Berita

Gus Dur/Net

Publika

Makin Cogreg Dan Gus Dur

MINGGU, 16 JUNI 2019 | 12:51 WIB

COGREG, sebuah Desa di Kecamatan Parung sana ada yang menarik. Dimana ada sekumpulan komunitas Tionghoa Peranakan yang begitu konsisten melestarikan budaya leluhurnya. Mungkin dugaan saya sekitar 30-50 Kepala Keluarga saja. Disana terdapat sebuah MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia). Hari ini Makin tersebut ulang tahun, umurnya baru 12 tahun, begitu yang tertulis di undangan.

Orang Cogreg sebelum punya MAKIN sendiri mereka biasa ‘kebaktiannya’ di MAKIN Cibinong Gunung Sindur, yang terletak di desa sebelahnya.

Semenjak 12 tahun lalu, komunitas Khonghucu Cogreg mulai mendirikan tempat ibadahnya sendiri. Itu artinya itu dibuat pasca era reformasi yaitu sesudah Gus Dur menjadi Presiden. Seperti kita ketahui Gus Dur adalah seorang hero bagi komunitas Khonghucu, bahkan ia setara dengan Sinbeng Kwan Kong yang terkenal sebagai pahlawan pemegang teguh kebenaran pada jaman Tiga Negara di Tiongkok.


Tanpa Gus Dur komunitas Khonghucu Indonesia tidak mungkin menikmati kebebasannya seperti sekarang ini. Gus Dur adalah pahlawan terhebat yang pernah dimiliki umat Khonghucu dan etnis Tionghoa di Indonesia, di zamannyalah Barongsai, Imlek, Nama Tionghoa boleh kembali digunakan setelah 32 tahun lamanya di ‘penjara’ oleh Soeharto

Ada cerita menarik bagaimana Gus Dur membantu komunitas Khonghucu untuk melaksanakan Imlek Nasional pertama kali di Indonesia ketika ia menjadi presiden.

Supaya tidak ada protes dari orang-orang yang merasa berjasa maka saya tidak sebut nama orang-orang MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), sebab menurut MATAKIN semua orang-orang MATAKIN seluruh Indonesia berjasa dalam memperjuangkan Imlek. Suatu kali pernah ada salah seorang suheng di MATAKIN menceritakan kepada saya.

Begini ceritanya: Suatu hari MATAKIN yang memang sudah berkawan lama dengan Gus Dur dipanggil ke istana negara, Gus Dur menyarankan MATAKIN untuk melaksanakan Imlek Nasional yang di buat oleh MATAKIN dan nanti ia sebagai presiden ia akan datang menghadirinya. Tentu saja MATAKIN senang sekali karena inilah kesempatan baik untuk menunjukan sebuah kebebasan beragama yang elegan di bumi Indonesia ini dan tentunya ini merupakan hadiah terindah bagi komunitas Khonghucu dan etnis Tionghoa Indonesia.

Singkat cerita mulailah MATAKIN membentuk panitia Imlek dengan dibantu oleh semua teman-teman elemen tionghoa yang simpati terhadap perjuangan MATAKIN. Setelah semua beres tibalah saatnya mengurus perizinan kepada Mabes Polri dan birokrasi dibawahnya untuk persoalan izin keamanan.

Ternyata ketika menghadap Mabes Polri jawaban Mabes Polri dan birokrasi lainnya  tidak bisa mengeluarkan izin terkait acara tersebut, hal ini karena Imlek yang akan dilaksanakan oleh MATAKIN terbentur oleh Inpres 14/1967, yang isinya melarang adat-istiadat dan budaya Tionghoa serta hanya mengakui lima agama di Indonesia minus Khonghucu.

Bingunglah MATAKIN harus bagaimana? Lalu MATAKIN melaporkan hal ini kepada Gus Dur, mereka menyampaikan bahwa MATAKIN tidak bisa melaksanakan Imlek Nasional karena masih ada Inpres 14/1967 yang menyatakan Khonghucu tidak sah dan melarang adat budaya Tionghoa.

Gus Dur dengan enteng pada hari itu juga, jam itu juga langsung memerintahkan Sekretaris Negara untuk mencabut Inpres 14/1967 tersebut lalu sebagai gantinya ia mengeluarkan Inpres 6/2000 yang intinya mencabut seluruh dari isi Inpres 14/1967. Begitulah Gusdur jika membela orang lain yang lemah. Ia selalu konsisten dan penuh totalitas tinggi dalam berjuang membantu orang lain.

Setelah Inpres itu dikeluarkan maka langsunglah MATAKIN menyodorkan Inpres tersebut kepada pihak-pihak terkait perizinan untuk melaksanakan penyelenggaran Imlek Nasional dan jadilah sejarah mencatat bahwa Imlek Nasional Pertama oleh MATAKIN dihadiri oleh Presiden RI Abdurahman Wahid alias Gus Dur.

Euforia yang begitu meriah bagi komunitas Khonghucu Indonesia semua demikian juga dengan etnis Tionghoa pada umumnya. Etnis Tionghoa yang dulu malu-malu bahkan tidak mau mengakui Imlek sekarang balik badan menikmati hadiah dari Gus Dur dan perjuangan teman-teman MATAKIN.

Gus Dur sekarang telah tiada, jiwa dan semangatnya selalu hadir pada sanubari umat Khonghucu dan etnis Tionghoa Indonesia. Gus Dur defacto menjadi Sinbeng bagi umat Khonghucu dan etnis Tionghoa Indonesia, ia sejajar dengan Kwan Kong (Guan Yu), Gak Hui (Yuefei), Zhuge Liang (Kongming) dan Para Suci lainnya yang dimuliakan oleh umat Khonghucu dan etnis Tionghoa Indonesia.

Menurut ajaran Khonghucu, dia yang berjasa besar buat negara, dia yang berjasa besar bagi banyak umat manusia dan dia yang berjasa besar menyelamatkan dari bencana maka ketika ia menyelesaikan tugasnya di kehidupan ini ia akan paripurna menjadi seorang Sinbeng/Shenming (神明) roh suci yang wajib dimuliakan oleh generasi berikutnya.

Ingat yah ‘dimuliakan’ bukan ‘disembah’. Karena bagi umat Khonghucu menyembah hanya kepada Tian Tuhan YME, sementara bagi para manusia yang berjasa besar maka akan selalu dimuliakan di kelenteng dengan tujuan supaya generasi berikutnya dapat meneladani karya besar mereka.

Selamat ulang tahun MAKIN Cogreg, ada baiknya dalam upacara syukur perayaan HUT MAKIN Cogreg maka kita ajak semua yang hadir untuk mendoakan kebaikan Gus Dur sehingga ia selalu mulia berada di kanan-kiri Hao Tian Shang Di YME. Seperti kata-kata mutiara: “Aku bukannya pergi, melainkan aku hanya ‘pulang’ kembali kepada Nya”

Bagi saya komunitas Khonghucu dan etnis Tionghoa di Cogreg adalah salah satu komunitas Khonghucu yang masih konsisten menjaga tradisi dan budaya Tionghoa yang sangat kental budaya Khonghucunya. Ini mirip dengan budaya orang-orang hokian di Taiwan yang saya sering tonton dalam drama-drama kehidupan di stasiun DAAI TV. Harapan saya tetaplah menjadi Khonghucu Indonesia yang sejati, berjuanglah terus dan berkarya nyata bagi kemanusiaan.

Komunitas Khonghucu di Cogreg harus merasa bangga dengan budaya peranakan mereka, lestarikanlah itu Cokek, Cio Tao dan semua yang baik untuk generasi yang akan datang.

Semoga tahun depan itu jalan disana sudah mulai di beton, agar tidak becek lagi, jika belum juga, ada baiknya kita protes ke Iwan Setiawan sang Wakil Bupati Bogor yang baru terpilih itu. Sebab dulu lagi kampanye Bupati kebetulan ia berkunjung ke Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea dan ia berjanji akan memperjuangkan kepentingan teman-teman Khonghucu di Kabupaten Bogor. Janji tinggal janji, jika tak ditepati maka kita akan datangi.
Kris Tan Penulis adalah Ketum Generasi Muda Khonghucu (Gemaku)

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Prabowo Bidik Produksi Sedan Listrik Nasional Mulai 2028

Kamis, 09 April 2026 | 16:15

Program Magang Nasional Tidak Tersentuh Efisiensi

Kamis, 09 April 2026 | 15:56

BGN Siap-siap Dicecar DPR soal Pengadaan Motor Listrik MBG

Kamis, 09 April 2026 | 15:41

Gedung Kementerian PU Mendadak Digeledah Kejati DKI

Kamis, 09 April 2026 | 15:33

Gibran Dukung Hakim Ad Hoc di Persidangan Andrie Yunus

Kamis, 09 April 2026 | 15:21

Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:19

Prabowo Dorong VKTR Jadi National Champion Industri Otomotif RI

Kamis, 09 April 2026 | 15:08

Jalan Merangkak Demokrasi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:01

Gibran Ajak Deddy Sitorus Sama-sama Berkantor di IKN

Kamis, 09 April 2026 | 14:37

Susun RUU Ketenagakerjaan, Kemnaker Serap Aspirasi 800 Serikat Buruh

Kamis, 09 April 2026 | 14:30

Selengkapnya