Berita

Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo/Net

Politik

Cerita Di Balik Doa Saras Yang Dihapuskan

JUMAT, 27 SEPTEMBER 2019 | 16:39 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

. Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo  telah menuliskan kisah itu. Kisah tentang doa yang dihapuskan dalam Rapat Sidang Akhir Masa Jabatan MPR RI periode 2014-2019, Jumat (27/9).

Ia mendapatkan kabar dari Fraksi Gerindra di MPR bahwa dirinya ditugaskan untuk membaca doa di akhir sidang yang dipimpin Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Nama Saras diajukan oleh Sekretaris Fraksi Gerindra di MPR, Elnino M. Husein Mohi.


Demi memenuhi tugas, Saras menyusun doa itu sebaik mungkin hingga pukul 2.00 dinihari tadi.

Namun di pagi hari, di ruang rapat dirinya menerima kabar Ketua MPR Zulkifli Hasan keberatan bila Saras yang membacakan doa. Tidak dijelaskan alasan keberatan itu.

Penjelasan Saras mengenai doa yang dihapuskan itu beredar di jejaring media sosial. Bunyinya:

“Kemarin saya mendapatkan kabar oleh pimpinan Fraksi MPR Partai Gerindra bahwa saya diberikan tugas untuk membacakan doa di sidang dan forum lembaga tertinggi negara hari ini. Jujur, saya kaget dan sangat gugup sampai badan gemeteran karena tekanan yang luar biasa menyadari bahwa ini artinya akan adanya perempuan pertama dan non-Muslim pertama yang akan membacakan doa di sidang terhormat ini.

Saya terkagum akan pimpinan saya yang laki-laki dan Muslim, Bpk. Elnino M. Husein Mohi, yang telah berani mengajukan saya kepada para pimpinan yang lainnya untuk tugas mulia ini dan akhirnya disepakati dan didukung penuh. Ini menjadi cermin Keadilan Sosial dan Bhinneka Tunggal Ika yang hidup dan nyata. Bangga menjadi bagian dari sejarah.

Saya kerjakan dan tuliskan doa sampai pkl 02:00 dini hari ingin memastikan doa ini bisa menggambarkan harapan kami para wakil rakyat untuk Indonesia ke depan, yang berfokus pada 4 konsensus dasar negara: Pancasila, NKRI, UUD NRI 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pagi hari setiba saya di ruang rapat, saya didatangi oleh ketua dan sekretaris fraksi yang memberikan kabar kalau Ketua MPR yang terhormat melayangkan keberatan.

Saya ajukan jika beliau keberatan karena saya perempuan, silahkan anggota legislatif laki-laki Kristiani yang lain yang bacakan doa yang sudah saya tuliskan. Namun dengan demikian pun, akhir kabar, doa dihapus dari rundown acara.

Doa yang menjadi bagian resmi dari sidang MPR RI. Begitu kagetnya dan sakit hatinya saya atas perlakuan ini dan kenyataan di forum lembaga tertinggi negara ini, di mana merupakan tugas kita sebagai benteng pertahanan persatuan bangsa ini, untuk membumikan 4 konsensus dasar negara, justru perwakilan perempuan dan non-Muslim tidak diberikan ruang untuk membacakan doa untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Saat Indonesia Raya dinyanyikan, air mata tidak tertahankan lagi. Setelah saya jelaskan di medsos group Fraksi, para pimpinan mendukung sikap saya, dan dimulai dari Bpk. Sufmi Dasco dan Bpk. Heri Gunawan, lalu saya, kami jalan keluar sebagai sikap kami pada pemikiran pimpinan sidang. Air mata tak kunjung berhenti dengan setiap langkah yang saya ambil berjalan keluar dari sidang penutup masa jabatan saya sebagai Anggota MPR RI.

Pertanyaan saya kepada Bpk. Zulkifli Hasan yang saya hormati, apakah yang bermasalah karena saya perempuan? Atau karena saya non-Muslim?”

Pertanyaan saras itu belum menemui jawaban. Di akhir sidang, Zulkifli Hasan menutup dengan pantun.  

Sementara Sekretaris Fraksi Gerindra di MPR, Elnino M. Husein Mohi dalam penjelasannya di sebuah grup WA mengatakan, awalnya dia yang ditugskan membaca doa penutup.

Lalu, Elnino mengusulkan agar doa dibacakan Saras. Menurut Elnino, usul itu disampaikannya dengan dua pertimbangan utama.

Pertama, untuk membumikan 4 konsensus dasar nasional, terutama di MPR yang merupakan lembaga penanggungjawab jalannya 4 pilar tersebut.

Selain itu, sebut Elnino, Saras adalah representasi perempuan, orang muda, non muslim, yang hampir tidak pernah dapat kesempatan memimpin doa di MPR. 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya