Berita

Situasi kacau di Khartoum/CNN

Dunia

Krisis Sudan Bertambah Parah, Pembangkangan Sipil Terus Berkobar

Ada Harapan Kepada Para Perwira Muda
KAMIS, 06 JUNI 2019 | 21:28 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Inilah kabar terbaru dari krisis Sudan. Para pemimpin pro-demokrasi di negara Afrika Utara itu bersumpah meneruskan kampanye pembangkangan sipil sampai dewan militer yang berkuasa digulingkan dan pembunuh para demonstran dibawa ke pengadilan.

Kehadiran pasukan keamanan dalam jumlah sangat besar dilaporkan terlihat di seluruh ibu kota, Khartoum. Pengerahan pasukan itu untuk menggagalkan gelombang demonstrasi baru.

Demikian laporan Washington Post, hari ini. Asosiasi Profesional Sudan mendesak rakyat untuk memblokir jalan-jalan utama dan jembatan untuk "melumpuhkan kehidupan publik" di seluruh negara sebagai pembalasan atas tindakan keras militer.


"Keberhasilan kami tergantung pada kepatuhan kami terhadap protes damai, tidak peduli seberapa keras para milisi kriminal berusaha menyeret kami ke dalam kekerasan," kata asosiasi itu dalam pernyataannya via Facebook.

Pada Rabu kemarin (5/6), kelompok oposisi menyaksikan tentara Sudan mengangkut 40 mayat korban pembantaian dari Sungai Nil di Khartoum. Lebih dari 500 demonstran dilaporkan terluka dalam kekerasan militer.

Sementara, Kementerian Kesehatan yang dikontrol militer Sudan membantah jumlah korban tewas dalam bentrokan tentara dan demonstran mencapai 108 orang. Pejabat Sudan, Soliman Abdel Gaber, mengklaim hanya 46 orang yang tewas dalam kekerasan sepanjang minggu ini.

Bentrokan demi bentrokan meluas ke wilayah lain setelah kelompok demonstran dipukul mundur dari depan markas militer di Khartoum, pada Senin lalu. Para pemimpin protes mengatakan pasukan keamanan melakukan pembunuhan dan pemerkosaan di 13 kota.

Uni Afrika menonaktifkan Sudan dari semua kegiatannya sebagai dampak tindakan keras militer yang membantai para demonstran. Penangguhan atas Sudan akan berlangsung sampai dewan militer Sudan menyerahkan kekuasaan kepada otoritas sipil transisi.

Kepala dewan militer berkuasa di Sudan, Abdel Fattah Burhan, telah menyerukan dimulainya kembali negosiasi dengan para pemimpin protes. Seruan itu langsung ditolak karena para jenderal dianggap tidak serius untuk berunding sementara pasukan mereka terus membunuh demonstran.

Amal al-Zein, seorang aktivis dan pemimpin Partai Komunis Sudan, meyakini krisis itu bisa disudahi hanya oleh perpecahan di tubuh militer, misalnya jika perwira muda menggulingkan atasan mereka di dewan militer yang berkuasa.

"Semua anggota dewan militer milik rezim lama, dan itulah sebabnya kami bertaruh sekarang pada perwira berpangkat rendah. Kami berharap polisi patriotik dan perwira militer akan bertindak untuk melindungi rakyat Sudan," tegas Amal al-Zein.

Para demonstran sudah menduduki wilayah markas militer sejak 7 April, beberapa hari sebelum Presiden Omar al-Bashir digulingkan setelah 30 tahun berkuasa.

Namun mereka kecewa berat ketika militer menyatakan mengambil alih pemerintahan untuk dua tahun ke depan. Oposisi bersumpah untuk melanjutkan protes massal sampai pemerintah transisi sipil terbentuk.

Sebelum tindakan keras pada Senin dimulai, para pemimpin militer dan demonstran telah berunding selama berminggu-minggu untuk susunan dewan transisi yang berfungsi menjalankan negara hingga pemilihan. Para pemrotes menuntut warga sipil mendominasi dewan, yang ditentang para jenderal.

Setelah penumpasan demonstrasi, militer menghentikan pembicaraan dan membatalkan semua poin yang disepakati. Militer berniat membentuk pemerintahan dan mengadakan pemilihan dalam waktu tujuh hingga sembilan bulan.

Tapi, Jenderal Abdel-Fattah Burhan, pada Rabu, tiba-tiba mengumumkan bahwa para jenderal siap melanjutkan negosiasi. Tawaran itu segera ditolak para pemimpin oposisi.

Sementara itu, Uni Afrika menonaktifkan Sudan dari semua kegiatannya sebagai akibat tindakan keras militer yang membantai para demonstran sipil. Penangguhan atas Sudan akan berlangsung sampai dewan militer Sudan menyerahkan kekuasaan kepada otoritas sipil transisi.

Dari Ethiopia, Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika menyatakan, penangguhan Sudan akan tetap berlaku sampai "pembentukan efektif" otoritas transisi yang dipimpin warga sipil sebagai satu-satunya cara untuk memungkinkan Sudan keluar dari krisis saat ini.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:25

Istana Sampaikan Duka Cita atas Gempa NTT, Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:19

Gempa NTT: Gudang Bulog Hancur, Manggarai Butuh 30 Ton Beras

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:02

Akses Jalan Rusak, Komisi V DPR Minta Evakuasi Via Udara Jangkau Korban Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00

Gempa NTT, Komisi V DPR Minta BMKG-Basarnas Konsolidasikan Bantuan SAR dari Provinsi Terdekat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:55

Persiapan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Capai 99 Persen

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:52

Update Gempa NTT: 14 Warga Meninggal Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:41

Purbaya Sebut Dana Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp735 Triliun Tahun Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:38

Komisi V DPR Minta BMKG Aktif Update Situasi Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:32

Terkuak! Alasan Kapal Pesiar Mewah Haji Isam Dipasangi Logo Kemhan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:17

Selengkapnya