Berita

Donald Trump/Net

Publika

Donald Trump Dipermainkan Taliban

MINGGU, 08 SEPTEMBER 2019 | 19:17 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

PEMILU tahun depan di Amerika akan memberikan kesempatan bagi petahana Presiden Donald untuk dipilih kembali oleh rakyatnya untuk masa jabatannya yang kedua. Tentu tidak mudah baginya, bila merujuk pada kemenangannya pada pemilu lalu.

Meskipun Trump kalah banyak dalam mengumpulkan suara dengan lawannya Hillary Clinton pada saat itu, akan tetapi aturan yang ada yang dikenal dengan Electoral Collegge System menyebabkan dirinya ditetapkan sebagai pemenang.

Setelah pemilu usai, tuduhan keterlibatan dan campur-tangan Rusia yang membantu kemenangannya terus menjadi perbincangan warga Amerika, disebabkan lembaga-lembaga yang berwewenang terus melakukan penyelidikan atas tuduhan ini.


Sebagai petahana tentu Trump bisa memanfaatkan posisinya sebagai orang nomor satu di Gedung Putih dan bagaimana memainkan berbagai kebijakan negara, dalam rangka  merebut hati para pemilik suara.

Salah satu isu yang kini sedang dimainkannya adalah lamanya tentara Amerika di Afghanistan, dan besarnya biaya yang harus ditanggung negara (diperkirakan 30 miliar dolar AS per tahun yang sudah berlangsung selama 18 tahun), ditambah besarnya korban yang diderita baik berupa prajurit yang meninggal, luka-luka, cacat fisik maupun gangguan jiwa.

Jika Trump berhasil membawa pulang para prajuritnya yang kini tidak tahu lagi untuk apa mereka berada di gurun tandus yang sangat jauh dari tanah kelahirannya, bukan hanya akan menggembirakan keluarga mereka yang lama menanti dengan perasaan cemas, tentu juga akan melegakan hati seluruh rakyatnya.

Hal ini bisa diklaim sebagai bagian dari prestasinya saat kampanye, dan memberikan alasan tambahan mengapa rakyatnya harus memilih dirinya kembali, saat menuju bilik-bilik suara yang dijadwalkan akan berlangsung pada November 2020.

Inilah yang menjadi motivasi utama Trump mengirim Zalmay Khalilzad dan timnya bolak-balik sebanyak 9 kali antara Washington-Doha. Dalam rentang waktu setahun, untuk bertemu tokoh-tokoh utama Taliban yang berkantor di ibukota Qatar ini.

Setelah mengantongi kesepakatan, Khalilzad langsung terbang ke Kabul untuk bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Khalilzad menyampaikan pokok-pokok kesepakatan yang dibuatnya dengan Taliban  yang hanya menunggu persetujuan resmi Presiden Donald Trump.

Khalilzad dikabarkan keberatan atas keinginan pemerintah di Kabul menggandakan kesepakatan tersebut, dan ia hanya menunjukkan kesepakatan tersebut sejenak kepada sang Presiden.

Tentu Ashraf Ghani kecewa berat, mengingat dirinya dan pemerintahan di Kabul yang dipimpinnya tidak dilibatkan dalam perundingan tersebut. Ghani bukan saja merasa telah ditinggal, akan tetapi juga sebagai kepala negara sangat dilecehkan.

Setelah memberikan penjelasan kepada Presiden Ghani, Khalilzad lalu memberikan penjelasan kepada wartawan TV Tolo News tentang maksud kedatangannya ke Kabul, dan hasil pertemuannya dengan para petinggi Afghanistan yang dihadiri Presiden Ghani.

Naas bagi Khalilzad, karena pada saat bersamaan Taliban melakukan berbagai serangan mematikan di Kabul dan di sejumlah kota di wilayah Utara Afghanistan seperti Kunduz dan Pul e-Khumri. Serangan ini menyebabkan paling tidak 12 orang tewas, termasuk prajurit Amerika bernama Elis A Barreto Ortiz.

Jelas serangan yang diakui oleh Taliban ini, dilakukan dengan perencanaan yang matang, untuk memberikan pesan politik yang sangat jelas dan kuat, baik kepada pemerintah Amerika maupun pemerintahan di Kabul yang dituduhnya sebagai boneka Amerika.

Paling tidak ada dua pesan yang ingin disampaikan: Pertama, kepada pemerintah di Washington, bahwa penarikan prajurit Amerika dari Afghanistan, tidak berarti perjuangan bersenjata Taliban usai.

Pesan kedua, kepada pemerintah di Kabul, bahwa setelah prajurit Amerika angkat kaki, sasaran berikutnya adalah mereka.

Tampaknya Taliban yang menyebut dirinya dengan Islamic Emirate of Afghanistan (IEA) akan terus berjuang menggunakan senjata, sampai kembali memerintah di Afghanistan.

Perkiraan ini sejalan dengan analisa Michael Rubin yang ditulisnya di The National Interest dengan judul: The Afghanistan War Is Over, and Pakistan Has Won.

Inilah sebabnya Presiden Donald Trump yang sudah mempersiapkan diri sebagai tuan rumah, untuk merayakan keberhasilannya membawa pulang para prajuritnya dengan selamat dan damai, dengan cara mengundang tokoh-tokoh Taliban dan Presiden Ashraf Ghani di Kamp David, Maryland, yang dijadwalkan pada Minggu (8/9/2019) dibatalkan dengan mendadak.

Penulis adalah pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya