Berita

Foto: Ilustrasi

Muhammad Najib

Transisi Demokrasi Di Sudan Dimulai

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 | 17:24 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SETELAH rezim militer otoritarian  Omar Basyir tumbang pada Kamis (11/4/2019), muncul ketidakpastian politik di Sudan. Rezim militer yang mengambilalih kekuasaan, walaupun telah mendeklarasikan diri hanya akan mengendalikan kekuasaan sementara, terus mendapat tantangan dari kelompok pro-demokrasi.

Tarik-menarik antara penguasa militer di ibukota Khartum dengan kelompok pro-demokrasi terus berlangsung selama berbulan-bulan, yang menelan korban masyarakat sipil, baik yang luka-luka maupun meninggal dunia.

Pada Ahad (4/8/2019) di ibukota Khartum akhirnya ditandatangani kesepakatan antara penguasa militer sementara dengan kelompok pro-demokrasi. General Mohamed Hamdan mewakili Transisional Military Council (TMC) dan Ahmed Rabie mewakili kelompok pro-demokrasi, disaksikan oleh perwakilan mediator dari Ethiopia dan organisasi Uni Afrika  (AU).


Hal-hal yang disepakati kedua belah pihak antara lain: Pertama, akan dibentuk pemerintahan sipil selama masa transisi, yang akan diberikan mandat minimal 3 tahun.

Kedua, disamping mendapatkan mandat untuk mengelola kekuasaan di masa transisi, pemerintahan sipil sementara ini, juga mendapatkan tugas untuk melaksanakan pemilu, dalam rangka membentuk pemerintahan yang definitif.

Ketiga, Perdana Mentri akan dipilih dari kelompok pro-demokrasi yang akan di usulkan oleh Forces of Freedom and Change  (FFC), sedangkan untuk Mentri Pertahanan dan Mentri Dalam Negri akan diangkat dari kelompok militer.

Merujuk pada tesis yang dikemukakan Samuel P. Huntington, jika masa 'transisi demokrasi' berhasil dilaksanakan dengan baik, maka Sudan akan memasuki tahapan 'konsolidasi demokrasi'.

Konsolidasi demokrasi merupakan keadaan dimana sebuah negara berada dalam sistem demokrasi yang mapan. Situasi ini baru akan dicapai, bila sebuah negara yang mengalami transisi demokrasi berhasil melaksanakan pemilu yang jurdil dua kali berturut-turut.

Sebagai salah seorang yang diakui sebagai pakar teori tentang demokrasi yang cukup menonjol di dunia sampai saat ini, Huntington juga berpendapat bahwa negara yang pernah mengalami demokrasi akan lebih mudah untuk kembali menjadi demokratis, dibanding negara yang sama sekali belum pernah mengimplementasikan demokrasi.

Sudan beruntung, karena pernah mengimplementasikan demokrasi, walau tidak berlangsung lama. Saat Sadiq Al Mahdi sebagai Perdana Mentri (1966-1967) dan 1986-1989), rakyat Sudan telah menikmati demokrasi.

Jika Arab Spring gelombang pertama, kelompok pro-demokrasi hanya berhadapan dengan rezim otoritarian setempat. Pada Arab Spring gelombang kedua, kelompok pro-demokrasi disamping berhadapan dengan rezim otoritarian setempat, juga harus berhadapan dengan kekuatan regional anti demokrasi, terutama Saudi Arabia dan Mesir.

Meskipun menghadapi tantangan yang lebih berat, Sudan tetap berhasil muncul sebagai negara di kawasan Middle East and North Africa  (MENA) yang memasuki gerbang 'transisi demokrasi'.

Jika pada Arab Spring gelombang pertama, hanya berhasil mengantarkan Tunisia memasuki gerbang 'transisi demokrasi', sementara yang lainnya seperti Yaman, Suriah, dan Libia sampai sekarang masih bergolak, terperangkap ke dalam perang saudara berkepanjangan.

Pada Arab Spring gelombang kedua, telah berhasil mengantarkan Sudan ke gerbang 'transisi demokrasi', dan ada tanda-tanda Aljazair akan menyusul mengikuti jejak tetangganya sebagai bagian dari negara-negara Arab di Afrika Utara.

Meskipun bergerak  lamban dan berdarah-darah, tampaknya proses demokratisasi di negara-negara Arab tidak akan terbendung.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Indonesia Siap Fasilitasi Dialog Junta dan Kelompok Etnis Myanmar

Kamis, 16 Juli 2026 | 14:07

Status Tersangka Febrie Adriansyah Sempat Diralat, Yusril Harap Kejagung On The Track

Kamis, 16 Juli 2026 | 14:05

Kemlu Pastikan Penutupan Bandara di Arab Saudi Tak Berdampak pada Jemaah Umrah Indonesia

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:51

Prabowo Resmikan Groundbreaking PSN LNG Abadi Masela dari Istana

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:47

Kemlu Ungkap Kondisi Terkini WNI Usai AS Kembali Menyerang Iran

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:45

Pemerintah Siapkan Pajak 0 Persen hingga 50 Tahun untuk Pengusaha

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:43

Menko PM Dorong USG Jadi Pusat Lahirnya SDM Unggul Indonesia

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:23

Imparsial Desak Perpres Nomor 66/2025 Dicabut

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:23

Mendagri Pilih Bungkam soal Fenomena Sekolah Sepi Murid

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:22

Lionel Messi Bawa Argentina ke Final Piala Dunia 2026

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:14

Selengkapnya