

"Saya menentang penindasan, pelecehan, agresi, dan penganiayaan yang dilakukan pemerintah," kata salah seorang pengunjuk rasa di Bogota yang juga merupakan pensiunan, Claudia Rojas.


"Lebih dari segalanya saya menentang reformasi tenaga kerja, pensiun dan kesehatan yang diinginkan pemerintah," sambungnya seperti dimuat Reuters.
Kolombia sendiri bergabung dengan negara-negara di Amerika Selatan lainnya yang harus menghadapai unjuk rasa di jalanan. Aksi protes jalanan dimulai pada Kamis (21/11) di mana lebih dari 250 ribu orang turun ke jalan melakukan aksi protes nasional. Mereka menyuarakan ketidakpuasan yang tumbuh atas pemerintah Duque.

Aksi tersebut menyebabkan tiga orang meninggal dunia karena terkait dengan dugaan penjarahan. Pihak berwenang masih menyelidiki kasus tersebut.

Sehari setelahnya, ribuan orang kembali berkumpul di jalanan untuk menggelar aksi protes yang disebut dengan "cacerolazo". Itu adalah protes tradisional Amerika Latin di mana orang-orang membenturkan panci dan wajan.

Pasca munculnya gelombang protes, pemerintah di ibukota memberlakukan jam malam mulai jam 9 malam hingga jam 5 pagi.

Duque menegaskan bahwa polisi dan tentara akan melakukan patroli terus-menerus untuk mencegah vandalisme lebih lanjut, setelah dua malam gangguan menyebabkan puluhan stasiun angkutan umum rusak, beberapa toko dijarah dan banyak penduduk panik akan keselamatan mereka.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya