Berita

Duterte dan Xi Jinping/Net

Dunia

Jawab Keraguan Oposisi, Duterte Bakal Temui Xi Jinping Untuk Bahas Sengketa Laut China Selatan

RABU, 07 AGUSTUS 2019 | 15:54 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan melakukan kunjungan ke China untuk menemui Presiden Xi Jinping sebelum akhir bulan ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara kepresidenan, Salvador Panelo  dalam konferensi pers di Manila seperti yang diberitakan oleh Al Jazeera, Selasa (6/8).
Menurut Panelo, kunjungan Duterte ke China merupakan sebuah pembuktian dari tudingan bahwa Duterte telah mengesampingkan wilayah kedaulatan Filipina demi 'menjaga' hubungan baiknya dengan Xi Jinping.

Diketahui, pada tahun 2016, Pengadilan Arbitrase Permanent (PCA) di Den Haag memutuskan China tidak memiliki hak atas wilayah Laut China Selatan dan China telah melanggar kedaulatan wilayah Filipina.

Diketahui, pada tahun 2016, Pengadilan Arbitrase Permanent (PCA) di Den Haag memutuskan China tidak memiliki hak atas wilayah Laut China Selatan dan China telah melanggar kedaulatan wilayah Filipina.

Putusan pengadilan ini merujuk pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1982. Namun, hasil putusan ini tidak diakui oleh China yang tetap melakukan manuver-manuver di LCS.

Tidak diikutinya aturan dari PCA oleh China menimbulkan kecurigaan di oposisi Duterte, di mana Duterte sangat dikenal sebagai seseorang yang dekat dengan China, khususnya Xi Jinping. Meski demikian, pihak Duterte menentang hal tersebut.

Buktinya, Filipina sudah mengajukan dua kali protes diplomatik terhadap China, salah satunya ketika rombongan kapal nelayan China yang berjumlah 100 kapal berada di dekat pulau kecil milik Filipina. Duterte mengatakan bahwa akan ada saatnya untuk membicaraan perihal arbitrase dengan China.

"Ini saatnya. Itu sebabnya aku (Duterte) pergi ke sana (China)," ujar Panelo yang mengutip ucapan Duterte.

Selain membahas arbitrase 2016, kunjungan Duterte ke China juga akan membahas kelanjutan negosiasi "60-40" terkait cadangan energi yang ada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina.

Duterte diketahui memang telah lama menyatakan ia tidak akan mengambil risiko berperang dengan China, namun ia sangat menekan China terkait atas klaim nine-dash-line yang memotong wilayah kedaulatan Filipina.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya