Berita

Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar/Net

Dunia

Ancam Negara Yang Beli S-400 Dari Rusia, India: AS Tak Berhak Dikte Kami

SELASA, 01 OKTOBER 2019 | 16:26 WIB

India akan tetap melanjutkan pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. Meski Amerika Serikat sudah mengeluarkan ancaman sanksi bagi negara yang membeli persenjataan dari Rusia. Di mata India, AS sama sekali tak punya hak mengatur mereka.

"Kami selalu menyatakan bahwa apa yang kami beli adalah hak yang sangat berdaulat. Kami tidak ingin AS memberi tahu kami apa yang harus dibeli atau tidak dibeli dari Rusia," ketus Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar saat melakukan kunjungan ke AS seperti yang dilansir TASS, Selasa (1/10).

Jaishankar juga mengungkapkan bahwa kebebasan memilih itu hak setiap negara. Namun, ia juga mengatakan India dan AS sedang mendiskusikan kekhawatiran AS perihal pembelian S-400.


Diketahui, pada 2015 lalu, India telah mengumumkan rencana untuk membeli kembali sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. Rencana tersebut baru terealisasi dengan kontrak senilai 5,43 juta dolar AS yang ditandatangani oleh kedua belah pihak selama kunjungan Presiden Rusia, Vladimir Putin ke India pada 2018.

Kesepakatan tersebut sontak membuat AS marah. AS kemudian mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang membeli senjata dan peralatan militer dari Rusia.

Bukan hanya India, Turki juga telah sepakat untuk membeli S-400 buatan Rusia. Hal yang juga membuat AS geram dan menarik kesepakatan penjualan pesawat tempur canggih F-35 kepada Turki.

S-400 Triumf sendiri adalah sistem rudal antipesawat jarak jauh paling canggih yang mulai beroperasi pada 2007. S-400 Triumf dirancang untuk menghancurkan rudal pesawat, jelajah, dan balistik, termasuk rudal jarak menengah. Sistem S-400 dapat mengincar target dalam jarak 400 km dengan ketinggian maksimal 35 km.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya